Stamford Bridge dan Remontada Tottenham Hotspur

Cerita

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Stamford Bridge dan Remontada Tottenham Hotspur

Roland Barthes, seorang filsuf dan ahli bahasa asal Prancis, pernah menjelaskan tentang proses pembentukan sebuah mitos di masyarakat. Menurutnya, satu kebiasaan yang dilakukan oleh suatu masyarakat dalam kurun waktu yang lama, akan membentuk satu makna kultural dalam masyarakat tersebut. Ketika makna itu sudah semakin dipercayai oleh banyak orang, maka makna itu akan berubah menjadi kepercayaan. Kepercayaan itulah yang disebut Barthes sebagai mitos. Ketika sudah menjadi mitos, makna itu akan menjadi kuat—sulit diganti oleh makna lain.

Dengan memenangi pertandingan semalam (Minggu, 1/4), Tottenham berhasil memutarbalikkan mitos tak pernah menang melawan Chelsea di Stamford Bridge. Ya, sulit menang di Stamford Bridge seakan telah menjadi mitos bagi Tottenham Hotspur, mengingat mereka terakhir kali bisa menang di markas Chelsea adalah pada Februari 1990.

Kebiasaan tidak pernah menang Tottenham di Stamford Bridge yang sudah berlangsung selama lebih dari dua dekade, bukan tidak mungkin telah terbentuk menjadi satu mitos tersendiri di kalangan pendukung dan skuat Tottenham Hotspur. Bagi mereka, memutarbalikkan mitos tersebut tentu merupakan hal yang sulit—jika kata mustahil dirasa terlalu berlebihan.

Tapi sepakbola selalu terbuka pada setiap kemungkinan. Jika Liverpool bisa membalikkan keadaan setelah tertinggal tiga gol dari Milan di final Istanbul 2005, atau ketika Manchester United mampu mencetak dua gol di injury time yang memastikan kemenangan mereka atas Bayern Munchen di final Camp Nou 1999, maka kesempatan Tottenham untuk menjangkau segala kemungkinan di Stamford Bridge pun sama terbukanya. Setiap tim mampu melakukan apa yang disebut dengan remontada.

***

Antonio Conte menurunkan formasi 3-4-2-1 dengan Alvaro Morata sebagai ujung tombak, sementara Tottenham tampil dengan formasi 4-2-3-1 dengan Heung-Min Son sebagai striker, menggantikan posisi Hary Keane.

Laga berjalan ketat sejak menit awal. Baik Chelsea maupun Tottenham masing-masing mampu menciptakan peluang. Chelsea bahkan sempat menciptakan gol pada menit ke-19 lewat Marcos Alonso, namun wasit menganulir gol tersebut karena Alonso sudah berada dalam posisi offside.

Baru pada menit ke-30, tuan rumah membuka keunggulannya. Umpan lambung yang dilepaskan Victor Moses dari sisi kanan disambut oleh Alvaro Morata dengan sundulan, membuat Chelsea sementara unggul satu gol. Gol ini merupakan gol pertama yang dicetak Morata di tahun 2018, setelah terakhir kali mencetak gol pada Desember 2017 ketika menghadapi Brighton and Hove Albion.

Setelah gol Morata tercipta, Tottenham semakin gencar melancarkan tekanan pada Chelsea. Ditambah lagi, Chelsea yang cenderung bermain bertahan dan mengandalkan serangan balik, membuat Tottenham lebih banyak menguasai bola. Dengan sabar tim asuhan Mauricio Pochettino ini membangun serangan dari belakang melalui operan pendek dari kaki ke kaki.

Pada menit ke-39, Eriksen berhasil menciptakan peluang untuk Tottenham. Dari luar kotak penalti, gelandang asal Denmark tersebut melepaskan tembakan jarak jauh yang terarah ke gawang. Namun tembakan Eriksen masih mampu diamankan oleh kiper Chelsea, Willy Caballero.

Baru pada masa tambahan waktu jelang turun minum, percobaan tambakan jarak jauh kedua Eriksen berhasil menembus gawang Chelsea. Usai menerima operan dari sisi kiri, Eriksen berdiri bebas di sepertiga pertahanan Chelsea. Fabregas dan N’Golo Kante yang berada didekatnya hanya membayangi tanpa melakukan tekanan berarti. Alhasil, setelah mendorong bola sekali, Eriksen melepas tembakan keras yang menukik dan menembus gawang Caballero. Skor 1-1 menutup babak pertama.

Di babak kedua Tottenham tak mengendurkan tekanan pada tuan rumah. Pada menit ke-60, tendangan jarak jauh yang terukur dari Heung-Min Son hampir membobol gawang Chelsea untuk kali kedua. Caballero berhasil menepis bola tersebut.

Selang satu menit kemudian, barulah gol kedua Tottenham tercipta. Gol yang dicetak oleh Dele Alli ini merupakan buah dari kecerdikan Eric Dier yang mampu membaca pergerakan Alli. Dari tengah lapangan, Dier melepas umpan terukur ke depan yang langsung disambut oleh Alli. Setelah sekali kontrol, Alli yang lolos dari jebakan offside mampu mengonversi bola tersebut menjadi gol dengan sontekannya.

Chelsea tersentak oleh gol itu. Mereka berupaya mengejar ketinggalan. Namun upaya-upaya yang dilakukan Chelsea tidak efektif. Beberapa kali tusukan Hazard dari sisi kiri atau tendangan jarak jauh yang dilepaskan Willian berhasil dimentahkan pemain bertahan Tottenham.

Sebaliknya, pada menit ke-65 Tottenham mampu menambah keunggulan. Berawal dari kemelut yang terjadi di kotak penalti Chelsea, bola yang liar berhasil dimanfaatkan Dele Alli untuk membobol gawang Chelsea kedua kali.

Tottenham semakin di atas angin. Para pendukungnya yang hadir di Stamford Bridge begitu meriah menyambut gol ketiga tim kesayangannya; ribuan tangan mereka terkepal meninju-ninju ke udara. Harry Keane pun tampak tak ingin absen dalam kegembiraan, ia turut berselebrasi bersama kawan-kawannya.

Chelsea masih berupaya sebisa mungkin untuk mengejar ketinggalan di sisa laga, namun upaya mereka mentah semua. Pertandingan pun berakhir untuk kemenangan Tottenham. Lewat remontada, Tottenham semakin kokoh di peringkat empat klasemen, sementara Chelsea, dengan hasil ini, tampaknya akan semakin sulit untuk bisa lolos ke Liga Champions musim depan.

***

Remontada merupakan istilah dari Spanyol untuk menggambarkan sebuah tim yang mampu memutar balikkan keadaan yang dianggap mustahil. Istilah ini awalnya lahir saat Piala Eropa memainkan pertandingan dua kali, tandang-kandang. Tim yang kalah di laga awal, lantas bisa menang di laga kedua—biasanya dengan skor mencolok—saat itu disebut sebagai tim yang telah melakukan remontada.

Dengan tiga gol yang berhasil dilesakkan Eriksen dan Alli di Stamford Bridge malam kemarin, maka Tottenham telah melakukan remontada mereka. Spurs telah berhasil memutarbalikkan sebuah mitos yang mungkin sebelumnya sudah kadung mengurat akar bagi mereka.

Komentar