Bagaimana Miguel Almiron Menaklukkan Amerika dan Hijrah ke Tyneside

Cerita

by Ikhsan Abdul Hakim

Ikhsan Abdul Hakim

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Bagaimana Miguel Almiron Menaklukkan Amerika dan Hijrah ke Tyneside

Miguel Angel Almiron Rejala barangkali adalah pemain Paraguay dengan pamor paling mentereng setelah era Roque Santa Cruz. Ia dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Paraguay (versi Jurnalis) pad 2017 dan 2018. Sejak Jose Cardozo meraih penghargaan ini pada 2002 dan 2003, belum ada lagi pemain yang mampu menjadi Pemain Terbaik Paraguay dua tahun berturut-turut.

Lebih dari itu, pada usia yang masih 26 tahun, Almiron telah meraih tiga trofi di tiga negara yang berbeda: Paraguay (Cerro Porteno), Argentina (Lanus), dan Amerika Serikat (Atlanta United). Kiprahnya menaklukkan benua Amerika pun membuat Newcastle United merekrutnya untuk memulai babak karier baru di Eropa.

Almiron ditebus dari Atlanta United dengan biaya sekitar 24 juta euro. Biaya transfer sebesar itu membuat ekspektasi terhadapnya melambung tinggi. Saat kedatangan Almiron pada Januari 2019, eks pemain Newcastle, Warren Barton, menilai gelandang serang itu bermental juara dan akan membantu The Magpies keluar dari persaingan papan bawah.

“Almiron adalah seorang juara. Dia berkontribusi dengan baik saat Atlanta melaju ke play-off (MLS) dan memenangi MLS tahun lalu [2018]. Dia telah memenangkan sesuatu dan itu hal yang penting — itu sesuatu yang dapat dia tawarkan [untuk Newcastle],” ucap Barton.

Link streaming pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2022: Argentina vs Paraguay

Akan tetapi, Almiron sulit beradaptasi di Eropa. Harapan Barton tak kunjung jadi kenyataan. Pada sisa musim 2018/19, eks pemain Lanus tersebut tampil 10 kali di Liga Inggris, tak mencetak satu pun gol atau asis.

Pada 2019/20, musim penuh pertamanya di St. James Park, kiprah Almiron juga tak sesuai ekspektasi. Almiron harus menunggu hingga gameweek 18 untuk mencetak gol Liga Inggris pertamanya. Pemain bernomor punggung 24 ini mengakhiri 2019/20 dengan catatan delapan gol dan dua asis dari 42 pertandingan.

Statistik Almiron di Inggris teramat kontras dibanding kiprah prolifiknya di Atlanta United. Pada 2017, ia mencetak sembilan gol dan delapan asis dari 30 pertandingan MLS di musim debutnya.

Semusim kemudian, Almiron menikmati musim terbaik sepanjang karier profesionalnya, mencetak 12 gol dan 13 asis dari 32 pertandingan. Bersama penyerang Venezuela, Josef Martinez, Almiron membentuk duet garang yang menyumbang total 48 gol untuk Atlanta. Duet Martinez-Almiron membawa klub yang baru berdiri pada 2014 ini memenangkan titel perdananya, mengalahkan Portland Timbers di final MLS.

Kini, Almiron hampir menjalani dua musim penuh di Tyneside. Ia mulai dianggap pembelian gagal The Magpies. Namun, sepanjang hidupnya, Almiron telah berulangkali menghadapi kegagalan dan pada akhirnya selalu keluar sebagai pemenang.

Resilien di Hadapan Berbagai Kesulitan

Lahir di Asuncion, ibukota Paraguay, pada 10 Februari 1994, Almiron bermain sepakbola sejak berumur tujuh tahun. Sang ayah membawanya ke klub setempat, Tres de Noviember, tempatnya bermain hingga 14 tahun.

Almiron kemudian mencari peluang menembus tim muda klub profesional Asuncion. Club Nacional adalah pilihan pertamanya. Tetapi, Nacional menolaknya dengan alasan “terlalu kurus”.

Miguel hampir menyerah waktu itu. Untung, melalui pamannya, Almiron mendapat kesempatan seleksi masuk tim muda Cerro Porteno. Bersaing dengan ratusan remaja yang mengikuti seleksi, Almiron berhasil lolos.

Tempat latihan Cerro Porteno berjarak sekitar 40 menit naik bus dari rumah Almiron. Pemain muda ini pun mesti membagi waktu antara sekolah dan latihan, sekaligus rutin menjalani perjalanan jauh sendirian.

“Saya menghabiskan berbulan-bulan berikutnya bangun pagi dan naik bus ke Ypane [tempat latihan Cerro Porteno] untuk latihan pada pukul tujuh pagi, lantas kembali ke kota untuk sekolah. Itu adalah perjalanan panjang dan sepi untuk anak berusia 14 tahun. Tetapi ini tahap yang penting,” kenang Almiron dalam tulisannya di The Players Tribune.

Almiron sempat kesulitan di kelompok U-15 dan U-16. Bahkan, pada 2010, ia telah dimasukkan daftar coret oleh manajemen Cerro Porteno. Namun, pelatih U-17 yang menyadari bakat besarnya, Hernan Acuna mencegah hal itu terjadi.

“Pada November 2010, ketika para pemain hendak dikeluarkan dari skuad, Miguel termasuk dalam daftar itu. Jadi saya menemui koordinator dan berkata kepadanya: ‘Saya tidak ingin bocah itu [Almiron] pergi’,” ucap Acuna.

Pembacaan Acuna nyatanya tepat. Bocah yang dibelanya itu menjelma pemain kreatif yang bersinar di Amerika. Lima tahun setelah rekomendasi Acuna, Miguel menjalani debut internasional bersama Timnas Paraguay. Hingga hari ini, selain meraih tiga gelar liga di level klub, Almiron mencatatkan 26 caps dan mencetak dua gol untuk La Albirroja.

Sepanjang kariernya, gelandang setinggi 1,74 m ini telah menunjukkan resiliensi dalam menghadapi momen-momen pahit. Di Newcastle, sebagai seorang no. 10 klasik, Almiron kesulitan dengan pendekatan defensif Steve Bruce. Namun, seperti yang ditunjukkan Miguel saat masih jadi pemain junior, ia sedang dan akan menaklukkan masa sulit di Tyneside.

Di masa jeda internasional, Anda tidak akan kekurangan tontonan. Mola TV menayangkan pertandingan persahabatan, UEFA Nations League, dan Kualifikasi Piala Dunia 2022. Pertandingan Argentina vs Paraguay pada Jumat (13/11) pukul 07:00 WIB dapat Anda saksikan dengan mengeklik tautan ini.

Komentar