Oleksandr Zinchenko: Korban Perang yang Kini Bersaing di Tengah Kepungan Fullback Elite

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim Pilihan

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Oleksandr Zinchenko: Korban Perang yang Kini Bersaing di Tengah Kepungan Fullback Elite

Oleksandr Zinchenko tampil impresif saat Manchester City menumbangkan Paris Saint-Germain, Rabu (5/5/2021) lalu. Tak sekadar terlibat di gol pertama The Cityzens, secara keseluruhan, penampilannya amat baik. Tampil sebagai bek kiri, gelandang asal Ukraina tersebut efektif di lini belakang anak asuh Pep Guardiola, baik secara defensif atau dalam proses build-up.

Secara defensif, Zinchenko sukses menjaga area kiri pertahanan City dalam laga tersebut. Kombinasinya dengan Ruben Dias dan Fernandinho membuat Neymar dan Angel Di Maria gagal tampil maksimal.

Dalam proses build-up, pemain berusia 24 tahun ini juga berperan penting. Zinchenko tercatat menjadi pemain City dengan jumlah sentuhan dan umpan terbanyak dalam laga tersebut. Ia 82 kali menguasai bola dan total mengirim 73 umpan dengan akurasi 94,5%. Ia juga mengirim tiga umpan ke sepertiga akhir dan enam umpan jauh yang empat di antaranya menemui sasaran.

Zinchenko tercatat sebagai pemain yang aktif dalam progresi bola Man City. Dalam laga itu, hanya Ederson yang mencatatkan jarak tempuh umpan progresif — umpan yang mengarah ke gawang lawan — terjauh dibanding pemain bernomor punggung 11 tersebut. Perannya cukup menonjol dalam keberhasilan City mengalirkan bola ke area lawan. Secara kumulatif, umpan-umpan Zinchenko menempuh jarak progresif sejauh 420 yard, sedangkan Ederson 459 yard.

Gol pertama City adalah aksi puncak dari penampilan brilian Zinchenko. Perannya memang lebih menonjol dalam mengalirkan penguasaan bola City, tetapi, ketika ada kesempatan, ia diizinkan untuk menyerang dari sayap kiri. Dalam proses gol pertama, Zinchenko menjemput umpan jauh Ederson di area sayap pertahanan lawan. Ia kemudian mengirim bola ke Kevin De Bruyne. Tembakan gelandang Belgia tersebut diblok bek PSG dan bola muntah pun disambar Riyad Mahrez.

Keputusan Pep Guardiola memasang Zinchenko dibanding Joao Cancelo terbukti tepat. Kontribusinya membantu The Cityzens lolos ke final Liga Champions perdana.

Bagi sang pemain, penampilan tersebut kembali menegaskan keinginannya untuk memperjuangkan tempat di skuad Man City. Kendati bersaing dengan full-back elite seperti Benjamin Mendy dan Joao Cancelo, Zinchenko sama sekali tak berkecil hati.

Dibanding dua rekannya itu, Zinchenko memang memiliki latar belakang yang kurang prestisius. Namun, kerja keras di sesi latihan dan performa apik di atas lapangan tentu memaksa Guardiola untuk tetap memperhitungkannya.

Pengungsi Perang yang Menjadi Siswa Guardiola

Oleksandr Zinchenko lahir di Rhadomsyl, sebuah kota di utara Ukraina pada 15 Desember 1996. Ia berlatih sepakbola di SSB setempat hingga 2008. Setelah itu, ia pindah ke FC Monolit Illichivsk. Pada 2009, talenta menjanjikan Zinchenko membuat salah satu klub terbesar Ukraina, Shakhtar Donetsk merekrutnya ke akademi mereka.

Di Shakhtar, ia menjadi kapten tim muda dan mendapat panggilan ke timnas junior Ukraina. Langkahnya ke tim senior Shakhtar seolah telah pasti. Namun, perang yang meletus di Donbas pada 2014 memaksa klub dan ratusan ribu warga mengungsi, termasuk keluarga Zinchenko.

Shakhtar pindah ke markas darurat di Lviv sebelum mendiami Kharkiv sejak 2016. Sedangkan Zinchenko, beserta ayah-ibunya, mengungsi ke Rusia.

“Sebelum gabung Ufa, saya tidak memiliki tim selama lima atau enam bulan. Itu adalah situasi sulit karena pada saat itu, saya masih punya kontrak dengan Shakhtar Donetsk, tetapi [situasi] sangat berbahaya di Ukraina. Itulah mengapa orang tua saya pindah. Saya kemudian berlatih sendirian tiap hari di jalanan Moskow,” kata Zinchenko kepada The Guardian.

Shakhtar sedianya menginginkan sang pemain kembali, tetapi orang tua melarangnya karena alasan keamanan. Setelah menjalani bulan-bulan tanpa klub, Rubin Kazan mau menampung Zinchenko. Namun, klub Rusia ini tidak merekrutnya karena sang pemain masih terikat kontrak dengan Shakhtar. Rubin Kazan sekadar mengizinkannya berlatih bersama.

Pada Februari 2015, Zinchenko bergabung dengan FC Ufa. Ia memulai karier profesional di klub yang waktu itu baru promosi ke Liga Primer Rusia tersebut. Pemain berpostur 1,75 m ini mendapat debut ketika Ufa menghadapi Krasnodar pada Maret 2015.

Zinchenko tampil impresif pada 2015/16. Ia tampil dalam 24 pertandingan Russian Premier League, mencetak dua gol dan empat asis.

Di penghujung musim, ia bahkan memecahkan rekor Andriy Shevchenko sebagai pencetak gol termuda Timnas Ukraina. Sebelumnya, rekor ini telah bertahan 20 tahun. Zinchenko, yang waktu itu berusia 19 tahun 165 hari mencetak gol ke gawang Rumania pada Mei 2016. Saat mencetak gol debut untuk timnas, Shevchenko berusia 19 tahun 214 hari.

Pada 2016/17, Man City merekrutnya dengan tebusan sekitar 2 juta euro. The Cityzens langsung meminjamkannya ke PSV Eindhoven pada musim tersebut.

Sekembalinya ke Etihad, Zinhenko kesulitan menembus tim utama. Sejumlah klub pun menggodanya untuk pindah. Pada Agustus 2018, ia hendak direkrut Wolverhampton Wanderers. Tawaran Wolves telah disepakati City. Namun, Zinchenko enggan pindah kendati hanya memainkan 532 menit di Premier League 2017/18.

Zinchenko ingin berkembang di bawah bimbingan Guardiola. Kendati hanya menjadi bek kiri pilihan ketiga, ia memutuskan untuk bertahan.

“Sebelum saya bertemu dengan dia, Pep telah menganalisis saya dari A sampai Z. Sesi latihannya benar-benar intens. Dia mencintai sepakbola indah dan di level personal, dia memainkan saya di sejumlah posisi untuk menjadikan saya pesepakbola yang serba bisa,” ucap Zinchenko.

Sejak bermain di Ufa, Zinchenko telah bermain di tiga posisi, yakni gelandang tengah, bek kiri, serta sayap kiri. Guardiola merupakan pelatih tepat untuk mengasah bakat tersebut.

Kesabaran dan kerja kerasnya pun mulai menuai hasil. Pada 2018/19, ia tampil 14 kali di Premier League dengan total menit bermain 1.151. Semusim setelahnya, ia mendapat menit bermain sejumlah 1.276 menit. Pada musim ini, ia telah memainkan 17 laga EPL dengan total menit bermain 1.287.

Kesempatan Zinchenko diraih bukan karena Mendy atau Cancelo cedera. Ia mampu menjadi kompetitor langsung di pos bek kiri. Musim ini, ia dimainkan dalam partai-partai akbar lawan Chelsea, Liverpool, Tottenham, dan Manchester United. Di Liga Champions, ia juga bermain penuh kala timnya melakoni leg kedua kontra Borussia Dortmund dan PSG.

Zinchenko memiliki set kemampuan yang dibutuhkan Guardiola. Sebagai bek kiri, ia pandai mendukung sistem permainan Man City. Salah satu atributnya yang menonjol adalah kemampuan memintas pressing. Dalam laga kontra PSG, misalnya, Zinchenko kapabel mengeliminasi pressing tinggi anak asuh Mauricio Pochettino yang cenderung menjebak lawan di area sayap.

Eks FC Ufa ini mampu mengirim 14 umpan di tengah situasi pressing lawan. Ia sama sekali tak kehilangan penguasaan bola (dispossessed) dalam laga tersebut. Kemampuan inilah yang membuat Guardiola mempercayainya di partai akbar.

Tentu, Zinchenko masih memiliki kekurangan, terutama dari aspek defensif secara individual. Ia juga perlu mengasah kemampuan playmaking jika ingin menyejajari Cancelo sebagai full-back komplet.

Meskipun demikian, Zinchenko adalah pemain serbaguna yang perkembangannya amat impresif. Mesti melalui situasi pahit di masa remaja, ia mampu berkembang pesat di skuad mewah Man City.

Perkembangan sang pemain pun menarik disimak. Tak hanya di level klub, melainkan juga di tim nasional. Di Timnas Ukraina, Zinchenko masih rutin bermain sebagai gelandang. Andriy Shevchenko tentu senang anak asuhnya dilatih Guardiola menjadi pemain yang serbabisa.

“Di Inggris, kami memiliki Zinchenko yang bermain untuk Manchester City. Seorang pemain hebat yang bisa bermain di beberapa posisi. Seorang pemain yang sangat cerdas,” kata Shevchenko kepada VbetNews.

Di Timnas Ukraina, ia telah mengantongi 38 caps dengan torehan lima gol. Rata-rata, ia bermain sebagai gelandang tengah di skuad asuhan Shevchenko. Terkadang, Zinchenko juga diturunkan di pos sayap kiri.

Zinchenko dapat bermain di empat posisi. Jika meninjau profil Timnas Ukraina, maka masa depannya bukanlah sebagai bek kiri - kendati Guardiola terus memasangnya di posisi ini. Bermain di posisi mana pun, Zinchenko memiliki potensi besar dan perkembangannya patut dinantikan.

Source foto: SportsDol

Komentar