Rasyid Bakri, Berlari Tanpa Alas Kaki Menuju Gelandang Terbaik

Cerita

by Gunanda Hasdiansyah 65503

Gunanda Hasdiansyah

Pecandu game Football Manager yang mencintai sepak bola dengan segala keindahannya

Rasyid Bakri, Berlari Tanpa Alas Kaki Menuju Gelandang Terbaik

Berlari di lapangan atau di jalanan menjadi sebuah pemandangan biasa di era 90an. Gelak tawa dan teriakan tak pernah berhenti menggema ke seluruh penjuru lapangan. Sandal yang digunakan keluar dari rumah pun menjelma menjadi pembatas gawang.

Anak laki-laki itu berlari menggiring bola menuju gawang tanpa alas kaki. Terik mentari dan peluh keringat yang keluar dari dahinya tak ia hiraukan, ia ingin membawa bola itu masuk ke dalam gawang. Anak laki-laki berusia delapan tahun itu hanya berpikir untuk terus berlari, tak sekalipun ia berpikir untuk menjadi salah satu pemain yang akan memperkuat Timnas Indonesia.

“Pertama main bola itu umur delapan tahun masih kelas dua atau tiga SD, main bolanya sekitar rumah, telanjang kaki belum pake sepatu,” tutur anak kecil yang sekarang sudah menjadi gelandang PSM Makassar.

Nama anak laki-laki yang kami ceritakan di awal tadi adalah Rasyid Bakri, gelandang PSM, yang sudah mencintai sepakbola sejak kecil. Kami menemuinya pada Kamis (16/02), di sela-sela jam istirahatnya dalam mengarungi turnamen Piala Presiden 2017, untuk mengetahui bagaimana ia bisa menjadi seperti sekarang.

Dari Gowa Menuju Eiffel

Seperti di awal tadi, Rasyid sudah bermain sepakbola sejak usianya delapan tahun. Bermain sepakbola dengan semangat tanpa alas kaki adalah kesehariannya. Dari semangat yang ia tunjukkan, sang orangtua pun yakin, suatu hari nanti anak mereka akan menjadi pemain besar. Keyakinan ini membuat orang tuanya membelikan sepatu bola di toko pinggir jalan.

Sang ayah adalah salah satu yang memiliki andil besar melihat bakat sang anak. Tak segan-segan ia antar anaknya tersebut pergi ke lapangan untuk bermain. SSB Kaligowa yang berada di dekat rumah pun menjadi tempatnya belajar dasar sepakbola. Bertahun-tahun berlatih di SSB dekat rumah, bakat Rasyid semakin menonjol. Tak ingin menyia-nyiakan potensi besar untuk perkembangan bakat anaknya ini, ia membawa Rasyid ke kota Makassar untuk mengikuti SSB MFS (Makassar Football School) 2000 yang dibimbing oleh Diza Rasyid Ali, mantan manajer PSM.

Ia menceritakan pengalaman terbaiknya saat bermain di MFS 2000 yaitu mengikuti turnamen Danone Nations Cup di Prancis. ”Luar biasa, karena pertama sekali naik pesawat ke Jakarta, pertama sekali lihat Jakarta, pertama kali lihat gedung-gedung tinggi, untuk keluar negeri pertama kali naik pesawat berjam-jam dan melihat menara Eiffel,” ujar Rasyid.

Mungkin, jika tak serius bermain sepakbola saat itu, ia tak akan mengalami rasanya merumput di luar negeri.

Debut Profesional Hingga Menjadi Gelandang Terbaik ISC A

Debut profesional dimulainya bersama PSM Makassar saat melawan Persiba Bantul di Stadion Mattoanging pada laga Indonesia Primer League Desember 2011. Walaupun ia sudah belasan tahun bermain sepakbola, tapi memulai debut profesional pertama kalinya ternyata tetap saja membuatnya tak bisa tidur dengan tenang.

Melihat jumlah penonton ribuan dan sorotan kamera televisi berada di sekeliling lapangan saat pertandingan membuat ia semakin deg-degan. Akhirnya ia bisa menghembuskan nafas lega ketika angka di papan menunjukkan skor 2 – 1, kemenangan untuk PSM.

Setelah debut tersebut, Rasyid mulai sering dipercaya bermain oleh Petar Segrt, pelatih PSM ketika itu. Hal ini juga yang pada akhirnya membuat pemain berusia 26 tahun ini menganggap pelatih asal Kroasia tersebut sebagai salah satu yang berjasa dalam kariernya.

“Saya pikir semua pelatih berjasa buat saya, khususnya yang SSB yang memberi latihan dasar-dasar kepada saya. Tapi untuk karier profesional mungkin coach Petar Segrt, pelatih pertama saya di PSM yang memberikan kesempatan untuk langsung bermain dari menit pertama, hampir satu musim itu hampir main terus,” ungkap pemain yang pernah mencetak gol dalam laga uji coba Timnas U-23 melawan AS Roma di Italia.

Debut pertama meninggalkan kesan luar biasa baginya, sejak saat itu pula Rasyid sedikit demi sedikit mulai menjelma sebagai salah satu gelandang dengan kualitas mumpuni di Indonesia. Mulai dari masuk ke dalam skuat timnas Indonesia di Piala AFF 2012 di bawah asuhan Nil Maizar hingga menjadi gelandang terbaik Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016 lalu.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Komentar