Sarno, Pengubah Stigma Difabel Lewat Sepakbola

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Sarno, Pengubah Stigma Difabel Lewat Sepakbola

Cabang olahraga (cabor) sepakbola CP (Celebral Palsy) memang baru dipertandingkan pertama kali dalam ajang Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV di Jawa Barat yang berakhir kemarin, Senin (25/10). Namun, meski baru sekali diselenggarakan, banyak hal yang bisa dipetik dari bagaimana orang-orang difabel bermain sepakbola. Walau begitu, melihat bagaimana sepakbola dimainkan di ajang PON, sepakbola CP jelas terlihat begitu timpang.

Salah satu hal yang menunjukkan ketimpangan ini adalah sosok-sosok juru taktik tim sepakbola CP yang begitu kalah kelasnya jika dibandingkan dengan pelatih cabor sepakbola di PON. Coba lihat pelatih cabor sepakbola di ajang PON, penikmat sepakbola lokal tentu tidak asing dengan nama Rudy William Keltjes, Lukas Tumbuan, hingga Syamsuddin Umar. Sementara di Peparnas, hampir tidak ada yang tahu nama-nama pembesut tim.

Salah satu pelatih tim sepakbola peparnas adalah Sarno. Sarno yang notabene pelatih yang membawa Kalimantan Selatan mendapatkan emas di Peparnas kali ini hampir tidak pernah didengar namanya oleh pecinta sepakbola lokal.

Di ruang santai hotel tempatnya menginap, ia pun bercerita kepada kami bahwa minimnya perhatian publik akan Peparnas memang cukup menyedihkan. Padahal, lanjutnya, cara melatih pemain-pemain difabel lebih sulit ketimbang melatih pemain normal.

“Perlu kesabaran lebih menangani pemain-pemain difabel seperti mereka. Apa yang kita inginkan kadang tidak dapat mereka tangkap dengan cepat,” ujar Sarno menjelaskan mengenai tantangannya melatih atlet-atlet disabilitas.

“Namun, meski mereka kerap kesulitan untuk menangkap apa yang kita mau, bukan berarti mereka lebih buruk, tidak. Dari segi rasa hormat dan mengikuti perintah, mereka jauh lebih baik ketimbang orang-orang normal,” imbuhnya.

Sulitnya menangani tim sepakbola CP rupanya tidak mengurangi semangat Sarno untuk mengubah stigma masyarakat akan penyandang disabilitas. Melihat dari curriculum vitae-nya ia bahkan sudah berpengalaman melatih sepakbola untuk difabel sejak tahun 2013.

“Saya melatih difabel sejak tahun 2013. Sejak saat itu saya mulai mendapat kesempatan melatih tim sepakbola difabel. Untuk di Peparnas kali ini, saya baru menangani tim kurang lebih satu setengah bulan sebelum kompetisi ini dimulai,” tambah Sarno.

Anak-anak penderita celebral palsy yang lebih sering menyendiri pun diubah oleh Sarno untuk tampil sebagai satu kesatuan ketika tampil di lapangan. Beragam cara ia lakukan untuk membuat tim sepakbola CP Kalimantan Selatan kompak selama melakoni pemusatan latihan di Banjarmasin.

“Banyak cara yang saya lakukan saat tim ini melakukan pemusatan latihan. Saat makan kami wajibkan selalu bersama. Selain itu, ketika keluar untuk jalan-jalan juga kami haruskan untuk bareng-bareng.”

“Malam hari ketika tim melakukan evaluasi kami juga putarkan video-video mengenai sepakbola CP di luar negeri. Kita latih mereka untuk membuat analisis, kesalahan mereka di pertandingan tersebut apa, kelebihan mereka di pertandingan tersebut apa, gitu.”

Ia pun menambahkan beberapa kalimat yang membuat kami kaget: “Salah satu hal yang membuat saya kagum adalah semangat mereka ketika di pemusatan latihan. Mereka benar-benar menunjukkan keinginan yang tinggi. Salah satu hal yang paling saya ingat adalah mereka memasak semua makanan di mes sendiri”

Bersama tim sepakbola difabel selama dua bulan lebih memang penuh suka duka. Sarno pun mengiyakan hal tersebut. Ia berkata bahwa tak semua hal berjalan sesuai dengan keinginannya. Masalah juga sempat terjadi di tim ini.

“Orang difabel memiliki suasana hati yang begitu sulit untuk ditebak. Salah satu kendalanya bagi kami adalah ketika ada pemain yang pengen pulang ke kampungnya. Ada satu pemain yang dari Kotabaru. Nah, kota ini berjarak delapan jam dari Banjarmasin.”

“Masalahnya, pas pemusatan latihan dia kangen rumah. Itu jadi persoalan buat kami. Daripada nanti kami tahan-tahan dia malah teringat keluarganya. Kami hanya mengijinkannya menelpon dari mes. Untungnya dia mau dengan saran kami,” katanya sambil sedikit tersenyum.

Selain suasana hati, rentang usia pemainnya yang terbilang jauh juga menjadi persoalan. “Pemain kami paling tua 38 tahun, sementara paling muda 18 tahun. Nah, yang paling muda ini paling suka marah-marah.”

“Kami pun berusaha untuk membuat mereka (pemain yang sudah senior) untuk paham kondisi yang masih muda. Salah satu caranya adalah dengan mengajak mereka yang senior untuk ngobrol setelah bermain agar perkataan yang masih muda tidak masuk ke hati mereka.”

“Kalau soal sukanya, sih, banyak kejadian lucu di sini, Mas. Misalnya, ada salah satu pemain, namanya Helmi. Nah dia ini sering kami marahin jika saat latihan dia cenderung bermain individual. Biasanya setelah latihan, dia langsung nyeletuk, ‘Maaf om, keburu nafsu.’ Dan kami hanya bisa tertawa.”

Nah, lucunya, saat pertandingan kemarin, kami marahin dia karena ia begitu egois di depan gawang lawan. Eh dia lagi-lagi bilang, ‘Maaf om,` kami di bangku pelatih pun tertawa karena di pertandingan kok sempat-sempatnya ngobrol dengan kami.”

Cerita Sarno mengenai perjuangan tim sepakbola-nya memang luar biasa. Di akhir perbincangan kami ia gembira bisa dipertemukan dengan mereka yang memiliki beragam latar belakang menarik. Dan memang itulah esensi sepakbola: olahraga yang membawa kegembiraan bagi semua orang apapun latar belakangnya.

Komentar