Dari Pelabuhan ke Pelabuhan

Cerita

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Kontributor PanditFootball.com

Dari Pelabuhan ke Pelabuhan

Pelabuhan adalah tempat manusia berkisah lalu menjadi sejarah. Dari pelabuhan, roda ekonomi (dan kehidupan) terbangun. Dari pelabuhan, manusia meninggalkan bangsa sendiri, mencari tanah baru untuk dikencingi atau sekadar numpang mati. Dari pelabuhan jugalah hubungan Manchester United dan Liverpool menjadi seperti air dan api.

Inggris (Britania Raya) tidak memiliki banyak pilihan dalam hidup. Menjadi negara yang sekelilingnya adalah laut, maka mencelupkan kaki ke air adalah pilihan mutlak kalau mau mengenal hal-hal baru. Pemanfaatan laut sebagai sumber mencari makan telah dilakukan bangsa Inggris sejak sebelum masehi (SM), tepatnya Era Perunggu (1575-1520 SM).

Seiring berjalannya waktu, pertemuan dengan bangsa-bangsa lain di wilayah pesisir tentu tak terelakkan. Dalam sebuah periplus (manuskrip berisi daftar pelabuhan) milik kerajaan di Mediterania Timur, Phoenica (1500-539 SM), terdapat rute perjalanan maritim ke tanah Britania. Kegiatan tukar-menukar barang ini memang diperkirakan gencar dilakukan sejak Era Besi Britania (800 SM-100 masehi), hingga akhirnya bangsa Inggris menemukan sistem uang dan mengenal ilmu-ilmu berdagang yang lebih menguntungkan.

Ketika itu, apa pun bisa diperjualbelikan: makanan, pakaian, jasa, senjata, hewan, tumbuhan, dan tentu saja manusia. Untuk diketahui, manusia memang sudah menjadi komoditas di Eropa sejak Era Perunggu, lebih tepatnya peradaban Mycenean Yunani (1600-1100 SM).

Urusan perdagangan budak, Inggris merupakan salah satu negara ‘termahsyur’ dalam sejarah. Mereka adalah raksasa dalam Perdagangan Budak Atlantik, bersama dengan Portugis, Prancis, Spanyol, dan Belanda.

Bangsa-bangsa Eropa itu, dengan membawa semangat kolonialisme, datang ke Afrika untuk mengantarkan bahan-bahan manufaktur. Sebagai bayarannya, mereka mendapatkan budak, yang kemudian dijual ke Amerika. Ketika pulang ke Eropa, mereka membawa oleh-oleh berupa hasil-hasil pertanian, seperti tembakau dan gula. Rute ini dikenal dengan sebutan Rute Perdangangan Segitiga.

Tidak semua budak dijual di Amerika. Ada juga memang yang sengaja dibawa pulang sebagai hadiah untuk istri, anak, atau siapa pun yang membutuhkan.

“Mama, George Hanger (seorang letnan kolonel tentara Inggris), mengirimiku seorang anak kulit hitam berumur 11 tahun dan sangat jujur, tetapi Duke tidak ingin aku memiliki budak berkulit hitam… Jika mama lebih menyukainya ketimbang (menyukai) Michel (nama budak lain), aku akan mengirimkannya. Ia akan menjadi seorang budak murah dan mama bisa menjadikannya seorang Kristiani dan anak baik; jika mama tidak menyukainya, mereka mengatakan bahwa Ratu Rockingham menginginkannya,” tulis Duchess of Devonshire, Georgiana Cavendish, dalam suratnya kepada ibunya, Georgiana Spencer.

Problem seperti yang dialami oleh Georgiana Cavendish dirasakan oleh hampir seluruh masyarakat kelas menengah ke atas Inggris di tahun 1700-an. Semakin lama, jumlah budak yang disimpan sebagai stok semakin banyak. Ratu Elizabeth bahkan pernah mengeluh karena London sangat padat dengan budak kulit hitam. Selain London, ada beberapa kota lain yang juga menjadi sentra perdagangan budak, yaitu Bristol, Bath, Lancaster, dan Liverpool.

Pengaruh Revolusi Industri

Kota Liverpool adalah salah satu pelabuhan terbaik dunia di eranya, dan mendapatkan keuntungan luar biasa besar berkatnya. Pertumbuhan ekonomi Liverpool meningkat tajam sepanjang paruh kedua abad ke-18. Diperkirakan, lebih dari 5.300 (sekitar 75% dari total) kapal budak di Eropa berangkat dari Liverpool. Sekurang-kurangnya, 3,5 juta budak Afrika pernah menginjakkan kakinya di Liverpool.

Saat masyarakat Liverpool tengah berbahagia atas industri perbudakan, terdapat sebuah industri baru yang siap bersaing: baju katun. Perlahan tapi pasti, bahan katun berhasil menggeser wol yang sebelumnya adalah salah satu industri tekstil terbesar di Inggris. Tepat ketika perbudakan dihapus berkat undang-undang Slavery Abolition Act 1833, terjadilah revolusi industri. Produksi katun yang tengah naik daun melesat ke puncak kejayaan, dan tawa di kota Liverpool bergeser ke Manchester.

Manchester memang merupakan salah satu pusat produksi tekstil Inggris. Namun, berkat revolusi industri dan kepopuleran baju katun, Manchester naik kasta menjadi kota industri tekstil dunia. Mereka ditahbiskan sebagai kota industri pertama di dunia. Cottonopolis adalah julukannya.

Baca juga: Mimpi Sir Alex Ferguson Itu Kini Menjadi Kenyataan

Pergeseran episentrum bisnis berskala masif ini membuat nafas (dan dompet) warga Liverpool kembang-kempis. Tidak sedikit yang memutuskan untuk berlayar, mencari peruntungan baru ke Amerika Utara, Australia, atau Selandia. Jika ada satu hal menjadi harapan terakhir kota Liverpool, itu adalah fakta bahwa Manchester bukan wilayah penghasil kapas. Bahan dasar baju katun itu didapatkan dari kapal-kapal luar negeri yang pasti melewati pelabuhan Liverpool terlebih dahulu, kemudian baru mencapai garis finis di Kanal Manchester.

Scousers (sebutan bagi warga asli Liverpool), yang masih merasa jemawa atas pendapatan mereka selama era kejayaan perbudakan, menilai bahwa para Mancunian (sebutan bagi warga asli Manchester) berada satu kasta di bawah mereka. “Tuan-tuan kota Liverpool mengimpor kapas, pria Manchester membuatnya menjadi baju” adalah sentimen yang terkenal di Liverpool.

Biaya tinggi yang dipatok pelabuhan Liverpool rupanya membuat para pengusaha di Manchester kesal. Mereka merasa kota Liverpool berusaha mengambil keuntungan secara berlebihan. Akibatnya, terdapat pula stigma dari Manchester bahwa warga Liverpool adalah “para pemalas”.

Demi mengurangi pengeluaran, seorang pebisnis bernama Daniel Adamson mencetuskan ide untuk membangun jalur perairan yang menghubungkan Kanal Manchester langsung ke laut. Ide itu sempat mendapatkan perlawanan dari pemerintah kota Liverpool, tetapi pada akhirnya mereka tidak bisa berbuat banyak dengan terbitnya Act of Parliament pada 1885.

Ketika kanal resmi dibuka pada Januari 1894, pelabuhan Manchester langsung menjadi pelabuhan tersibuk ketiga di Inggris. ‘Dendam’ terhadap kota Liverpool terbayar lunas.

Adapun kota Liverpool semakin terpuruk, pemutusan hubungan kerja semakin merajalela (sebelumnya telah terjadi PHK besar-besaran ketika Long Depression, resesi ekonomi dunia akibat revolusi industri), dan kebencian terhadap Manchester terlahir.

Lanjut ke halaman berikutnya

Komentar