Rodrigo Palacio yang Legendaris

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim Pilihan

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Rodrigo Palacio yang Legendaris

Rodrigo Palacio mencetak sejarah ketika timnya menahan imbang Fiorentina pada 2 Mei silam. Palacio mencetak hat-trick dalam laga tersebut dan menghindarkan Bologna dari kekalahan. Ia mencetak trigol melalui satu sundulan dan dua sontekan kaki kanan. Tiga gol ini membawanya memecahkan rekor sebagai pencetak hat-trick tertua di Serie A.

Palacio mencetak hat-trick pada usia 39 tahun 86 hari. Ia memecahkan rekor yang sebelumnya dipegang Silvio Piola, striker legendaris yang pernah memperkuat Lazio dan Juventus. Piola terakhir mencetak hat-trick pada usia 37 tahun dan 51 hari saat membela Novara melawan Lazio pada 19 November 1950. Rekor ini berumur hampir 71 tahun hingga Palacio memecahkannya.

Di Stadion Renato Dall’Ara, mereka tertinggal dua kali dari Fiorentina via gol Dusan Vlahovic dan Giacomo Bonaventura. Gol-gol Palacio membawa I Rossoblu mengamankan satu poin.

Tiga gol eks striker Inter Milan itu pun berarti penting bagi Bologna. Mereka berhasil mencegah La Viola, rival dalam menjauhi zona degradasi, meraih poin penuh.

Baca juga : Nazar Potong Kuncir Palacio yang Akan Membawanya Pulang dengan Kenangan

Keberhasilan meraih satu poin semakin mengamankan anak asuh Sinisa Mihajlovic dari ancaman degradasi. Hingga giornata 34, usain menahan imbang Fiorentina, Bologna berhasil mengoleksi 39 poin, unggul delapan angka dari Benevento di peringkat 18. Kini, I Rossoblu telah aman dari ancaman degradasi. Dengan satu pertandingan tersisa, torehan poin mereka sudah tidak mungkin dikejar Benevento.

Momen hat-trick tersebut menegaskan daya tahan Palacio menjalani karier sepakbola profesional. Sebagai striker tengah, ia membuktikan bahwa dirinya masih bisa mencetak gol. Meskipun umurnya akan menginjak kepala empat pada Februari tahun depan, pemain asal Argentina ini masih bisa berkiprah di liga top Eropa.

Dari Gaya Rambut Unik hingga Supersub Kiper: Karier Palacio di Italia

Rodrigo Palacio merumput di Italia sejak 12 tahun terakhir. Ia pindah ke Genoa pada 2009 silam. Waktu itu, usianya 26 tahun.

Palacio menghabiskan sebagian besar awal kariernya bersama raksasa Argentina, Boca Juniors. Pemain kelahiran Bahia Blanca ini memulai karier profesional di Huracan des Tres Arroyos. Di Huracan, ia meneruskan jejak sang ayah, Jose Ramon Palacio, yang pernah bermain di klub itu pada 1967-1978.

Bakat permainan membawa Palacio hijrah ke Banfield kemudian Boca Juniors. Bersama Boca, ia menyabet tiga gelar Liga Argentina, dua titel Apertura dan satu Clausura pada 2006, 2007, dan 2009. Pada 2006/07, ia menjadi top skor Apertura dengan 12 gol.

Bersama Palacio, Boca juga tampil impresif di ajang kontinental. Mereka meraih trofi Copa Sudamericana pada 2005/06 dan Copa Libertadores pada 2006/07. Boca juga meraih tiga titel Recopa Sudamericana — turnamen semacam Piala Super UEFA bagi konfederasi CONMEBOL.

Menjuarai Copa Libertadores pada 2007 membuat Boca berhak tampil di Piala Dunia Antarklub. Di kompetisi inilah kiprah Palacio menarik perhatian publik Eropa. Di semifinal, ia membantu klub mengalahkan wakil CAF, Etoile du Sahel. Boca pun lolos ke final untuk berhadapan dengan AC Milan.

Baca juga : Mengenal Comproprietà dan Kontroversinya

Waktu itu, AC Milan berstatus juara Liga Champions dan masih diperkuat Alessandro Nesta, Andrea Pirlo, hingga Clarence Seedorf. Bertanding di Yokohama, Boca yang tertinggal lebih dulu sempat menyamakan kedudukan berkat aksi Palacio. Namun, Rossoneri akhirnya memenangi pertandingan dengan skor 4-2. Di penghujung turnamen, Rodrigo Palacio dinobatkan sebagai pemain terbaik ketiga di bawah duo Milan, Kaka dan Clarence Seedorf.

Sejak pindah ke Genoa, Palacio mampu beradaptasi dengan Serie A dan tampil apik. Pada musim 2011/12, ia mencetak 19 gol dari 32 pertandingan liga. Performa impresif membuatnya direkrut Inter Milan dengan mahar 10,5 juta euro.

Nama Palacio mulai dikenal luas sejak membela il Nerazzurri. Bukan hanya karena kemampuan, Palacio juga disorot karena gaya rambutnya yang nyentrik.

Sekilas, model rambut Palacio terlihat biasa saja. Rambutnya cepak sebagaimana banyak pesepakbola lain. Namun, dari kepala yang nyaris plontos itu, terdapat seuntai rambut yang menjuntai di belakang. Untaian rambutnya tipis dan menyerupai ekor tikus.

“Tadinya saya memiliki rambut panjang, tetapi saya lantas potong pendek dan meninggalkan seuntai kepang. Apakah rekan setim meledek saya dan meminta saya memotongnya? Ya, saya memotongnya sedikit, tetapi tidak seutuhnya karena itu adalah kekhasan saya,” kata Palacio ketika masih membela Inter.

Selain nyentrik, Palacio juga mampu bertanggung jawab di lini depan Inter. Di musim debut, ia menjadi top skor klub di Serie A dengan 12 gol. Ia membayar kepercayaan pelatih Andrea Stramaccioni. Pelatih Italia ini memberi Palacio kesempatan luas berhubung cedera panjang yang diderita Diego Milito.

Pada Desember 2012, Palacio menjadi penyelamat Inter saat melakoni partai Coppa Italia lawan Hellas Verona. Waktu itu, il Nerrazurri unggul 2-0 berkat gol Fredy Guarin dan Antonio Cassano. Namun, keunggulan Inter terancam kala kiper Luca Castellazzi menderita cedera pada menit 80-an.

Anak asuh Stramaccioni telah memakai jatah tiga pergantian pemain. Untuk menyelesaikan pertandingan, Palacio pun ditunjuk sebagai kiper sementara. Eks striker Boca Juniors ini tampil apik di bawah mistar. Ia bahkan membuat dua penyelamatan yang memastikan nirbobol dan kemenangan Inter.

Rodrigo Palacio membela Inter Milan hingga 2017. Ia mencetak total 58 gol bagi La Beneamata. Namun, sayangnya, Palacio tak meraih gelar apa pun selama berkiprah di Giuseppe Meazza. Ia bergabung pada waktu yang kurang tepat, yakni ketika Inter mengalami dekadensi pasca kemenangan treble mereka pada 2010.

Musim ini, Inter kembali meraih Scudetto setelah 10 tahun puasa gelar. Il Nerazzurri kembali ke puncak Liga Italia ketika Palacio sudah hengkang dan menjelang akhir karier. “Sayangnya, saya tidak mengalami periode terbaik Inter. Saya pantas bermain di tim Inter yang lebih kuat,” kata Palacio kepada Gazetta dello Sport.

Komentar