Tantangan Baru Alphonso Davies

Cerita

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Tantangan Baru Alphonso Davies

Dua pemain sayap andalan Bayern Munchen, Franck Ribery dan Arjen Robben, usianya semakin tua. Ribery sudah 35 tahun; Robben hanya setahun lebih muda.

Perlu ada nama baru yang cukup potensial untuk menggantikan keduanya, agar sayap Bayern tetap bertaring. Bayern baru saja menemukan sosok tersebut. Namanya Alphonso Davies.

Pada Rabu (25/7), Bayern resmi merekrut Davies dari klub asal Kanada, Vancouver Whitecaps, dengan masa kontrak lima tahun. Juara bertahan Bundesliga itu menebus Davies dengan harga 13 juta euro. Walau sudah resmi direkrut, Davies baru akan bergabung dengan Bayern pada Januari 2019 mendatang.

Direktur Olahraga Bayern, Hasan Salihamidzic, mengaku sangat senang dengan bergabungnya Davies ke Bayern. Ia memuji setinggi langit pemain yang masih berusia 17 itu.

“Alphonso Davies adalah pemain dengan talenta besar. Ia punya masa depan yang cerah,” ujarnya.

Mendaratkan Davies ke Allianz Arena bukan pilihan keliru. Kendati masih hijau, Davies telah mencatatkan berbagai prestasi di negara tempatnya tinggal, Kanada.

Pendatang yang Sukses di Perantauan

Hidup sebagai pendatang, atau keturunan pendatang, tidak pernah mudah. Seseorang dituntut untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan baru yang disinggahinya. Tidak sedikit pula kasus para pendatang yang mendapatkan penolakan atau perlakuan tak menyenangkan dari masyarakat di tempat baru yang mereka singgahi.

Sebesar apa pun prestasi yang dipersembahkan Zinedine Zidane, Marcel Desailly, dan Lilian Thuram untuk Tim Nasional Perancis, tetap tak bisa menghindarkan mereka dari perlakuan rasialis Jean-Marie Le Pen beserta partai yang dipimpinnya, Front Nasional. Sehebat apa pun kontribusi yang diberikan Granit Xhaka, Xherdan Shaqiri, dan Valon Behrami untuk Tim Nasional Swiss, tak serta merta membuat mereka lolos dari pelecehan rasial yang beberapa kali pernah disulut oleh Partai Rakyat Swiss.

Akan tetapi apa yang dialami Alphonso Davies di Kanada adalah pengecualian. Kedua orang tuanya yang berasal dari Liberia, melarikan diri dari kampung halamannya ke Buduburam, Ghana, saat Perang Sipil berkecamuk di Liberia. Davies kemudian lahir di kamp pengungsian Buduburam, sebelum akhirnya pindah ke Kanada saat usianya menginjak lima tahun.

Awalnya Davies tinggal di Kota Windsor. Satu tahun kemudian ia pindah ke Kota Edmonton, yang berjarak cukup jauh dengan ibu kota Kanada.

Selama tinggal di Kanada, Davies dan keluarganya tak pernah mendapatkan perlakuan buruk dari masyarakat sekitar. Mereka tak pernah mengalami pelecehan rasial hanya karena berasal dari luar Kanada. Kanada tak ubahnya rumah yang memberikan perasaan nyaman dan aman bagi Davies.

Tak ayal ketika mendapatkan status sebagai warga Kanada pada 2017 lalu, Davies sangat senang dan bangga. “Adalah kehormatan untuk menyebut diriku sebagai warga Kanada. Aku sangat bangga karena kini aku menjadi bagian dari mereka [warga Kanada],” kata Davies.

Davies juga berterima kasih kepada orang tuanya yang telah membawanya ke Kanada. Bagi Davies, Kanada adalah tempat yang sangat aman.

“Aku juga sangat berterima kasih kepada orang tuaku atas apa yang telah mereka lalui selama bertahun-bertahun. Mereka telah membawaku ke tempat yang aman ini.”

Rasa nyaman dan aman telah membuat Davies bisa fokus meningkatkan kemampuannya mengolah si kulit bundar, hingga sukses meraih pelbagai prestasi. Saat usianya baru menginjak 15 tahun, Davies sudah mendapatkan kontrak profesional dari salah satu klub United League Soccer, Whitecaps FC 2. Ia pun memecahkan rekor sebagai pemain termuda yang dikontrak profesional oleh klub USL. Ia sukses mencetak dua gol dari 11 kali penampilannya bersama Whitecaps.

Satu tahun berselang, Davies direkrut oleh klub peserta Major League Soccer, Vancouver Whitecaps FC. Ia kembali mencatatkan rekor: pemain aktif termuda yang bermain di MLS. Walau saat itu usianya masih 16 tahun, Davies sudah sukses mencetak gol di ajang-ajang besar seperti CONCACAF Champions League dan Canadian Championship.

Penampilannya yang memukau membuat Tim Nasional Kanada tak ragu memanggilnya, walau usianya masih 16 tahun. Debutnya untuk tim nasional adalah saat Kanada menjalani pertandingan persahabatan melawan Curacao. Pertandingan yang membuat Davies (lagi-lagi) berhasil mencatatkan rekor: pemain termuda yang bermain untuk Tim Nasional Kanada.

Kemampuannya yang hebat ditambah rekor demi rekor yang melambungkan nama Davies membuat Bayern Munchen tak ragu memboyongnya. Di sana Davies akan bertemu para pemain yang sebelumnya hanya pernah ia temui dan mainkan di video game.

“Aku ingin melompat dan berteriak,” ujar Davies saat mengungkapkan perasaannya bergabung dengan Bayern. “Aku sangat antusias untuk bermain bersama para pemain terbaik dunia seperti Arjen Robben, Ribery, hingga Alaba. Para pemain itu sebelumnya selalu aku saksikan di televisi atau mainkan di game FIFA. Ini mimpi yang menjadi kenyataan.”

Ujian Sesungguhnya

Davies boleh berbangga berkat pencapaiannya bisa bergabung dengan Bayern Munchen. Akan tetapi ujian besar akan segera menantinya di Jerman.

Selain harus bersaing dengan pemain-pemain bintang untuk menembus skuat utama Bayern, Davies juga akan menghadapi lawan-lawan yang kualitasnya relatif jauh lebih baik dibandingkan dengan yang ia hadapi saat masih bermain di MLS.

Di luar sepakbola, Davies juga akan berhadapan dengan isu rasialisme yang sedang menghangat kembali di persepakbolaan Jerman, hingga membuat Mesut Ozil tak lagi ingin membela Tim Nasional Jerman selama masih merasakan rasialisme dan hinaan. Isu demikian tak pernah Davies temukan sebelumnya di Kanada.

Di depan, jalan yang akan dilalui Davies tidak mudah. Namun apabila ia berhasil melewati semua tantangan itu, namanya akan semakin benderang di kancah persepakbolaan dunia.

Komentar