Seberapa Penting Piala Liga Inggris?

Cerita

by Adrianus Eduard Johanes Saerong

Adrianus Eduard Johanes Saerong

"Losing my religion to football"

Seberapa Penting Piala Liga Inggris?

Piala Liga Inggris, entah perusahaan apa yang kalian asosiasikan dengan turnamen ini. Baik itu Coca Cola (1992-98), Worthington (1999-2003), Carling (2003-12), Capital One (2012-16), ataupun Carabao (2017-20) dasarnya tetap sama, Piala Liga Inggris. Pada 2012, David Jacobs pernah menulis di Bleacher Report, menjelaskan mengapa Piala Liga Inggris sering kali berganti sponsor. Pada dasarnya, mereka yang telah setuju untuk menjadi sponsor utama gagal meraih keuntungan dari turnamen tersebut. Akhirnya Badan Liga Inggris (EFL) kesulitan mempertahankan sponsor. Mereka bahkan pernah hidup tanpa sponsor dan hanya dikenal sebagai EFL Cup (2016/17).

Ketika sebuah perusahaan menjadi sponsor turnamen atau sebuah tim, mereka ingin produk yang ada ikut terangkat berkat ikatan tersebut. Mengandalkan loyalitas penggemar sepakbola terhadap sebuah kompetisi atau kesebelasan tertentu, penjualan diharapkan bisa meningkat. Membuat produk mereka identik dengan turnamen atau kesebelasan tertentu.

Sering kali, hal ini memang berhasil. Heineken dan Liga Champions UEFA merupakan contoh terbaik dari kasus ini. Pada 2013, perwakilan Heineken mengatakan bahwa Liga Champions telah meningkatkan angka kepekaan publik terhadap produk mereka hingga 60%. Memudahkan mereka untuk menjalin kerja sama dengan berbagai pub atau bar yang menayangkan Liga Champions UEFA. Meski menurut salah satu perusahaan iklan dan pemasaran Britania Raya, WARC, penjualan Heineken menurun di 2015, angka penurunannya tidak sampai satu persen (0,69%). Liga Champions UEFA jadi salah satu faktor dari kestabilan Heineken.

Bukan hanya Heineken, Chang Beer (Everton), dan Carlsberg (Liverpool) juga demikian. Walaupun tidak lagi ada di dada pemain the Reds, Calsberg tetap menjalin hubungan dengan pihak klub. Memperpanjang kontrak mereka hingga 2024, 31 musim membantu finansial Liverpool. Sementara Chang Beer terlibat dalam pembangunan akademi Everton. Keduanya kini sudah identik dengan klub sama seperti Heineken dan Liga Champions.

Tidak hanya perusahaan minuman alkohol saja yang mendapat percikan dari menjadi sponsor sebuah klub sepakbola, apparel juga demikian. Menurut Bloomberg, berkat kerja sama yang dibangun dengan Liverpool, New Balance bisa meraih ratusan juta Dollar. Tidak ada laporan apakah ekspektasi itu berhasil dicapai atau tidak. Hubungan kedua belah pihak retak dan harus diselesaikan melalui pengadilan. Tetapi, perusahaan apparel asal Amerika Serikat itu sempat berusaha meraup keuntungan terakhir mereka dari the Reds dengan merilis kostum spesial, merayakan gelar Liga Champions ke-enam klub.

Begitu juga dengan Under Armour saat mereka menjadi apparel Tottenham Hotspur. Kehadiran Under Armour di Liga Primer Inggris meningkatkan pemasukkan mereka hingga 30%. Under Armour tahu betul bagaimana identitas seorang atlet ataupun sebuah klub yang mewakili mereka sangat akan membantu pemasukan perusahaan. Mereka merupakan apparel yang naik daun berkat pengaruh Stephen Curry di NBA. Mengalahkan Nike yang mendominasi liga basket Amerika Serikat tersebut.

Begitu banyak perusahaan yang merasakan hal seperti ini. Tapi tidak dengan perusahaan-perusahaan yang menjadi sponsor Piala Liga Inggris dan alasannya sederhana, turnamen tersebut sejak lama tidak dianggap penting oleh publik. Suporter Manchester United bahkan sempat menyebut Piala Liga sebagai ‘Mickey Mouse Cup’ untuk mengejek rival mereka, Liverpool. ketika Manchester United menguasai Liga Primer Inggris dan beberapa kali menjadi kesebelasan terbaik Eropa, Liverpool hanya bisa berharap pada Piala Liga sebagai hiburan mereka. Sejak Jurgen Klopp menangani the Reds, kondisi berbalik.

Manajer Manchester United Ole Gunnar Solskjaer mengingatkan publik, terutama para pendukung Manchester United, bahwa Piala Liga adalah turnamen penting. Solskjaer sedang membentuk generasi baru di Manchester United dan tahu gelar pertama mereka akan sangat penting, sekalipun hanya Piala Liga. Lagipula, Patrice Evra, Nemanja Vidic, dan nama-nama lain yang merasakan kesuksesan terakhir Manchester United bersama Sir Alex Ferguson juga menjuarai Piala Liga sebagai piala pertama mereka.

Sementara Liverpool, menurunkan pemain-pemain akademi untuk menghadapi Aston Villa di perempat-final Piala Liga 2019/20. Lebih mengutamakan Piala Dunia Antar Klub yang juga dipandang sebelah mata oleh beberapa pihak. Tidak lebih dari cara FIFA untuk meraih keuntungan dengan mempertemukan para juara dari masing-masing benua di dunia. Tapi setidaknya, Piala Dunia Klub memberikan uang yang lebih besar untuk pemenang turnamen (3,75 juta Paun). Jauh di atas Piala Liga yang hanya memberikan dana 100 ribu Paun untuk pemenang turnamen.

Sepakbola profesional bukan lagi sekedar olahraga, tapi juga bisnis. Ketika uang yang diberikan Piala Liga tidak mengalami peningkatan, sementara alokasi dana dari kompetisi-kompetisi lain semakin besar, nilai turnamen tersebut akhirnya semakin jatuh. Bukan masalah jadwal padat, tapi uang. Urusan jadwal, para peserta divisi dua hingga empat Inggris harus menjalani 46 pertandingan per musim. Belum lagi Piala FA, dan EFL Trophy untuk kesebelasan-kesebelasan divisi tiga dan empat. Uang menjadi pembeda.

Piala Liga tidak memberikan hadiah uang kepada kesebelasan yang gagal mencapai semi-final. Mereka yang gugur di semi-final mendapat tambahan uang jajan 25 ribu Paun. Gagal di final? 50 ribu Paun atau setengah dari pendapatan juara akan masuk ke kantong. Artinya, ada 88 klub yang hanya bisa berharap dari penjualan tiket dan hak siaran setiap pertandingan. Itu pun dibagi untuk kedua klub, masing-masing 45%. Sisanya diberikan ke pihak penyelenggara.

Juara Piala Liga memang mendapatkan tiket Liga Eropa, tapi harus berhasil mengangkat piala. Jika klub peraih gelar juara sudah memiliki tempat di Liga Eropa atau Champions UEFA, tiket tersebut diberikan ke peringkat enam Liga Primer Inggris. Terlepas dari pencapaian mereka selama turnamen. Sejak 2015, pemenang Piala Liga selalu sudah memiliki tiket ke kompetisi antar klub Eropa.

https://twitter.com/maximedupuis/status/1174324576941219841">

Sekalinya ada harapan untuk tim non-Liga Primer Inggris menjuarai turnamen (Bradford City), mereka memilih untuk mundur sebelum berperang karena merasa tak sanggup memenuhi biaya akomodasi dan lain-lain ke luar negeri. Sikap Bradford itu kemudian membuat laga final Piala Liga 2013 kontra Swansea City berat sebelah. Michu dan kawan-kawan menjuarai turnamen dengan skor 5-0. Hingga 2019, skor itu adalah selisih terbesar dalam sejarah final Piala Liga yang sudah berlangsung sejak 1961.

Rumor untuk menghapus atau mengubah format kompetisi sudah beredar sejak lama. Ada ide untuk membuat Piala Liga disatukan dengan EFL Trophy. Diikuti 72 kesebelasan dari divisi dua hingga empat Inggris dan juga akademi klub Liga Primer Inggris. Masalahnya, keikutsertaan akademi klub Liga Primer Inggris di EFL Trophy saja sudah mendapatkan protes dari pihak suporter divisi tiga dan empat. Merasa klub kesayangan mereka direndahkan karena disejajarkan dengan akademi. Sementara di sisi lain, jika tidak ada perwakilan dari Liga Primer Inggris, pihak penyelenggara akan kesulitan mencari sponsor.

Kondisi Piala Liga Inggris seperti hidup segan, mati tak mau. Namun, peluang untuk kompetisi ini dihapus semakin besar. Badan Sepakbola Profesional Prancis (LFP) sudah setuju untuk menghapus Piala Liga di negara mereka mulai dari 2020/21. Menurut Maxime Dupuis dari Eurosport, turnamen tersebut dihapus karena alasan finansial. LFP gagal menemukan pihak yang mau menjadi rekan siaran pertandingan. Beruntung Piala Liga Inggris masih disiarkan Mola TV.

Tapi, LFP juga mengatakan hal ini dilakukan untuk mengurangi jadwal dan membantu mereka yang menjadi perwakilan Prancis di kompetisi antar klub Eropa. Jika kemudian prestasi klub Prancis di Liga Champions UEFA dan Europa meningkat setelah penghapusan tersebut, bukan tidak mungkin Inggris akan mengikuti jejak mereka, menghapus Piala Liga.

Komentar