Kasih Sayang untuk Adik Tiri

Editorial

by Frasetya Vady Aditya 96465

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Kasih Sayang untuk Adik Tiri

Sekitar 10 tahun silam, aku mulai berkenalan dengan adik tiri yang mulai beranjak dewasa. Ia pandai berkelahi. Kami tak pernah melerai, karena memang tak peduli. Kami malah lebih sering menyemangati.

Kami, bukanlah kakak tiri seperti halnya sinetron drama di televisi. Kami tidak kejam, kok. Kami hanya lelah dengan kelakuan ayah. Ia benarlah kejam, seperti tak punya rasa kasih sayang.

Ayah selalu bilang,"Ini perintah kakek, nak."

Adik tiri benarlah hebat. Ia tak pernah tinggal kelas. Sekolah tempat adik tiri belajar adalah tempat yang keras. Ada unsur politik dan kesengajaan yang dibuat seolah-olah tak terlihat. Namun, ia tetaplah tampak. Adik tiri hampir selalu kalah oleh mereka yang jauh lebih kaya, yang jauh lebih berkuasa.

Kami tahu, adik tiri tak mungkin jadi juara kelas. Terpenting, ia selalu mengalami kemajuan setiap tahunnya. Aku punya sepupu, adik tiri memanggilnya dengan sebutan "Saudara tua"?. Ia jauh lebih hebat dan pintar. Namun, ia tak punya rumah. Setiap ada temannya berkunjung, saudara tua selalu meminjam rumah kami. Ia, dengan seenaknya, menempati rumah kami yang baru direnovasi. Tidak jarang, banyak teman-temannya yang jahil. Mereka mencorat-coret dinding dengan lukisan stensil. Mereka tidak pernah membersihkan toilet saat buang air. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang pipis di kursi! Menjijikkan.

Di sisi lain, Ayah tak punya uang untuk berbenah. Saat ada syukuran dengan tetangga, kami terpaksa tampil seadanya, ya dengan toilet yang `berbau naga`.

Meskipun terlihat arogan, tapi saudara tua masih sayang pada adik tiri. Ia sering mengirimkan bahan makanan agar adik tiri terlihat lebih bergizi, tak kurus lagi.

Lalu, bencana itu muncul. Bos menginginkan ayah tak boleh lagi ikut campur soal biaya hidup adik tiri. Bos mengatakan, adik tiri mestilah mandiri. Ia sudah besar, dan tak harus lagi dibiayai.

Aku merasakan dilema yang teramat dalam. Di satu sisi, aku juga butuh dibiayai, untuk sekolah, makan, dan mandi. Di sisi lain, aku tak tega pada adik tiri. Ia belum cukup mandiri untuk bisa hidup sendiri. Aku khawatir, adik tiri akan mati. Maka, sejak dua tahun lalu, adik tiri tak lagi mendapat perhatian ayah, meski kami berada dalam satu rumah.

Baru aku tahu, kalau adik tiri diasuh oleh mereka yang berasal dari antah berantah. Aku sudah punya firasat kalau adik tiri akan dibawa ke jalan yang tidak benar. Adik tiri tak lagi makan strawberry seperti yang biasa diproduksi di daerah kami. Ayah malah membiarkan strawberry dibawa tetangga. Adik tiri makan sendiri. Entah makan apa, yang jelas makanan itu tak punya nutrisi yang mencukupi.

Akibatnya, adik tiri kini kurus tak terurus. Aku protes pada ayah,

"Ayah, adik butuh makan, kenapa kau tak memberinya uang?"

"Apa peduliku nak, nanti bos marah,"? ayah bersungut.

"Ayah, lihat ke sana, ke rumah kita, adik tiri sudah hampir mati. Ia sebentar lagi turun kelas. Tidak kah engkau merasa iba padanya?" aku bertanya sembari meneteskan air mata.

"Nak, jangankan adik tiri, ibumu saja tak aku perhatikan. Untuk makan saja kita kepayahan."

Ucapan ayah itu membuatku tersadar, kalau adik tiri memang terpinggirkan; nasibnya memprihatinkan.

Kini, adik tiri benarlah tinggal kelas, bersama mereka yang sebenarnya tak layak disejajarkan. Kami punya rumah yang megah. Kami punya baju yang bagus; tapi ayah tak pernah acuh.

Aku masih sayang pada adik tiri. Aku tak pernah membayangkan ayah akan sekejam ini. Mungkin, ayah memang tak bisa melakukan apa-apa, tapi benarkah?

Sebulan lalu, aku bicara pada adik tiri. Aku menyalaminya, lalu memeluknya. Ia sudah lelah hidup dalam keterasingan. Ia sudah lelah hidup dalam keheningan. Aku bisa merasakan getirnya hidup tanpa pegangan. Aku bisa merasakan pedihnya hidup tanpa panutan.

Adik tiri kini kembali. Mulai tahun ini, ayah akan kembali membiayai segala pengeluaran adik tiri. Setidaknya, begitu kata kakek dan Pak Bos. Namun, aku masih belum yakin kemauan ayah akan sebesar mulutnya. Tanpa ayah, adik tiri bisa apa? Saudara-saudaranya, termasuk aku, lebih senang menyaksikan saudara tua pentas. Saudara tua lentur dan gemulai. Ia pintar dan pandai membuat lawan gentar. Namun aku sadar kalau rumahku bukan di sana. Ia cuma saudara sepupu, yang kebetulan lebih hebat segalanya.

Aku menyayanginya, meski tak mampu membiayainya. Aku mencintainya, meski kadang sulit menjangkaunya. Aku seperti kalian yang juga punya adik tiri. Aku tahu perasaan kalian, saat ayah tak lagi peduli. Aku tahu bagaimana rasanya menjadi kalian yang tak bisa apa-apa; untuk melindungi keluarga.

Kini, pada hari yang spesial ini, aku ingin pulang ke rumah yang toiletnya bau pesing, yang keramiknya sudah mulai mengelupas, yang atapnya selalu bocor karena hujan, yang pagarnya keropos karena karat, yang temboknya kuning memudar dan mulai mengelupas.

Aku sudah memesan setangkai bunga mawar dan coklat Silverqueen untuk adik. Ya, uangku tak cukup banyak untuk membeli satu ikat mawar, dengan cokelat Cadbury aku cuma bisa memandangi, sembari menunggu adik kembali.

Sebelum sesal menjadi kesal, aku menuliskan kata-kata di atas kado itu. Kira-kira seperti ini:

Aku mungkin sudah lupa kapan terakhir kali membanggakanmu di hadapan dunia, di hadapan mereka. Aku juga lupa kapan terakhir kali aku, yang tanpa malu, mengenakan jaket bertuliskan namamu sembari berkeliling kota.

Aku sayang kamu, adik tiri. Lekas kembali.



====

Catatan kaki:

Ganti "adik tiri" dengan Persikab; "ayah" dengan Pemerintah Kabupaten Bandung; "saudara tua" dengan Persib Bandung; "kelas" dengan kompetisi sepakbola Indonesia.

Tulisan ini didedikasikan untuk Persatuan Sepakbola Kabupaten Bandung, Persikab, yang turun ke Liga Nusantara pada musim depan. Juga untuk mereka yang kesebelasannya tidak diperhatikan oleh pemerintah daerah. Pemerintah Indonesia dan PSSI mengatur jika kesebelasan yang berlaga di ISL dan Divisi Utama tidak boleh mendapatkan dana dari APBD. Namun, pemerintah daerah sebenarnya masih punya cara lain, misalnya dengan menunjuk BUMD untuk menjadi pemilik kesebelasan. Setidaknya, masih ada rasa kedaerahan sebagai bentuk perjuangan, dan tidak diberikan begitu saja pada mereka yang `entah siapa`.

Komentar