Sepakbola Jadi Alat Perdagangan Manusia dari Afrika

Cerita

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

hidup di sebuah negeri yang rakyatnya jago main sepakbola, tapi tidak pandai mengurusnya.

Sepakbola Jadi Alat Perdagangan Manusia dari Afrika

Di bawah jendela yang retak, ada sebuah kasur tergeletak. Kasur itu tanpa seprai, hanya beberapa lembar kain yang ternoda. Alas tidur itu milik seorang remaja asal Senegal bernama Michael Diagana. Tampang pemuda itu murung, se-murung kisah hidupnya.

“Saya datang ke Eropa karena tidak punya pilihan lain dalam hidup. Seseorang yang mengatakan bahwa dia ingin membuat saya jadi pesepakbola profesional bicara pada orang tua saya lalu membawa saya ke sini,” ujar Michael kepada FourFourTwo pada 2011 silam.

Kurus, kurang gizi, dan dekil. Begitulah FourFourTwo mendeskripsikan Michael, remaja Afrika korban perdagangan orang. Michael adalah satu dari sekian banyak korban kejahatan perdagangan orang yang membentang di seluruh dataran Eropa.

Selang tujuh tahun, sebuah dokumen dari Football Leaks merilis hasil investigasi terhadap para pemain muda Afrika. Dalam artikel berjudul “How Clubs Profit By Exploiting Young African Talent” yang diterbitkan Der Spiegel pada 9 November 2018, terungkap fakta bahwa remaja asal Afrika ini telah dieksploitasi.

Mereka direkrut oleh akademi “Right to Dream” (RtD) yang terletak di tepi sungai Volta sebelah tenggara Ghana. Adapun akademi sepakbola itu merupakan aset milik klub asal Inggris, Manchester City. Sesuai namanya, anak-anak di Afrika yang bermimpi jadi pesepakbola hebat dapat merealisasikan cita-cita itu melalui RtD. Namun faktanya, lulusan RtD lebih sering dipinjamkan selama bertahun-tahun ke tim-tim antah-berantah seperti Stromsgodset di Norwegia, Breda di Belanda atau Örebro di Swedia. Tentu saja hal itu di luar ekspektasi mereka.

“Aku merindukan ibuku,” kata seorang anak berumur 10 tahun yang diwawancarai di RtD awal Oktober sebagaimana dikutip dari Der Spiegel. Si anak menelan ludah sebelum melanjutkan bahwa dia bisa menghubungi orang tuanya seminggu sekali. Teman-teman sekelasnya mengatakan bahwa mereka hanya punya waktu untuk berbicara di telepon pada akhir pekan. Selama sepekan, jadwal mereka sepenuhnya dikontrol oleh pihak RtD.

Nasib korban perdagangan orang, sama buruknya dengan nasib keluarga korban. Seorang ibu bernama Astou Mbeke tak kuasa menahan isak tangis kala diwawancara oleh FourFourTwo.

“Kami menjual rumah dan mobil, serta mengorbankan anak kami hanya untuk satu pertandingan. Hanya satu pertandingan, tidak lebih dari itu. Hidup kami jadi susah sekarang,” kata Mbeke yang mengaku tertipu dengan agen palsu.

Anaknya bernama Babacar, seorang bocah laki-laki yang gemar bermain sepakbola. Tiada yang spesial mengingat mayoritas anak di Afrika hobinya bermain sepakbola. Namun begitu ada orang asing yang mengaku sebagai agen datang ke rumahnya, mata Babacar langsung berbinar. Dia merasa akan menjemput masa depannya yang terang-benderang, padahal tidak.

Modus para agen palsu ini umumnya sama: mengaku sebagai perwakilan resmi klub-klub Eropa, lantas membujuk rayu keluarga korban. Mereka meminta sejumlah uang untuk tiket penerbangan dan akomodasi.

Para keluarga korban mengaku membayar dengan harga yang bervariasi. Ada satu keluarga yang keluar uang ratusan Paun, meski ada juga yang tertipu sampai empat ribu Paun. Bagi masyarakat Afrika yang hidup dalam garis kemiskinan, nominal itu pasti mencekik. Tidak heran, para orang tua langsung bangkrut demi mewujudkan harapan si anak.

“Dia (Babacar) menelpon beberapa hari setelah tiba di sana, dan mengatakan kepada kami bahwa dia ditinggal begitu saja oleh si agen dan tinggal di penampungan,” tutur Mbeke. Lebih parah, si agen palsu telah mengambil paspor dan meninggalkan Babacar tanpa uang.

Hal itu tentu beresiko karena si korban berkeliaran di negeri orang tanpa identitas, tanpa bekal. Selain itu, mereka coba mengadu nasib tanpa pendidikan. Sebagaimana banyak korban dalam perdagangan orang, mereka rela meninggalkan sekolah untuk ke Eropa. Iming-iming tembus ke industri olahraga sepakbola dengan upah besar, membuat korban tidak berpikir panjang.

Terkait tindak perdagangan orang di sepakbola, FIFA sudah menetapkan regulasi yang mana klub-klub dilarang mengontrak pemain di bawah usia 18 tahun. Namun apakah aturan tersebut efektif?

Di beberapa negara Afrika, akta kelahiran sulit didapat. Hal ini jadi celah yang amat disyukuri para agen. Mereka bisa memanipulasi usia anak-anak Afrika supaya mendapatkan izin kerja. Celah lainnya dalam peraturan ini adalah dengan mengakali perekrutan.

Pada 2007, FIFA menginvestigasi klub asal Denmark, FC Midtjylland. Hasilnya, patut diduga ada beberapa pemain di bawah umur yang terikat kontrak dengan klub. Namun klub berkilah dari tuduhan dengan menggunakan visa pelajar.

Para pemain berada di Denmark untuk kepentingan akademik dan bernaung di klub hanya sebagai pemain amatir. Artinya, klub dapat menggaji mereka dengan nominal yang rendah. Alhasil, FIFA menutup kasus tersebut karena hal itu dirasa wajar.

Di negara Belgia kisahnya lain. Pemain-pemain dari Afrika sengaja “diimpor” dengan masif. Rata-rata usia mereka adalah 17 tahun. Remaja-remaja ini ditahan oleh klub induk masing-masing hingga mendapatkan kewarganegaraan Belgia. Ketika resmi menjadi penduduk Belgia, para agen menjual mereka tanpa surat izin kerja yang memang sengaja tidak diurus. Tanpa izin kerja, klub akan mendapatkan pemain dengan harga murah, juga upah yang di bawah standar. Bagi agen, akan lebih mudah menjual harga murah tapi yang dijual banyak, daripada menjual satu pemain dengan harga selangit.

“Para pemain diperlakukan seperti sumber daya alam. Seperti pada masa kolonial Afrika, yang mana batu-batu serta mineral ditambang, dikeruk, dan dieksploitasi untuk kepentingan negara-negara di Barat,” tutur Jean-Marie Dedecker, dikutip dari majalah FourFourTwo.

Dedecker merupakan politisi terkemuka yang saat diwawancara pada tahun 2011, menjabat sebagai Senator Belgia. Dia menyelidiki sebuah skema perdagangan orang di Nigeria dan Ghana. Hasilnya, ditemukan operasi besar-besaran yang mayoritas korban adalah anak laki-laki di Afrika. Dedecker juga mengungkap bahwa sindikat perdagangan orang juga berpotensi memiliki relasi dengan prostitusi internasional dan penyelundupan narkoba.

“Kami tidak memiliki angka resmi, tapi berdasarkan pantauan LSM yang bekerja di sana, diyakini ada 15.000 pemuda Afrika yang ke luar wilayah Afrika setiap tahun dengan alasan sepakbola,” ujar Jean-Claude Mbvoumin kepada ESPN.

Mbvoumin adalah pendiri Culture Foot Solidaire (CFS), sebuah badan amal nirlaba yang mengaku terinspirasi mendirikan organisasi ini setelah melihat sendiri nasib anak-anak di Perancis yang memprihatinkan. Mantan pemain Timnas Kamerun itu pernah suatu ketika melewati kedutaan Kamerun. Dia saksikan sendiri sekelompok anak Afrika sedang nongkrong tidak karuan.

Lantas ia berpikir, “bagaimana mereka bisa sampai ke sini?”. Setelah berbincang, ditemukan fakta bahwa mereka semua adalah korban penipuan. Bahkan beberapa di antara mereka terjebak dalam suatu pekerjaan yang tak diinginkan, membuat status mereka jadi korban perdagangan orang. Saat itulah Mbvoumin tergerak hatinya dan segera menolong mereka.

“Jika saya tidak coba menjaga mereka, siapa lagi yang bakal melakukannya? Mereka ini dibuang oleh masyarakat Eropa, oleh sepakbola, bahkan sebagian mereka sudah dibuang dari keluarga. Untuk sekarang, inilah (di CFS) kehidupan mereka,” ungkap Mbouvin.

Sejak didirikan, CFS aktif membina para pemuda Afrika yang ditengarai menjadi korban tindak perdagangan orang. CFS memberi mereka makan dan tempat tinggal. CFS seolah menjadi sahabat bagi mereka yang luntang-lantung di Eropa. Kendati demikian, bukan hanya Eropa yang berlaku jahat terhadap para pemain Afrika.

Di Kamboja, ada tragedi yang menimpa Wilson Mene. Lelaki asal Nigeria itu dipaksa bermain meski dalam kondisi sakit. Di tengah cuaca panas Kamboja yang kala itu mencapai 37 derajat celcius, Mene berlari ke sana ke mari hingga ajal menjemput sebelum wasit meniup peluit akhir.

Di Laos, juga terdapat kisah pilu tentang pesepakbola asal Afrika. FIFPro, sebuah organisasi internasional yang membela hak-hak para pesepakbola, berhasil melepaskan 24 pemain di bawah umur dari perbudakan sepakbola. Mereka berusia 14 tahun dan diundang ke Laos oleh mantan pemain profesional asal Liberia, Alex Karmo.

Para pemuda dari Afrika itu dipaksa menandatangani kontrak bersama Champasak United selama enam tahun. Di kontrak, tertera dengan jelas bahwa mereka berhak atas bayaran dan akomodasi. Sebuah klausula standar dari kontrak pekerjaan.

Namun menurut laporan FIFPro pada Februari 2015, pemain muda ini tidak pernah menerima upah. Bahkan akomodasi mereka jauh dari layak. Terdapat 30 pemain yang tidur dalam satu ruangan. Mereka tentu berebut udara segar dan tidur dalam kondisi pengap.

Sementara Karmo bersikukuh bahwa para pemainnya dibayar dan juga diperlakukan dengan baik, setidaknya satu pemain menggambarkan kondisi di klub sebagai “kerja budak.” Para pemain juga ditolak perawatan medis meskipun beberapa anggota klub positif tertular penyakit malaria dan tifus.

Indonesia pun bukan tanpa cela terhadap pesepakbola Afrika. Pada 2016, Nwaneri Johnson, Anyanwu Ikechukwu Kennedy, dan Henry Chisom Iwu dideportasi oleh Kantor Imigrasi Kelas II Depok akibat berstatus melebihi izin tinggal (overstay).

Mereka bertiga datang dari Nigeria melalui sebuah agensi yang dengan meyakinkan akan mengubah nasib ketiganya menjadi lebih baik. Alih-alih dikontrak klub besar, mereka malah merumput di kompetisi antar kampung (tarkam). Lalu apa kabar agen yang menghubungi mereka? Tidak jelas asal-usulnya dan moksa begitu saja.

Rantai perdagangan orang berkedok sepakbola diperkirakan bakal terus terjadi selama Afrika masih serba kekurangan secara ekonomi. Michigan State University pernah menerbitkan artikel berjudul “African Footballer Should Not Be Treated as Commodity?” pada Juni 2014 yang menjelaskan mata rantai semacam ini dianggap menguntungkan para pihak yang terlibat.

Pemain bakal mendapatkan gaji lebih layak dan nasib yang lebih baik. Para agen pun turut memperoleh keuntungan. Lantas pemerintah negara si pemain berasal, merasa bangga melihat warga negaranya bermain di klub luar negeri, sehingga merasa tidak perlu membuat regulasi ketat terhadap para agen sepakbola atau klub-klub Eropa yang membangun akademi sepakbola. Inilah lingkaran setan perdagangan orang di Afrika yang menggunakan industri sepakbola sebagai kedok.

Baca juga seri Football Leaks lainnya di artikel: Football Leaks Beberkan Sisi Gelap Sepakbola

Komentar