Sang Penyihir dari La Plata Itu Kembali Lagi

Cerita

by Muhammad Firza Richsan

Muhammad Firza Richsan

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Sang Penyihir dari La Plata Itu Kembali Lagi

Dengan tubuh tinggi tegap mencapai 1,86cm, kepala plontos yang dihiasi anting di telinga kanan-kirinya, membiarkan kumis dan jenggot tebalnya tumbuh, serta tidak lupa merajah lengannya dengan tato Che Guevara, membuat Juan Sebastian Veron lebih cocok untuk menjadi seorang bajak laut dibandingkan menjadi seorang pesepakbola.

Akan tetapi, memang demikian adanya, Veron merupakan seorang pembajak. Ia memang tidak membajak di laut, melainkan di atas lapangan hijau. Bekerja keras dengan bergerak ke semua penjuru lapangan, tidak ragu untuk beradu fisik dan melancarkan terjangan, namun dimiliki visi dan teknik yang mengagumkan, juga dibekali tendangan keras jarak jauh yang sering menghadirkan harta karun bagi timnya, yaitu kemenangan.

Juan Sebastian Veron lahir di kota La Plata, Argentina pada tanggal 9 Maret 1975. Ketika prosesi persalinannya, tidak ada sosok sang ayah yang mendampingi ibunya. Pada hari kelahirannya, kota La Plata memang sedang membara, apalagi kalau bukan karena pertandingan derby yang mempertemukan Estudiantes La Plata dengan rival terbesarnya dari kota yang sama, Gimnasia La Plata.

Ayah Veron, yang bernama Juan Ramon Veron, memang turut hadir dalam pertandingan itu. Kehadirannya bukan sebagai penonton, melainkan sebagai pemain. Juan Ramon Veron memang menjadi idola publik Estudiantes, dirinya pun merupakan pemain kunci dari klub berjuluk El Lion tersebut, jadi, kehadirannya memang sangat diharapkan oleh para suporter Estudiantes saat itu. Pemain yang memiliki julukan La Bruja atau si penyihir itu pun mau tidak mau meninggalkan istrinya sejenak di rumah sakit, dan melewatkan prosesi kelahiran anak pertamanya.

Pada medio 60’an, Juan Ramon Veron memang menjadi pemain yang jempolan di Argentina. Beberapa trofi pun berhasil digaet oleh Estudiantes berkat sumbangsih dirinya. Di antaranya trofi Piala Libertadores tahun 1968, yang menjadi trofi pertama bagi Estudiantes di ajang itu, diraih berkat hattrick yang diciptakan oleh Juan Ramon Veron.

Bukan hanya itu, Juan Ramon Veron pun menjadi figur penting Estudiantes dalam meraih Piala Intercontentinental 1968 (kini bernama piala dunia antar klub). Sundulan yang dilesakannya ke gawang Manchester United di Old Trafford, membuat George Best, Denis Law, Bobby Charlton dkk. harus gigit jari dibuatnya.

Bakat sepakbola Juan Sebastian Veron memang turun langsung dari ayahnya. Sejak kecil, Veron terlihat memiliki masa depan yang cerah di dunia sepakbola. Dimasukan ke akademi Estudiantes, Veron lebih memilih untuk menjadi seorang gelandang, dibanding mengikuti jejak sang ayah yang bermain sebagai sayap kiri. Pada tahun 1993, Veron menandatangani kontrak profesional pertamanya, ketika itu dirinya masih dimainkan di Estudiantes U-20.

Satu tahun berselang, Veron akhirnya dipromosikan ke tim utama. Satu tempat di posisi inti langsung menjadi miliknya. Dirinya pun diberi julukan yang sama seperti sang ayah, La Brujita, atau si penyihir kecil. Di akhir musim, Veron berhasil membawa Estudiantes kembali promosi ke Argentina Primera Divisi, setelah berkutat di Primera Divisi B pada musim-musim sebelumnya.

Akan tetapi, kebersamaan Veron di tim utama klub kecintaannya itu hanya bertahan selama satu setengah tahun. Boca Juniors datang memberikan tawaran, dan itu merupakan tawaran yang tak bisa ditolak oleh para pesepakbola Argentina pada umumnya. Boca Juniors adalah tim impian, apalagi di dalamnya terdapat sosok fenomenal bernama Diego Maradona yang menjadi panutan.

Veron pun akhirnya menyebrang ke kota Buenos Aires pada bulan Februari 1996 dengan dana transfer sebesar 2,2 juta Euro. Bersama Boca, permaianannya semakin matang. Kematangannya itu membuatnya menjadi santapan lezat para klub Eropa yang mulai mencium namanya.

Adalah pelatih asal Swedia, Sven-Goran Eriksson, yang begitu menggebu-gebu untuk mengangkutnya ke Sampdoria. Kesepakatan pun terjadi di antara keduanya, itu artinya kebersamaan Veron bersama Boca pun bertahan dengan sangat singkat, hanya sekitar enam bulan. Veron pun akhirnya terbang ke Italia pada bulan Juli 1996 dengan dana transfer yang dirahasiakan.

Veron memulai debutnya ketika bertandang ke Stadio Renato Curi, markas Perugia. Sayang, debutnya ternodai oleh kekalahan 1-0 yang diderita Sampdoria di pertandingan tersebut. Sedangkan gol pertamanya bagi Sampdoria terjadi pada pekan ke-6 ketika mereka menang 2-0 atas tamunya, Atalanta. Bersama Sampdoria, Veron, bertahan selama dua musim dengan keberhasilan mencetak tujuh gol dari 61 laga.

Penampilan apiknya memang mengundang tim-tim Serie-A lainnya untuk meminangnya. Adalah Parma yang berhasil mendapatkan jasanya pada tahun 1998. Dana sebesar 17,5 juta Euro pun menjadi penanda hijrahnya Veron ke Ennio Tardini, markas Parma. Di tahun yang sama, dirinya terpilih ke dalam skuat Argentina yang akan berlaga di ajang Piala Dunia 1998 Prancis.

Di ajang itu, Veron pun selalu menjadi pilihan utama pelatih Daniel Passarella. Namun sayang, langkah Argentina harus terhenti di babak delapan besar setelah dijungkalkan oleh Belanda dengan skor 2-1. Walau demikian, Veron berhasil terpilih sebagai pemain dengan jumlah asis terbanyak di ajang itu. di mana dirinya berhasil monerahkannya sebanyak tiga kali.

Di musim pertamanya bersama Parma, Veron, langsung menunjukan sihirnya. Bahu-membahu bersama Alain Boghossian dan Dino Baggio di lini tengah, Veron berhasil menyumbangkan dua trofi sekaligus bagi Parma. Trofi tersebut adalah Coppa Italia, di mana Parma berhasil menang aggregat atas Fiorentina di laga final. Sedangkan trofi yang kedua adalah UEFA Cup. Di laga final yang dilangsungkan di Moskow itu, Parma berhasil membantai Olympique Marseille dengan skor 3-0.

Melihat performa yang ditunjukannya bersama Parma, membuat pemilik Lazio, Sergio Cragnotti, tak tahan untuk mendapatkan potensinya. Cragnotti pun dengan cerdik memanfaatkan sosok Sven-Goran Eriksson, yang ketika itu telah melatih Lazio, untuk terus menggoda Veron agar mau pindah ke ibu kota. Veron, yang telah mengangap Eriksson sebagai ayah pun akhirnya luluh. Dana sebesar 30 juta Euro yang diminta Parma pun bukan menjadi persoalan bagi Lazio. Veron pun akhirnya resmi bergabung pada tahun 1999, dan menjadikan dirinya sebagai pemain dengan bayaran gaji tertinggi di klub.

Bersama Lazio, penampilan Veron semakin melejit. Dirinya pun berhasil membantu Lazio menjadi salah satu klub yang cukup disegani di Eropa. Trofi pertamanya bersama Lazio terjadi satu bulan setelah dirinya bergabung. Adalah UEFA Super Cup yang mempertemukan Lazio, sebagai pemenang liga Europa, dan Manchester United, sebagai pemenang liga Champions. Ketika itu Lazio berhasil menang tipis 1-0 melalui gol yang dicetak oleh Marcelo Salas. Di laga tersebut, Veron berhasil terpilih menjadi man of the match.

Musim 1999/2000 memang menjadi puncak karier bagi seorang Juan Sebastian Veron. Di musim itu, predikat sebagai pemain top dunia, melekat pada dirinya. Lazio pun berhasil dibawanya meraih double winners dengan raihan Serie-A dan Coppa Italia, serta Supercoppa Italiana 2000. Di akhir musim, nama Veron terpilih masuk ke dalam European Sport Media Team of the Year 1999-2000. Di daftar itu, namanya bersanding bersama pemain-pemain top lainnya seperti Luis Figo, Rivaldo, Paolo Maldini, dan Raul Gonzales.

Pindah ke Inggris Menjadi Takdir Terburuk Bagi Veron

Pada tahun 2000, Veron berada di bawah pengawasaan kepolisian Italia. Dirinya dicurigai membuat paspor palsu Italia untuk menghindarikan dirinya dari kuota pemain non Uni-Eropa. Walau pada akhirnya ia terbukti tidak bersalah, namun tetap saja kasus ini sempat mencoreng nama baiknya. Manchester United pun mencoba memanfaatkan situasi ini.

Dengan mahar sebesar 28,1 juta paun, Veron akhirnya berhasil diangkut ke Old Trafford. Kepindahan ini pun menjadikan dirinya sebagai pemain termahal dalam sejarah liga Inggris saat itu. Ditanya mengenai alasan kepindahannya ke Inggris, Veron, menjawabnya dengan penuh percaya diri, “saya merasa tertantang dan tidak takut dengan liga Inggris.”

Sementara Ferguson mengungkapkan jika Veron merupakan sosok yang bakal menjadi pembeda di setiap pertandingannya. “Anda hanya perlu satu pemain yang dapat menjadi pembeda. Orang-orang ingin mendapatkan yang terbaik ketika menonton permainan United, dan kita telah mendapatkan sosoknya,” ujar Ferguson seperti yang dikutip Guardian.

Kedatangannya pun disambut gembira oleh para penggemar United, mereka berterima kasih kepada Sir Alex Ferguson karena telah berhasil mendatangkan gelandang terbaik di dunia. Penjualan jersey bernama Veron, bersama van Nistelrooy, pun menjadi yang paling laris tahun itu.

Di musim pertamanya bersama United, Veron berhasil memainkan laga sebanyak 40 kali di semua kompetisi. Walau demikian, penampilan yang ditunjukannya tidaklah secemerlang ketika berseragam Parma dan Lazio. Di musim itu, Veron hanya mampu menorehkan lima gol bagi United.

Selepas musim selesai, Veron masih berkutat dengan cedera. Ia merasa was-was karena piala dunia 2002 sudah berada di depan mata. Namun beruntung, Veron berhasil sembuh di waktu yang tepat. Ia pun akhirnya jadi berangkat ke Korea-Jepang. Bukan hanya itu, pelatih Argentina, Marcelo Bielsa, menjadikan dirinya sebagai kapten tim. Argentina pun menjadi unggulan pertama untuk menjadi juara di turnamen tersebut.

Bergabung di Grup F bersama rekan-rekannya di United yang menjadi bagian dari timnas Inggris, juga dengan mantan pelatihnya, Sven-Goran Eriksson di sisi Swedia, ternyata menjadi nasib sial bagi Veron. Argentina, juga dirinya, bermain jauh dari yang diharapkan. Argentina pun akhirnya gagal lolos ke babak berikutnya setelah hanya mampu duduk di posisi ketiga di bawah Swedia dan Inggris. Hasil ini pun membuat nama Veron menjadi bahan cemoohan masyarakat Argentina.

Kesialan Veron nampaknya tidak berhenti sampai di situ, di musim keduanya bersama United, ia kesulitan untuk bermain klop dengan strategi yang diusung Ferguson. Permainan buruknya pun menjadi sasaran empuk bagi para media Inggris yang terkenal kejam. Ferguson, yang merasa Veron merupakan tanggung jawab dirinya, akhirnya memberikan pembelaan terhadap anak buahnya itu. Merasa jengah dengan keusilan yang dilakukan oleh para wartawan, Ferguson menjawabnya dengan penuh amarah "he is a "f**king great player, and you`re all f**king idiots."

Keadaan ini pun coba dimanfaatkan oleh Claudio Ranieri. Ranieri, yang mengkombinasikan sepakbola Inggris dan Italia di Chelsea, mencoba untuk memanfaatkan karier Veron. Dana sebesar 15 juta paun pun disodorkan kepada Manchester United. Ferguson, yang merasa sudah tidak membutuhkan lagi dirinya, menyetujui tawaran itu walaupun United harus mengalami kerugian yang cukup besar. Pada tahun 2003, Veron pun resmi berseragam Chelsea.

Asa yang tinggi sempat membumbung kembali di diri Veron. Di laga debutnya bersama Chelsea, dirinya menjadi penentu kemenangan melalui golnya yang dicetak ke gawang Liverpool di laga tandang. Akan tetapi, keberuntungannya hanya bertahan sampai di situ. Cedera kembali menjadi penghambat bagi kariernya. Hingga akhir musim, Veron hanya mampu bermain sebanyak 14 kali bagi Chelsea, dengan delapan kali di antaranya turun sebagai pemain pengganti.

Ranieri pun akhirnya dipecat, Jose Mourinho, sebagai manajer pengganti menolak untuk memasukan nama Veron untuk menjadi bagian dari rencananya. Veron pun akhirnya dipinjamkan ke Inter Milan, bersama Inter, Veron berhasil menunjukan performanya seperti sedia kala. Dirinya menjadi pemain kunci bagi Inter dalam meraih gelar Coppa Italia 2004-05, 05,06, juga Serie-A 2006.

Veron pun akhirnya buka mulut soal kegagalannya tampil cemerlang di Inggris. Ia mengaku kesulitan jika harus terus berlari dan berlari. Sementara ia lebih menyukai sepakbola yang lebih mengandalkan taktikal seperti di Italia. Mungkin alasan itulah yang membuat performa Veron kembali cemerlang semenjak kepulangannya ke Italia.

Kembali ke Argentina untuk Menghabiskan Sisa Kariernya

Pada musim 2006-07, Veron menolak untuk memperpanjang masa pinjamannya di Inter Milan karena ingin kembali bermain di tanah kelahirannya, Argentina. Kabar ini pun langsung direspon cepat oleh dua raksasa Argentina, Boca Juniors dan River Plate, yang mencoba memboyongnya.

Namun Veron bergeming, hanya satu nama yang menjadi alasannya untuk pulang ke Argentina, yaitu Estudiantes La Plata. Veron pun akhirnya bereuni dengan klub masa kecilnya itu setelah Chelsea menyetujui klausul peminjaman dengan opsi pembelian permanen yang diajukan oleh Estudiantes.

Pada musim itu pula, Veron berhasil membawa Estudiantes menjadi juara Apertura untuk pertama kalinya dalam 23 tahun terakhir setelah mengalahkan Boca Juniors di babak final. Fans Boca yang tidak terima pun menjadikan dirinya sebagai olokan, mengacu pada penampilan buruknya di piala dunia 2002 lalu.

Bersama Estudiantes juga lah Veron berhasil menyamai pencapaian yang dilakukan oleh ayahnya dengan berhasil menjuarai Piala Libertadores pada tahun 2009. Namun harapannya untuk sama-sama memenangi trofi piala dunia antar klub harus pupus di tangan Barcelona. Di ajang tersebut, Veron meraih penghargaan runner-up pemain terbaik di bawah Lionel Messi.

Di tahun 2010, Veron berhasil masuk ke dalam skuat Piala Dunia. Keputusan pelatih Argentina saat itu pun, Diego Maradona, mendapatkan kritikan. Masyarakat Argentina sejatinya menginginkan sosok Juan Roman Riquelme yang berangat ke Afrika Selatan. Dan benar saja, Veron tidak dapat berbuat banyak di ajang tersebut, ia pun kembali mendapatkan cemoohan dari masyarakat Argentina, kecuali dari supporter Estudiantes tentunya.

Memutuskan Pensiun, Lalu Kembali Bermain

Setelah tujuh tahun kebersamaannya bersama Estudiantes, Juan Sebastian Veron, memutuskan untuk gantung sepatu dari lapangan hijau di akhir musim 2013-14. Di depan puluhan ribu pendukung Estudiantes, Veron, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

“Saya cukup beruntung berada di klub ini sejak umur lima tahun, dan mengakhirinya di umur 39 tahun. Tidak ada alasan untuk menangis. Jika kau memberikan segalanya, kau tidak akan mendapatkan sesuatu yang buruk bagi dirimu sendiri.”

“Dalam waktu dekat, mungkin saya akan mencoba tahap berikutnya dalam karier ini untuk menjadi direktur klub,” tutur pemain yang suatu saat bermimpi menjadi presiden Estudiantes ini, seperti yang dikutip oleh Eurosport.

Ketika resmi diangkat menjadi direktur klub, Veron sempat membuat sedikit motivasi bagi para supporter Estudiantes. Di hadapan mereka, Veron berjanji akan kembali merumput andai para supporter dapat memenuhi 65% kapasitas stadion baru Estudiantes.

Para supporter yang memang menginginkan pahlawannya untuk kembali merumput akhirnya mampu memenuhi permintaan itu. Veron pun menepati janjinya itu. Pada hari Kamis (28/12) kemarin, ia kembali menandatangani kontrak berdurasi satu setengah tahun bersama Estudiantes. Walau demikian, pemain 41 tahun itu tidak akan menerima gajinya dan lebih memilih untuk mendonasikannya ke klub.

Selamat datang kembali, sang penyihir kecil!

foto: ESPN

Komentar