Menapaki Awal Jejak Karier Dua Wonderkid Bandung; Beckham Putra (Bagian 2 - Habis)

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi 36962

Ardy Nurhadi Shufi

Juru Taktik Amatir
ardynshufi@gmail.com

Menapaki Awal Jejak Karier Dua Wonderkid Bandung; Beckham Putra (Bagian 2 - Habis)

Tak banyak seorang anak yang dinamai pemain sepakbola terkenal, kemudian anak tersebut memiliki bakat yang cukup menjanjikan di sepakbola. Namun, pasangan Yuyun Zawariah dan Budi Nugraha beruntung, karena dua anaknya yang dinamai pesepakbola terkenal, memiliki potensi yang luar biasa di sepakbola.

Sebelumnya, kami sudah membahas anak kedua mereka, Gian Zola, yang kini membela Persib Bandung. Kali ini, kami akan membahas anak ketiga mereka yang bernama Beckham Putra. Seberapa hebat Beckham dari Bandung ini?

Belum lama ini, ia menjadi pemain terbaik sekaligus top skorer Piala Menpora 2016. Sebelum itu, dari deretan prestasi yang diraihnya, prestasi terbaik pemuda kelahiran 29 Oktober 2001 ini adalah ketika menjadi pemain terbaik di ajang Football Cup Barcelona U-15, Spanyol, pada 2015 lalu. Selain itu, trofi individu lainnya masih banyak, berjejar di lemari prestasi di rumahnya.

Berposisi sebagai penyerang, Beckham memiliki kemampuan dribbling dan penyelesaian akhir di atas rata-rata anak seusianya. Misalnya di Piala Menpora, saat timnya mencetak 43 gol, Beckham menyumbang 20 gol.

Namun uniknya, tak seperti sang kakak yang memang terlihat memiliki bakat sepakbola, Beckham awalnya tak terlihat menyukai sepakbola. Kedua orangtuanya bahkan sempat meragukan jika Beckham bisa berkembang pesat seperti sang kakak.

Gak nyangka saya Beckham bisa jadi pemaen (jago). Kalau Zola, dia dari sebelum bisa jalan udah keliatan suka nendang-nendang sambil duduk. Kidal. Kalau Beckham mah awalnya gak suka bola,” kata sang ayah.

“Awalnya dia suka diajak ikut kakaknya maen bola. Pas daftarin kakaknya ke UNI, Beckham ngamuk karena pengen daftar juga. Padahal waktu itu dia masih kelas satu SD, enam tahun. Zola waktu itu udah sembilan tahun.”

Sebelum dimasukkan ke Sekolah Sepak Bola (SSB), Beckham memilih untuk menjadi penjaga gawang ketimbang pemain lapangan. Tapi setelah dibelikan peralatan kiper, ia meminta jadi pemain lapangan karena merasa kesepian di bawah mistar gawang sendirian. Setelah jadi pemain, ia sempat ingin kembali menjadi kiper karena alasan capek.

“Beckham waktu kecil jadi kiper. Saya beliin sarung tangan sama baju kiper,” kata ibunya. “Pas mau saya masukkin ke UNI, dia bilang lagi, ‘Mah, gak mau kiper ah. Gak ada temen, sendiri, takut. Mau jadi pemaen aja’. Tapi pas udah jadi pemaen ngomong lagi, ‘Gak mau jadi pemaen ah, capek’.”

“Akhirnya saya nanya, ‘Sama mamah mau dimasukkin ke SSB, kamu mau jadi kiper atau jadi pemaen? Pilih salah satu’. Baru di situ dia bilang mau jadi pemaen. Padahal dulu mah dia bagusnya jadi kiper, gak bisa maen dia mah,” lanjut Yuyun.

Pemilihan Beckham menjadi ‘pemain’ pada usianya yang baru menginjak enam tahun saat itu tak sejalan dengan bakatnya. Sudah hal yang lazim tim yang ia bela kalah telak dari lawannya. Dari situ muncul keraguan dari Yuyun dan Budi terkait Beckham yang ternyata tak seperti kakaknya.

“Beckham pas awal-awal kalah terus tiap maen. Kalah sembilan, kalah 10. Zola sering ngejekin, ‘Ah, elehan wae (kalah terus)’,” kenang Yuyun.

Dari situ Yuyun sempat khawatir dengan karier Beckham. Yuyun dan Budi pun akhirnya pasrah, tidak terlalu berekspektasi pada anak bungsunya tersebut. Tak seperti ekspektasi keduanya pada Zola, di mana keduanya percaya bahwa Zola bisa menjadi pemain besar jika melihat bakatnya sejak kecil.

Tapi Beckham selalu mengikuti apa yang dilakukan Zola, termasuk menambah porsi latihan ketika latihan libur. Latihan juggling, lari pendek, skipping, adalah beberapa metode latihan tambahan yang sering dilakukan oleh Zola sejak masa kecil, hingga saat ini, yang sering diikuti oleh Beckham.

Sedikit demi sedikit, Beckham mulai memunculkan potensinya. Ayahnya pun baru menyadari kemampuan Beckham ketika pelatih Beckham saat itu, Deny Syamsudin (mantan pelatih Persib Bandung) mengatakan bahwa kemampuan Beckham meningkat pesat.

“Pak Budi, lihat anak bapak. Giring bolanya udah jauh lebih bagus dari awal masuk. Bisa jadi pemaen besar dia,” kata Budi Nugraha, mengucapkan kembali apa yang dikatakan Deny Syamsudin.

Setelah itu, sama seperti Zola, Beckham mulai sering bermain di kompetisi yang usianya lebih tua dari dua tahun. Situasi seperti ini sudah Beckham alami sejak usia delapan tahun.

“Pas 8 tahun, dia didaftarin ke turnamen Piala Wiranto U10. Dia emang bukan pemain inti, tapi jadi supersub terus. Pasti dari kalah bisa menang setelh Beckham main. Semifinal, kalah 1-0, Beckham masuk, Beckham dua gol, menang 2-1. Final, kalah, masukin Beckham, ngegolin, juara. Pemain terbaik, top skor, diborong Beckham walau cuma pemain cadangan,” tukas Budi.

Namun di samping bakatnya yang terus berkembang pesat, kepribadian Beckham sebagai anak yang manja terus melekat setidaknya hingga ia berusia 14 tahun. Beckham pernah trauma dengan hujan, sehingga ketika bermain atau hendak latihan hujan ia tidak mau bermain ataupun berlatih sampai menangis. Selain itu, ia pun tak ragu untuk menangis sejadi-jadinya ketika pertandingan berlangsung jika dikasari pemain lawan.

“Waktu Beckham pindah ke Saswco, lawan-lawannya Saswco dikasih tau sama UNI (mantan SSB Beckham dan Zola) tentang kelemahan Beckham. Beckham gak kuat kalau dikasarin, dicubit, ditendangin, suka nangis. Pernah pas turnamen dia nangis karena digituin sama lawannya sampe sama pelatih, sama saya, harus dibujuk supaya dia mau main lagi,” kenang Yuyun.

Terkait nama Beckham sendiri, tentu saja terinspirasi dari mantan bintang Manchester United dan tim nasional Inggris, David Beckham. Pemilihan nama Beckham karena Budi dan Yuyun merupakan pendukung Manchester United.

“Ibu emang suka sepakbola, penggemar MU, penggemar David Beckham. Pas bapaknya ngasih namanya itu, pas Zola juga, yaudah gak apa-apa,” tandas Yuyun.

Ya, jika Gian Zola diambil dari nama mantan pemain timnas Italia, Gianfranco Zola, yang tengah tampil gemilang ketika Gian Zola lahir, nama Beckham pun diambil karena ketika Beckham lahir, David Beckham tengah memiliki musim yang gemilang.

Karena nama adalah doa, semoga Beckham Putra dan Gian Zola, bisa menjadi setenar David Beckham dan Gianfranco Zola di masa yang akan datang.

Komentar