Bepe Melompat, Hariono Menerjang

Cerita

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Death. Glory. Rock n Roll. Kontributor Pandit Football Indonesia.

Bepe Melompat, Hariono Menerjang

Jakarta dan Bandung sama-sama dirundung mendung. Salam perpisahan dan jutaan terima kasih kuyup membasahi hari terakhir ia yang ditahbiskan sebagai legenda: Bambang Pamungkas dan Hariono.

Sewajarnya, kita semua sepakat: Bepe (sapaan akrab Bambang) dan Hariono adalah ejawantah kebanggaan dan loyalitas tanpa batas; Bepe untuk Persija Jakarta, Hariono untuk Persib Bandung.

Mulai jadi tak wajar ketika, oleh sebab rivalitas antara kedua tim, segelintir suporter mengadu tingkat legendaris Bepe dan Hariono. Sungguh, tak habis pikir ada yang tega mendelegitimasi peran kedua pemain bagi lambang di masing-masing dada.

Kita kerap lupa bahwa sebelum menjadi figur publik, pertama-tama mereka adalah atlet, yang jelas bukan pilihan karier terbaik di Indonesia. Baik Mas Har (sapaan akrab Hariono) maupun Bepe pasti paham betapa ringkih dan sensitif dinamika industri yang mereka geluti; sempat `nganggur` sebagai profesional ketika PSSI dibekukan.

Tak cukup dengan masa depan yang limbung, setiap pesepakbola nasional juga harus berhadapan dengan persaingan kotor, jual-beli sportivitas, hingga buramnya jaminan kesejahteraan. Bahkan, dalam karier Hariono dan Bepe, ada darah tertumpah dan nyawa terenggut akibat fanatisme buta.

Bepe Melompat, ...

Terdapat dua arti legenda menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: (1) Cerita rakyat zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah/tokoh terkenal dan (2) Keterangan atau penjelasan pada gambar atau peta. Karier Bepe dan Hariono jelas memenuhi kriteria kedua makna meski dengan alur berbeda.

Jika berbicara loyalitas, bolehlah mengatakan bahwa Hariono `lebih setia` ketimbang Bepe. Faktanya, Mas Har memang senantiasa menjaga harkat dan martabat Pangeran Biru selama 11 tahun berturut-turut. Ini adalah capaian impresif mengingat budaya kontrak pendek di sepakbola Indonesia.

Sedangkan, Bepe-meski total usia kariernya di Persija (15 tahun) lebih panjang dibanding Hariono-pernah meninggalkan ibukota sebanyak dua kali. Ia membela Selangor FA (2005-2007), lalu `liburan` ke Bandung bersama Pelita Bandung Raya (2013-2014).

Tentu, fakta di atas tak serta merta membuat peran Bepe bagi Persija menjadi lebih kerdil ketimbang Hariono di Persib. Seperti fungsi legenda pada peta, karier Bepe adalah penunjuk arah bagi macan-macan baru Persija di generasi mendatang.

Kita akan selalu ingat keberanian Bepe hengkang ke PBR. Kejadian itu merupakan tamparan keras ke wajah manajemen Macan Kemayoran yang tengah didera masalah finansial.

Sepakbola, selain urusan emosional, memang juga urusan profesionalitas. Sebuah kesebelasan tak menjadi besar hanya karena pernah koleksi piala, apalagi usia (halo, AC Milan!). Sepakbola modern menuntut kesebelasan memiliki tata kelola yang akuntabel dan bertanggung jawab kepada para pekerja mereka.

Bepe sadar risiko yang bakal ditanggung. Seperti yang terucap dari mulutnya di tengah lapangan Stadion Utama Gelora Bung Karno (pada 17 Desember 2019), pemain asal Salatiga ini pernah "dianggap sebagai pengkhianat". Namun, pada akhirnya, bukankah Ia tetap pulang ke Persija tanpa membawa dendam?

Pesepakbola dan klub bukan ikatan sehidup-semati pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit seperti janji nikah. Mereka terikat oleh kontrak berkekuatan hukum yang harus dihormati kedua belah pihak. Maka: menggunakan romantisme-emosional sebagai normalisasi kesejahteraan yang terabaikan adalah kejahatan; bagi pesepakbola sebagai pekerja, juga bagi atlet sebagai manusia.

Klub sebesar Persija tak pantas menunggak gaji. Atau, lebih tepatnya: klub Indonesia yang (mengaku) profesional haram menunggak gaji. Di sini, terdapat pula tugas dan peran krusial federasi dalam bentuk ketegasan regulasi sebagai rumah dari keluarga besar sepakbola nasional. Bukankah itu cita-cita kita bersama?

...., Hariono Menerjang

Sehari setelah Bepe memainkan laga profesional terakhir (vs Kalteng Putra pada 21 Desember 2019), giliran Hariono ucapkan salam perpisahan kepada klub yang dibela dan suporter yang memuja.

Situasinya berbeda dengan Bepe. Mas Har berdiri di tengah lapangan Stadion Si Jalak Harupat bukan karena gantung sepatu, melainkan karena kontraknya bersama Persib tak diperpanjang.

Beda tangan, beda ucapan. Ketika mikrofon berada di tangan Bepe, suasananya haru oleh perasaan syukur. Ketika dahulu memungut satu per satu peralatan sepakbola yang dihambur-hamburkan oleh teman-teman sekelasnya, Ia pasti tak menyangka bisa punya ikatan yang nyaris terbilang spiritual dengan The Jakmania, hanya karena sepakbola dan Persija.

Ikatan serupa dimiliki Hariono dan Bobotoh karena Persib. Satu-satunya (eks) pemain Persib yang mampu menandingi adalah Atep. Bedanya, Atep adalah putra asli daerah, sedangkan Hariono-sama seperti Bepe-merupakan seorang perantau. Lihat, betapa hebatnya sepakbola mendobrak batas kedaerahan Nusantara.

Hariono boleh dibilang lebih beruntung ketimbang Atep. Walaupun perpisahan ini tetap dilandasi paksaan, Ia masih diberi kesempatan berpisah secara terhormat di hadapan bobotoh. Maka, ketika mikrofon itu berada di tangan Mas Har, suasana haru oleh hati-hati yang patah tak dapat terelakkan.

Kata-kata yang keluar dari mulut Si Gondrong (julukan Hariono) penuh dengan kekecewaan. Seperti pipe bomb pegulat WWE, CM Punk, terdapat ketidakpuasaan dalam suaranya. Dengan sisa-sisa serpihan ketegaran, Ia resmi `undur diri` dari Persib.

Mudah mengatakan Hariono tak cukup profesional karena mengkritik pelatih Robert Alberts secara terbuka di depan umum. Membuat seorang Hariono melakukan itu, ketika ia dikenal sebagai pemain yang jarang berbicara di media, jelas menunjukkan ada sesuatu di balik perpisahan ini. Tapi apapun argumennya, tidak ada yang bisa membantah ketulusan dan kejujuran kata-kata Hariono di malam tersebut.

"Apalah arti sebuah nama di punggung demi lambang di dada?" ucap Hariono. Ini adalah pelajaran paling berharga yang diwariskannya bagi Maung Bandung; Agar, di kemudian hari, tidak ada ego yang bisa memecah belah kesatuan tim.

Bagi klub sekelas Persib yang hampir selalu bertabur bintang, warisan Hariono itu amat penting. Ketika nanti ada pemain yang merasa lebih besar dari klub, cukup perlihatkan seragam bernomor punggung 24.

***

Rasanya tak berlebihan jika mengatakan bahwa ini adalah sebuah `privilese`. Momen ini menjadi sebuah nilai dan standar yang jarang dimiliki klub-klub Indonesia. Mau dengan cara melompat atau menerjang, Bepe dan Hariono sama-sama tak pernah berhenti tunjukkan cinta dan dedikasi bagi klub masing-masing; untuk setiap laga penuh tensi, untuk setiap kekalahan penuh maki, untuk setiap kemenangan penuh puji, untuk setiap inspirasi dan mimpi bagi generasi demi generasi.

Lantas, masihkah pantas kita membandingkan Bepe dan Hariono? Niscaya, peninggalan keduanya sama-sama bermanfaat bagi sepakbola Indonesia.

Komentar