Dietmar Hopp: Antara Protes, Loyalitas dan Sepakbola Modern

Cerita

by Gia Pijar Perdana

Gia Pijar Perdana

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Dietmar Hopp: Antara Protes, Loyalitas dan Sepakbola Modern

Pernahkah terbayang menjadi Dietmar Hopp, investor TSG Hoffenheim, yang rutin diprotes suporter klub lawan karena dianggap membawa komerlialisasi sepakbola di Jerman? Mari kita bedah satu per satu.

Berbicara sosok Hopp, pria kelahiran Heidelberg Jerman tersebut merupakan lulusan Institut Teknologi Karlsruhe, perguruan tinggi terbaik Jerman dalam bidang teknologi, dengan memegang sertifikat sebagai certified engineer. Ia bekerja beberapa tahun sebagai software developer dan konsultan di IBM. Namun pada tahun 1972, ia bersama beberapa rekan di IBM mengundurkan diri dari pekerjaan dan memutuskan untuk merintis perusahaan sendiri di bidang software bernama SAP (System, Applications, and Products). Perusahaan ini yang membawa Hopp menuju kesuksesan karir, dimana ia menjabat sebagai chairman pada periode 1988 hingga 1998. SAP menjadi perusahaan IT terbesar ketiga setelah Microsoft dan juga Oracle.

Hopp kemudian pensiun dari SAP pada tahun 2003, dimana ia masih memegang saham sebesar 5,52 persen. Dengan market value perusahaan terbesar di Jerman menjadikan Hopp merupakan salah satu orang terkaya di Jerman.

VIDEO: Update dampak Coronavirus pada sepakbola



Pada tahun 1995, 3 tahun sebelum resign dari SAP, ia mendirikan ‘Dietmar Hopp Foundation’, Yayasan yang bergerak di bidang olahraga, kedokteran, perkembangan anak-anak, dan social service lainnya. Kegiatan Yayasan Hopp dipusatkan di daerah Kraichgau, tempat Hopp lahir dan tinggal.

Namun, itu semua yang tidak dilihat oleh suporter di Bundesliga, setidaknya mereka hanya melihat Hopp sebagai sosok investor dan bos dari TSG Hoffenheim, tidak lebih. Dan hal itu menjadi sumber permasalahannya.

Peran Dietmar Hopp untuk Hoffenheim

Pertanyaannya kemudian, apa yang telah dilakukan Hopp untuk klub masa kecilnya Hoffenheim?

TSG 1899 Hoffenheim sendiri sempat menjadi tempat Hopp bermain sepakbola saat usia dini. Saat itu klub tersebut belum banyak didengar dan bahkan masih berkutat sebagai klub amatir. Karena jasa Hopp berinvestasi,dalam kurun waktu 1990 hingga 2001, Hoffenheim bisa naik kasta dari tingkat 8 liga Jerman menuju tingkat 3 liga.

Pada tahun 2005, Hopp memulai investasi besar-besaran untuk klub dan mulai mematangkan rencana untuk bisa promosi ke Bundesliga. Termasuk salah satu langkahnya ialah menunjuk Ralf Rangnick sebagai pelatih kepala dan mengizinkan untuk mendatangkan pemain yang tidak dipunyai oleh klub di level tiga Liga Jerman. Hoffenheim lolos ke Bundesliga 2 pada musim 2007, dan semusim berselang ia mampu lolos ke Bundesliga.

Di luar dari itu semua, Hopp juga membangun stadion berkapasitas 30 ribu kursi pada tahun 2007 (yang selesai tahun 2009 di musim perdana Hoffenheim naik ke Bundesliga), dan fasilitas latihan modern. Ditaksir total investasi yang telah Hopp keluarkan senilai 350 juta Euro. Walaupun dalam beberapa tahun terakhir, Hoffenheim juga tertolong oleh sistem penjualan pemain, namun tanpa bantuan Hopp niscaya Die Kraichgauer (julukan Hoffenheim) tak dapat berbuat banyak di sepakbola Jerman.

Apa yang Membuat Fans Lawan Marah?

Singkatnya, menurut ultras dan fans di Bundesliga, apa yang dilakukan Hopp terhadap Hoffenheim dianggap sebagai ‘pembelian kesuksesan lewat uang’, karena dalam kultur sepakbola Jerman, khususnya Bundesliga sistem kepemilikan 50+1 wajib hukumnya dijalankan oleh setiap tim.

Sistem tersebut berarti dimana satu klub wajib memberikan hak kepemilikan penuh kepada member/supporter klub sebanyak 50 persen + 1 persen untuk menghindari kepemilikan tunggal, artinya investor luar hanya berhak memiliki saham klub maksimal di angka 49% saja. Peraturan ini terkecuali bagi Bayer Leverkusen dan VfL Wolfsburg dimana kedua klub tersebut didirikan oleh serikat pekerja. Leverkusen didirikan tahun 1904 oleh serikat pekerja Bayer, perusahaan farmasi. Sedangkan Wolfsburg didirikan tahun 1945 oleh serikat pekerja Volkswagen.

Sedangkan bagi Hopp, ia sudah menginvestasikan uang nya untuk Hoffenheim sejak 1990, namun dipandang sebagai upaya komersialisasi sepakbola. Karena pria berumur 79 tahun tersebut menguasai kurang lebih 96% saham klub, dimana hal tersebut jelas menantang aturan 50+1. Walaupun sebenarnya, aturan tersebut mempunyai kelonggaran bagi Investor yang telah menanamkan investasi besar-besar untuk satu klub lebih dari 20 tahun secara konsisten, maka ia diperbolehkan untuk membeli saham klub lebih dari 50%

Jika melihat dari kacamata investor, klub Hoffenheim bukan sesuatu yang ‘seksi’ untuk berinvestasi. Dimana kota tersebut populasinya tak lebih dari 5000 orang (tepatnya 3272 populasi). Kedatangan Hopp pada periode 1990 sangat membantu, terutama dalam hal mengatur finansial klub. Dan ia sendiri bukan tanpa alasan mendukung Hoffenheim. Yang pertama, kota tersebut merupakan tempat tinggal masa kecilnya, kedua Hoffenheim ialah tempatnya menghabiskan masa kecilnya untuk bermain sepakbola. Singkatnya, Hopp dan Hoffenheim punya ikatan emosional tersendiri.

Usaha Hopp untuk menaikkan citra klub kebanggaan sejak kecilnya, membuahkan cap dari fans tim lain sebagai ‘klub plastik’ sama seperti RB Leipzig, dimana mereka menggunakan uang untuk meraih kesuksesan di liga. Sesuatu yang bisa diperdebatkan di zaman sekarang.

Menolak Sepakbola Modern

Bentuk sikap paling keras, ditunjukkan oleh supporter Borussia Dortmund. Ultras BVB, konsisten memprotes Hopp sejak tahun 2008 dengan membentangkan spanduk anti-Hopp dengan slogan ‘anti-modern football’ saat bertandang ke markas Hoffenheim, ataupun sebaliknya.

Puncak gelombang protes dimulai sejak tahun 2011, dimana saat itu salah satu karyawan Hoffenheim membuat suara bising lain di sekitaran stadion agar chant protes fans Dortmund yang bertandang ke markas Hoffenheim tidak terdengar. Kisah ini memantik gelombang protes kepada Hopp setiap musimnya semakin besar.

Hingga akhirnya tahun 2017 federasi sepakbola Jerman (DFB) lewat sang presiden Reinhard Grindel, menghukum supporter Dortmund dengan tidak diperbolehkan hadir di markas Hoffenheim selama 2 musim. Alih-alih usai, gelombang protes untuk Hopp semakin menjadi-jadi. Termasuk yang terjadi di musim ini, dan meraih perhatian besar dari media di awal bulan ini.

Awal Maret 2020, saat Hoffenheim menjamu Bayern Munchen, suporter lawan yang datang membentangkan spanduk bertuliskan ‘Son of Bitch’ yang ditunjukkan langsung kepada Hopp seketika pertandingan langsung dihentikan, manajemen serta pemain Bayern langsung memberikan support untuk Hopp dengan mendatangi langsung tempat suporter Bayern membentangkan spanduk lalu wasit menghentikan pertandingan sementara. Setelah dilanjutkan di 13 menit sisa, pertandingan tidak efektif karena kedua tim hanya mengoper bola di tengah lapangan.

Apakah semua ini akan mereda? Tampaknya untuk kasus Hopp akan sulit ditemukan sebuah solusi tepat. Karena menurut para fans di liga Jerman, apa yang dilakukan Hopp telah melunturkan kultur atau budaya sepakbola Jerman. Sebagai contoh, wasit juga menghentikan laga Union Berlin vs Wolfsburg akibat nada dan spanduk kecaman terhadap Hopp.

Di stadion sendiri, federasi menugaskan wasit untuk menerapkan 3 langkah antisipasi jika nada diskriminasi, ancaman dan ujaran kebencian ada di stadion. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengumumkan di dalam stadion dan menghimbau supporter, langkah kedua akan mengeluarkan kedua tim dari dalam stadion, dan langkah ketiga ada menghentikan pertandingan.

Tugas berat menanti pemangku kebijakan di federasi Jerman. Secara prinsip, federasi menolak segala upaya tindak ancaman, rasisme, dan ujaran kebencian suporter di stadion. Namun di sisi lain, ada kultur sepakbola Jerman yang harus mereka jaga. Sebuah budaya yang selama ini membuat sepakbola Jerman spesial dibandingkan liga-liga lain di Eropa.

Sepakbola Modern vs Komersialisasi Sepakbola

Jika menilik dari sisi Hoffenheim, sosok Dietmar Hopp merupakan the savior bagi perjalanan klub tersebut yang berasal dari kota kecil. Seandainya mengikuti peraturan 50+1, maka Hoffenheim sampai kapanpun akan sulit untuk naik ke Bundesliga, karena populasi kotanya yang terbilang sangat kecil untuk bisa menjadi member klub dan membantu secara finansial. Justru kehadiran ‘warga lokal’ yang menolong klub di sisi finansial mampu membuat kota Hoffenheim berbicara banyak di level atas sepakbola Jerman.

Terhitung, hanya Bayern Munich yang mampu menerapkan peraturan 50+1 dan mampu bersaing secara global atau dengan klub top Eropa lainnya. Dengan lebih dari 300 ribu fans di seluruh dunia membuat banyak perusahaan besar, seperti Allianz, Audi, dan Qatar Airways ingin berinvestasi di Bayern. Namun kadang, hal tersebut masih diprotes oleh suporter Bayern sendiri karena begitu banyaknya sponsor yang hadir, dan dianggap sebagai komersialisasi sepakbola.

Satu bukti bahwa sistem 50+1 kadang menelurkan masalah baru dialami Borussia Dortmund. Die Borussen pernah alami krisis finansial dengan hutang yang menumpuk dan bahkan sempat dibantu pinjaman dari Bayern Munich pada musim 2003-2004. Tujuh musim sebelumnya, atau tepatnya tahun 1997 Dortmund menjuarai Liga Champions. Setelahnya banyak pemain Bintang yang meminta gaji besar, kemudian klub (Dortmund) tidak sanggup memenuhi sehingga menumpuk banyak hutang.

Sebenarnya senasib dengan Hoffenheim, RB Leipzig pun mengalami hal serupa dengan menjadi klub yang dibenci di Jerman karena dianggap membeli kesuksesan. Namun jika protes Hoffenheim tertuju kepada investor yang menguasai saham di klub, protes untuk Leipzig muncul karena posisi member klub yang juga karyawan aktif perusahaan Red Bull. Walaupun kepanjangan ‘RB’ sudah diubah menjadi RasenBallsport, tetap saja memantik gelombang protes.

Pada akhirnya, sepakbola era saat ini identik dengan berbagai macam leverage atau daya angkat secara finansial untuk menaikkan status klub. Rasanya tidak adil seorang Dietmar Hopp terus diprotes kala usianya menginjak 80 di tahun ini. Toh, jika melihat Hoffenheim tidak begitu konsisten di setiap musimnya.

Komentar