Dampak Panjang Larangan Tampil di Liga Champions Bagi Manchester City

Cerita

by Abimanyu Bimantoro

Abimanyu Bimantoro

Football Analyst | Promising Sports Brand Strategist | Liverpool #YNWA

Dampak Panjang Larangan Tampil di Liga Champions Bagi Manchester City

Manchester City mendapatkan hukuman berupa larangan mengikuti kompetisi Eropa dalam 2 tahun ke depan dan denda 25 juta paun. UEFA menemukan adanya pelanggaran serius yang dilakukan Manchester City terkait peraturan UEFA Financial Fair Play.

Sekitar 6 tahun yang lalu, City juga sempat melakukan pelanggaran serupa. Namun saat itu, hukuman yang diterima hanya denda sebesar 49 juta paun tanpa larangan bermain. Kali ini, meski denda yang dibayarkan lebih kecil dari denda sebelumnya, namun larangan bermain di kompetisi Eropa menjadi pukulan besar bagi Manchester City. Pasalnya, tidak bermain di UCL bukan sekedar membuat Manchester City tidak bisa meraih ambisi terbesar mereka untuk menjadi juara Eropa, melainkan juga dapat membuat berbagai aspek dalam tim harus berubah secara drastis.

VIDEO: Update Informasi Manchester City



Tentang Financial Fair Play

Pada tahun 2009, Komite Eksekutif UEFA memperkenalkan peraturan baru yang kini dikenal sebagai Financial Fair Play. Peraturan ini membatasi pengeluaran klub agar tidak melebihi pemasukan yang mereka raih. Hal ini dilakukan agar kondisi keuangan setiap klub menjadi sehat dan tidak mengancam masa depan klub.

UEFA masih memberikan toleransi jika klub terpaksa harus merugi dalam jangka waktu 3 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, sebuah klub maksimal boleh merugi hingga 45 juta Euro atau dengan kata lain, maksimal klub rugi 15 juta Euro per tahun.

Pengeluaran klub yang dihitung di sini adalah pengeluaran untuk transfer pemain, gaji pemain, dan gaji staf. UEFA tidak menghitung pengeluaran klub untuk pengembangan usia dini dan tim wanita.

Peraturan ini terbukti efektif. 5 tahun setelah peraturan ini dikenalkan, hutang-hutang yang jatuh tempo pada klub sepakbola berkurang hingga 20 persen. Meski belum semua klub menjadi sehat, namun banyak klub-klub sepakbola yang mulai bisa terlepas dari hutang-hutang yang selama ini membelit mereka.

Apa yang Akan Terjadi dengan Manchester City Setelah Ini?

Manchester City melakukan pelanggaran Financial Fair Play dengan melebih-lebihkan pemasukan dari sector sponsorship mereka antara tahun 2012 hingga tahun 2016. Sehingga mereka melakukan pengeluaran lebih besar dari yang seharusnya bisa mereka keluarkan. Selain itu, Manchester City juga dianggap tidak kooperatif saat pemeriksaan dilakukan.

Manchester City kini tidak hanya menghadapi sanksi dari UEFA yang sudah ditetapkan melainkan juga potensi sanksi yang dikeluarkan oleh Liga Primer Inggris. Pasalnya, Liga Primer Inggris juga memiliki aturan Financial Fair Play tersendiri dan mereka sudah menyatakan akan memeriksa Manchester City menyusul hukuman yang ditetapkan oleh UEFA tersebut.

Tentu saja Manchester City akan melakukan proses banding. Setidaknya mereka akan mencoba untuk membuat hukuman lebih ringan dari yang sudah ditetapkan. Namun proses banding hingga dikeluarkan keputusan akhir tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Bukan tidak mungkin keputusan akhir itu baru akan keluar setelah Liga Champions musim depan dimulai yang artinya Manchester City tidak bisa berpartisipasi pada kompetisi paling bergengsi tersebut.

Tidak mengikuti Liga Champions bukan sekedar membuat Pep Guardiola gagal memenuhi ambisi terbesar klub tersebut, namun juga berpotensi membuatnya kehilangan banyak hal. City tentu akan kehilangan sebagian dari potensi pemasukan yang bisa mereka raih dengan tidak berpartisipasi di Liga Champions.

Musim lalu, Manchester City meraih 82 juta paun dari bayaran siaran pertandingan dan hadiah dari partisipasi mereka di Liga Champions. Angka ini belum termasuk pemasukan yang mereka raih dalam penyelenggaraan pertandingan seperti penjualan tiket dan yang lainnya.

Tidak berhenti sampai di situ, dalam kerja sama dengan sponsor, sangat lazim jika dalam kontrak kerja sama terdapat klausul soal partisipasi di Liga Champions. Klub yang bermain di Liga Champions tentu memiliki nilai jual yang lebih besar. Karena itu, bukan tidak mungkin terdapat nilai-nilai dalam kontrak sponshorship Manchester City yang juga berkurang jika mereka tidak berpartisipasi di Liga Champions.

Selain persoalan finansial, persoalan lain yang harus dihadapi adalah para pemain. Para pemain bintang yang kini bermain di Manchester City tentu akan berfikir ulang. Pasalnya bermain di Liga Champions dapat membuat karir mereka meningkat pesat. Selain itu, lagi-lagi, jumlah bayaran yang diterima pemain akan jauh berbeda.

Para pemain tentu mendapat bonus yang besar jika bermain di Liga Champions. Belum lagi klausul dalam kontrak mereka. Di dalam kontrak pemain, biasanya terdapat klausul yang menyebutkan pengurangan gaji jika klub tidak bermain di Liga Champions. Klausul ini berguna selain untuk membuat para pemain termotivasi untuk menjaga prestasi klub, juga untuk mengamankan pengeluaran klub jika mereka kehilangan potensi pemasukan dari Liga Champions.

Namun dalam kasus ini, para pemain tentu bisa mengatakan bahwa kegagalan berpartisipasi di Liga Champions bukanlah kesalahan mereka. Jadi bisa saja mereka menuntut untuk pengurangan gaji pada klausul ini tidak di berlakukan.

Di sisi lain, City yang kehilangan potensi pemasukan dalam jumlah besar tentu keberatan untuk memenuhi permintaan tersebut. Dan jika mereka memaksa untuk tetap memenuhi permintaan para pemain, hukuman Financial Fair Play berikutnya akan menanti mereka.

Karena itu jalan satu-satunya mungkin adalah dengan melepas beberapa pemain bintang mereka. Hal ini mau tidak mau harus dilakukan untuk mengamankan kondisi keuangan City dan tidak terkena hukuman berikutnya.

Pep Guardiola dan Raheem Sterling memang sudah mengatakan bahwa mereka akan tetap di Manchester City meski apapun yang terjadi nantinya. Namun belum ada pernyataan lanjutan dari para pemain lain apakah mereka mengikuti jejak Pep dan Sterling atau memilih pindah ke klub lain.

Jika para pemain kunci Manchester City memutuskan untuk pindah ke klub lain, maka Pep harus memutar otak kembali untuk membangun timnya dari awal. Dengan pemain-pemain baru dan budget yang terbatas tentu tidak mudah bagi Pep Guardiola untuk membawa Manchester City menunjukan performa seperti sekarang ini.

Manchester City memang bukan satu-satunya klub yang pernah melakukan pelanggaran Financial Fair Play. Beberapa klub lain seperti AC Milan, PSG, dan Chelsea juga pernah melakukannya. Chelsea bahkan menerima hukuman berat dengan tidak boleh mendatangkan pemain dalam kurun waktu tertentu. Frank Lampard akhirnya harus memanfaatkan skuad yang ada dan para pemain muda dari akademi.

UEFA tidak menjatuhkan hukuman larangan transfer ke Manchester City melainkan larangan ikut kompetisi. Hal ini dikarenakan UEFA tidak memiliki hak untuk memutuskan sebuah tim dilarang melakukan transfer. UEFA hanya bisa memberikan hukuman berupa larangan mengikuti kompetisi yang mereka gelar. Chelsea menerima hukuman larangan transfer karena mereka menerima hukuman dari FIFA, bukan UEFA.

UEFA sudah melakukan hal yang benar untuk menjaga kondisi sepakbola tetap sehat dari sisi finansial. Bagi Manchester City, hukuman ini seharusnya membuat mereka segera berbenah agar tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dari peraturan yang sudah ada. Sepakbola di zaman modern ini memang tidak bisa dipisahkan dari bisnis. Namun mau bagaimanpun juga, sepakbola adalah sebuah permainan yang menjunjung tinggi nilai fair play di dalamnya.

Komentar