Bagaimana Istanbul Menjadi Ibu Kota Sepakbola Turki

Cerita

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Bagaimana Istanbul Menjadi Ibu Kota Sepakbola Turki

Rasanya tidak berlebihan jika Istanbul disebut ibu kota sepakbola Turki. Empat peringkat teratas tabel klasemen sementara Liga Super Turki 2017/18 diduduki klub-klub asal Istanbul, dan jarak dari posisi empat ke lima adalah 14 poin.

Posisi puncak diduduki oleh Galatasaray dengan 63 poin. Besiktas dan Istanbul Basaksehir masing-masing menduduki posisi dua dan tiga; keduanya sama-sama memiliki poin 62. Fenerbahce menguntit 2 poin di belakang keduanya.

Dengan empat pekan tersisa, mustahil klub lain menggeser Istanbul dari zona Eropa. Akhir pekan ini, keempat klub Istanbul akan menjalani pertandingan—tiga di antaranya menjalani derbi.

Sabtu (28/4), Fenerbahce akan menjalani derbi di kandang Kasimpasa (posisi sembilan). Galatasaray akan menjamu saingan terdekatnya, Besiktas, di Turk Telekom Arena pada Minggu (29/4). Di hari yang sama, Istanbul Basaksehir akan bertandang ke ibu kota negara untuk menghadapi Osmanlispor.

Tentunya tiap-tiap pertandingan yang mereka jalani sangatlah krusial mengingat jarak poin di antara mereka yang begitu rapat. Andai salah satu dari mereka tergelincir, maka peluang meraih gelar juara liga akan menjadi taruhannya.

Penampilan keempat klub zona Eropa di pertandingan akhir pekan nanti juga semakin menarik untuk ditunggu, karena kondisi keempat klub tersebut saat ini sedang bagus-bagusnya—masing-masing berhasil menang di pertandingan sebelumnya (pekan ke-30).

Baca juga: Intercontinental Derby, Rivalitas Abadi Antara Fenerbahce dan Galatasaray

Dominasi klub-klub Istanbul bukan baru terjadi musim ini saja; hampir setiap tahun klub asal Istanbul menjadi kampiun Liga Super Turki.

Sejak Liga Super Turki dihelat untuk pertama kalinya pada 1959, tercatat hanya sekali klub dari luar Istanbul yang pernah menjuarai Liga Super Turki: Bursaspor pada musim 2009/10. Selebihnya, klub-klub Istanbul bergantian menjadi juara setiap musim.

Boleh dibilang, merajai Istanbul berarti merajai Turki. Galatasaray menjadi klub Istanbul yang paling banyak mengoleksi gelar liga sejauh ini, dengan raihan total 20 gelar.

Namun perlu diketahui juga, dominasi klub-klub Istanbul di dalam negeri tak berbanding lurus dengan kiprah mereka di kancah Eropa. Sampai saat ini, satu-satunya klub Turki yang pernah merasakan menjadi kampiun di ajang Eropa hanya Galatasaray. Itu pun sudah sangat lama, yakni pada musim 1999/2000 ketika mereka menjuarai UEFA Cup (sekarang bernama Europa League) dan UEFA Super Cup.

Beberapa faktor yang menyebabkan klub-klub asal Istanbul selalu mendominasi di sepakbola Turki adalah karena seringnya pemain-pemain besar Eropa bergabung dengan mereka. Hal ini tidak terjadi pada klub-klub lain di luar Istanbul.

Felipe Melo, Lukas Podolski, Hamit Altintop, hingga Maicon adalah nama-nama yang pernah memperkuat Galatasaray di tiga musim terakhir. Sementara Ryan Babel, Pepe, Ricardo Quaresma, Demba Ba, dan Mario Gomez adalah senarai pemain yang pernah bermain untuk Besiktas, juga di tiga musim terakhir.

Fenerbahce pernah diisi oleh nama-nama sekelas Luis Nani, Robin van Persie, Martin Skrtel, hingga Mathieu Valbuena. Kamar ganti Istanbul Basaksehir pun musim ini digunakan oleh Emmanuel Adebayor, Arda Turan, hingga Gael Clichy.

Bagaimana nama-nama besar tertarik ke Istanbul bisa ditarik lebih jauh. Jika ditilik dari sisi sejarah, Istanbul merupakan kota pertama di Turki yang menghelat kompetisi dan membentuk badan sepakbola.

Pada 1904, dua orang Inggris bernama James Lafontaine dan Henry Pears mendirikan Asosiasi Sepakbola Konstantinopel. Dari badan itu, lahir sebuah kompetisi sepakbola pertama di Turki yang dimainkan setiap hari Minggu, bernama Istanbul Sunday League. Kompetisi pertama itu hanya diikuti oleh empat klub.

Pada 1915, nama kompetisi berubah menjadi Istanbul Friday League. Kali ini sudah diikuti oleh lebih banyak tim dengan tujuh klub ambil bagian dalam kompetisi ini. Galatasaray yang dibentuk pada 1905 dan Fenerbahce yang berdiri pada 1907, sudah turut serta di kompetisi tersebut.

Seiring waktu, peserta kompetisi semakin bertambah; format kompetisi kian berkembang—hingga akhirnya Liga Super Turki lahir pada 1959 dan masih bertahan sampai sekarang.

Dengan demikian, menjadi cukup masuk akal mengapa sampai sekarang sepakbola Turki seakan terpusat di Istanbul. Selain punya keunggulan dari sisi materi pemain dibanding klub-klub lainnya di Turki, sejarah juga telah membentuk Istanbul menjadi kota dengan identitas sepakbola yang kuat.

Komentar