Menjegal Krisis Iklim Bersama FC Augsburg

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Menjegal Krisis Iklim Bersama FC Augsburg

Sejak akhir 2018, aksi Greta Thunberg di depan Gedung Parlemen Swedia memantik gerakan global untuk memperjuangkan kelestarian lingkungan. Jutaan orang — diinisiasi dan kebanyakan diikuti oleh para pelajar — berdemonstrasi di berbagai penjuru dunia dalam aksi “Fridays for Future”. Demonstrasi massal ini menuntut pemangku kebijakan lebih aktif memitigasi krisis iklim, sekaligus berkampanye agar masyarakat lebih peduli akan isu tersebut.

Isu krisis iklim telah bergaung selama bertahun-tahun dan kekhawatiran atasnya semakin meningkat. Beragam reka cipta diwujudkan dalam rangka memitigasi krisis global tersebut. Namun, upaya-upaya ini umumnya berkutat dalam lingkup yang partikular, terpisah-pisah atas dasar inisiatif lembaga, kelompok, atau individu.

Salah satu lembaga yang coba berinovasi menghadapi krisis iklim sekaligus berkampanye tentang daruratnya keadaan adalah klub sepakbola semenjana asal Jerman: FC Augsburg. Mereka mengimplementasikan ide ini sejak 2009 lalu dengan pendirian stadion olahraga bebas karbon pertama di dunia: Augsburg Arena.

Bagi yang tak familiar dengan Bundesliga, nama klub asal Bavaria ini mungkin terdengar asing. Augsburg memang baru menancapkan kaki di puncak kompetisi sepakbola Jerman pada 2011. Prestasinya di atas lapangan pun tak begitu mentereng. Selain kampanye sensasional 2014/15, die Fuggerstaedter lebih sering bersaing menjauhi zona degradasi.

Klub ini berdiri pada 1907 dan baru menyandang nama Fussball-Club Augsburg pada 1969 setelah merger dengan TSV 1847 Schwaben Augsburg. Nama sebelumnya adalah Fussbal-Klub Alemania Augsburg. Mereka menghabiskan sebagian besar sejarahnya berkutat di divisi kedua dan ketiga Jerman.

Hal itu berubah kala die Fuggerstaedter mendapat suntikan dana dari sekelompok investor pada 2001. Keuangan klub menjadi stabil dan mereka pelan-pelan merangkak ke divisi teratas.

Augsburg pun mencanangkan proyek klub yang sehat untuk berkiprah di strata teratas sepakbola Jerman. Mereka juga membangun stadion baru yang rampung pada 2009. Stadion ini, selain mengakomodasi visi kompetitif Augsburg, juga menggarisbawahi pentingnya kelestarian lingkungan dengan menerapkan manajemen energi yang canggih.

Bagaimana Augsburg Arena Bekerja?

Stadia milik FC Augsburg kini menyandang nama resmi WWK Arena. WWK, sebuah perusahaan asuransi, membeli hak penamaan stadion tersebut sejak 2015. Selain nama komersial itu, stadion ini juga dikenal sebagai Augsburg Arena.

Augsburg Arena berkapasitas 30.660 penonton dengan rincian 19.556 tempat duduk dan tribun berdiri yang mampu memuat 8.000 orang. Desain Augsburg Arena memungkinkan stadion ini dikembangkan menjadi berkapasitas 50.000 penonton melalui pembangunan lanjutan jika dikehendaki.

Apa yang istimewa dari Augsburg Arena adalah sumber energinya yang bebas karbon. Artinya, segala keperluan perawatan, operasi harian, hingga kebutuhan pertandingan di Augsburg Arena menghasilkan nol karbon dioksida.

Stadion ini menerapkan teknologi canggih untuk mengolah energi yang bersumber dari panas bumi. Augsburg Arena memiliki enam pompa panas bumi sedalam 40 meter. Pompa-pompa ini menyalurkan energi geotermal yang digunakan untuk mengatur suhu stadion, tiap ruangan, hingga lapangan rumput.

Energi panas tersebut memerlukan air sebagai medium transfer. Pompa-pompa Augsburg Arena mampu memuat maksimum 2.000 liter air per jam. Air tanah mengalirkan panas via dua buah pelat penukar panas (heat exchanger). Setelah panas dihantarkan, air dipompa kembali ke dalam tanah.

Sistem inilah yang membuat Augsburg Arena disebut sebagai “stadion bebas karbon”. Selain itu, Augsburg Arena juga memiliki sistem panel surya di atap stadion untuk mengonversi energi panas matahari. Sistem ramah lingkungan stadion ini disebut menghilangkan emisi 750.000 ton karbon dioksida per tahun.

“Stadion ini adalah bukti komitmen kami terhadap lingkungan. Target kami yang sangat jelas adalah untuk membuat fans lebih peka terhadap pentingnya konservasi lingkungan,” ucap Andreas Rettig, direktur olahraga FC Augsburg, saat stadion diresmikan.

Transportasi suporter pun dipikirkan oleh Augsburg. Mereka membatasi tempat parkir hanya untuk 2.500 mobil dan 70 bus. Para suporter diminta naik trem ke stadion. Untuk kebutuhan ini, satu jalur trem diperpanjang hingga hampir mencapai gerbang stadion. Trem ini mampu mengantarkan sekira 10.000 orang per jam ke Augsburg Arena.

Di sisi lain, arsitektur Augsburg Arena juga membuat atmosfer epik pertandingan semakin intens. Stadion ini memiliki tribun yang cukup curam dan chant suporter kala pertandingan bergema memenuhi stadion. Koran Frankfurt Allgemeine Zeitung bahkan sempat menjuluki Augsburg Arena sebagai “Anfield di Jalan Raya B17”. B17 adalah jalan raya yang melintasi Augsburg Arena.

Stadion Ramah Lingkungan: Sekadar Gimik atau Komitmen Serius?

Apa yang dilakukan FC Augsburg untuk menghadapi krisis iklim tak bisa dianggap sepele. Konsep stadion ramah lingkungan pun kini ramai diterapkan oleh klub-klub Bundesliga dan klub Eropa lain.

Selain Augsburg, Werder Bremen memiliki sistem panel surya yang mampu menghasilkan energi yang setara dengan kebutuhan 300 rumah. Borussia Dortmund pun memiliki sistem serupa. Sedangkan VfL Wolfsburg memakai sumber listrik ramah lingkungan serta membangun stasiun pengecasan mobil listrik di sekitar Volkswagen Arena.

Akan tetapi, apakah langkah-langkah ini lebih bernilai sebagai kampanye kehumasan dibanding komitmen serius menghadapi krisis iklim? Masalahnya, pada tiap Spieltag, Bundesliga menghasilkan emisi karbon dalam jumlah yang signifikan.

Patrick Fortyr dari CO2OL, sebuah lembaga konsultan proteksi lingkungan, menyebut tiap pertandingan Bundesliga menghasilkan 7.753 ton karbon dioksida hanya untuk transportasi suporter. Untuk menyeimbangkan emisi tersebut, diperlukan setidaknya penanaman pohon seluas 48 lapangan bola pada setiap Spieltag.

Jumlah emisi dari pertandingan olahraga menjadi pertanyaan menantang bagi pihak penyelenggara dan klub-klub profesional. Apakah proteksi lingkungan mereka sudah cukup?

Namun, setidaknya, apa yang dilakukan klub-klub Bundesliga di atas menunjukkan langkah awal bagi proteksi lingkungan yang lebih baik.

Sebagai langkah sistematis, PBB pun mengundang organisasi olahraga bersatu membendung krisis iklim melalui Sports for Climate Action. Gerakan ini bertujuan agar komunitas olahraga global melawan krisis iklim melalui komitmen dan kerja sama berdasarkan standar yang ditetapkan; juga, untuk menjadikan olahraga sebagai “alat pemersatu” aksi menghadapi krisis iklim.

Sejumlah badan olahraga besar seperti FIFA, UEFA, Komite Olimpiade Internasional, hingga Asosiasi Sepakbola Jerman (DFB) meratifikasi Sports for Climate Action.

FC Augsburg berlaga di Bundesliga 1 2020/21. Seluruh pertandingan die Fuggerstaedter dapat Anda saksikan di Mola TV. Klik di sini untuk menyaksikan seluruh tayangan langsung pertandingan Augsburg, juga tayangan ulang dan highlights pertandingan-pertandingannya.

Komentar