Obrolan Tentang Steven Gerrard dan Harapan Akan Jordan Henderson

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Obrolan Tentang Steven Gerrard dan Harapan Akan Jordan Henderson

Steven Gerrard akan selalu ada dalam kenangan. Ia adalah pria yang menghabiskan banyak dari masa hidupnya di Liverpool. Sejak 1998 sampai ia menutup kariernya di Anfield pada akhir musim 2014/2015, ia tidak pernah berganti seragam sama sekali. Mungkin jika dibedah, darah dan tulangnya adalah merah. Orang-orang pun kadung menganggapnya sebagai kapten, atau dalam istilah Inggrisnya adalah skipper bagi Liverpool.

Itu pula yang dipercayai oleh teman saya, seorang perempuan asal Sukabumi yang sejak 2005 menahbiskan dirinya sebagai pendukung Liverpool dengan jargon red to the bone. Suatu malam saya berbincang-bincang dengannya mengenai Liverpool, tentunya dengan nama Steven Gerrard sebagai pusat pembicaraan. Kami membicarakan tentang apa-apa saja yang pernah ia lalui saat berseragam Liverpool malam itu.

Sampai pada suatu titik, saya menyinggung tentang momen-momen menyesakkan Gerrard, ia tampak sedih dan marah-marah kepada saya. Momen-momen itu sendiri bermacam-macam, mulai dari saat ia terpeleset saat melawan Chelsea, sampai pertandingan aneh Gerrard dalam laga terakhirnya melawan Manchester United di Anfield pada 2015 silam (Gerrard hanya main 40 detik dalam pertandingan itu).

Khusus untuk momen yang bertajuk 40 detik itu, teman saya ini berkomentar cukup sinis. Komentar ini dapat saya maklumi sebagai perasaan dari seorang Liverpudlian yang rapuh hatinya ketika sang legenda, ikon Liverpool, harus pindah ke klub lain dalam situasi yang justru tidak mengenakkan.

Sebenernya waktu Gerrard pergi dari Anfield itu, banyak banget kejadian-kejadian yang ga ngenakkin. Kalau aku sebagai fans sih jujur kecewa juga sedih. Harusnya momen itu (pertandingan melawan United) memorable banget, tapi malah tercoreng. Juga ditambah MU itu musuh utamanya Liverpool, gengsi pisan (sekali),” ujarnya kepada saya.

“Nah, ditambah manajemen LFC (Liverpool FC) itu terkesan kayak “menyuruh” Gerrard buat pergi, ga ditahan. Kesel juga,” tambahnya.

Saat ia berbicara tentang kekesalannya karena kepergian Gerrard yang tidak indah karena Gerrard gagal mengantarkan Liverpool mengalahkan United di Anfield pada 2015 lalu, pikiran saya pun langsung meloncat ke pertandingan tersebut. Waktu 38 detik yang ganjil di Anfield, yang masih belum direnovasi kala itu.

**

Saat itu 22 Maret 2015. Liverpool yang tengah berada dalam permainan terbaiknya (delapan kemenangan dari 10 pertandingan terakhir) menjamu sang rival abadi, Manchester United di Anfield. Suporter pun begitu percaya diri bahwa Liverpool akan meraih kemenangan, meski United juga sebenarnya bukan lawan yang harus dianggap remeh.

Tapi yang terjadi sepanjang babak pertama adalah hal yang kontradiktif. Liverpool terus-terusan ditekan. Pemain-pemain seperti Adam Lallana, Phillipe Coutinho, dan sang kapten masa depan, Jordan Henderson, tak mampu membawa The Reds keluar dari tekanan para pemain The Red Devils. Alhasil, pada babak pertama mereka kalah 0-1 oleh tim tamu lewat gol dari Juan Mata.

Untuk meningkatkan gairah tim yang tampak lesu, sang manajer, Brendan Rodgers, akhirnya memutuskan untuk memasukkan Steven Gerrard, sang ikon Anfield, pada awal babak kedua menggantikan Adam Lallana.

Sang kapten, yang sudah beberapa kali mencicipi laga panas Manchester United kontra Liverpool, langsung melibatkan diri dalam pertandingan. Lima umpan ia catatkan selama 38 detik tersebut. Ia juga membuat seisi Stadion Anfield bergemuruh ketika menekel Juan Mata dengan tanpa kompromi, sekaligus berusaha ingin menekankan kepada rekan setimnya untuk tidak klemer-klemer dalam pertandingan seakbar ini.

Namun yang terjadi setelahnya bukanlah sebuah comeback gemilang, tapi tragedi yang menjadi sejarah. Tepat pada detik ke 37-38 ia berada dalam pertandingan tersebut, Gerrard mendapatkan kartu merah dari wasit Martin Atkinson karena menginjak kaki Ander Herrera secara sengaja. Ia diusir ke luar lapangan, hanya 38 detik setelah ia bermain, dan ban kapten kembali ke tangan Jordan Henderson.

Ajaibnya, setelah Gerrard diberi kartu merah oleh wasit dan ban kapten kembali ke tangan Hendo (panggilan akrab Henderson), The Reds seolah mendapat tamparan keras di wajah. Mereka langsung tampil dengan penuh semangat. Hendo, dengan segala bekalnya sebagai kapten masa depan Liverpool, berusaha dengan keras membawa timnya keluar dari tekanan.

Meski kembali tertinggal lewat gol Juan Mata pada menit ke-59, Liverpool mampu memperkecil ketertinggalan lewat gol Daniel Sturridge pada menit ke-69. Namun kebangkitan The Reds ini sudah terlambat. Mereka kalah 1-2 dari United. Gerrard gagal memberikan kemenangan dalam laga terakhirnya melawan United di Liga Primer Inggris.

Jamie Carragher, pundit sekaligus pemain yang pernah bermain bersama Gerrard, melontarkan alasannya perihal kenapa dalam laga melawan United itu Gerrard tampak emosional dan berapi-api, meski cuma 38 detik.

“Steven Gerrard adalah pemain yang emosional. Terkadang ia tidak bermain dengan otaknya, tapi dengan perasaannya. Dalam beberapa laga akbar ia kerap tidak bermain dengan kepala dingin, tidak bermain secara penuh perhitungan,”

“Itulah yang terjadi dalam laga ini (melawan United). Ia mendapatkan kartu merah karena ia tidak bermain dengan otaknya. Ia bermain dengan perasaannya. Ini tidak hanya terjadi saat melawan United saja, tetapi juga ketika melawan Everton. Sebagai pemain asli Merseyside, melawan tim yang ia benci pasti ada perasaan benci itu, meski sedikit, yang ia bawa ke dalam pertandingan,” ujar Carragher.

Kenangan, sejarah, dan catatan hitam yang akan tetap tergores di Anfield sampai kapanpun juga.

**

Meski sudah mencatatkan tinta hitam di Anfield (ditambah tinta hitam karena tidak pernah sekalipun menjuarai Liga Primer Inggris), Gerrard tetaplah legenda Liverpool. Ia adalah embodiment (perwujudan) dari sebuah institution (institusi) bernama Liverpool, dan itu akan sulit untuk tergantikan.

“Loyalitas Gerrard sama Liverpool tinggi loh. Dia bahkan pernah beberapa kali nolak tawaran dari Chelsea, padahal gajinya tinggi. Kalo gak salah dia pernah bilang, `Cut my veins, and I bleed Liverpool red`,” ungkap teman saya tersebut.

Tapi itu adalah masa lalu. Meski tanpa Gerrard, Liverpool tetap akan bertemu dengan Manchester United dalam ajang Liga Primer Inggris (terlepas dari kedua tim akan mengalami degradasi atau tidak).

Yang terdekat, mereka akan kembali bertemu dengan Manchester United dalam ajang Liga Primer Inggris 2016/2017 pada Selasa (18/10/2016) dini hari. Para pemain yang terlibat dalam kejadian “38 detik yang ganjil” itu seperti Coutinho, Lallana, dan Henderson masih berada dalam skuat. Mereka tentu tahu kenangan tersebut, dan mereka juga pasti paham bagaimana harus bersikap.

Hendo, yang sekarang menjabat sebagai kapten Liverpool, tentu tak ingin kejadian yang sama berulang. Pengalaman Maret 2015 itu tentu akan menjadi acuan baginya bahwa dalam pertandingan besar seperti melawan United, logika masih harus dikedepankan. Lagipula sekarang ia sudah lebih matang, tidak seperti ketika 2015 lalu.

Selain itu, sebagai pemain yang bukan asli kelahiran Liverpool, ia tentunya tak memiliki rasa benci yang berlebihan (seperti Gerrard) kepada United, sehingga masih mampu menggunakan logikanya ketika menghadapi Manchester United (ataupun Everton), tidak menggunakan perasaan seperti halnya Gerrard.

Pertanyaannya, apakah Hendo akan konsisten menunjukkan ketenangannya dalam pertandingan melawan United dan juga pertandingan melawan klub-klub besar Liga Primer Inggris yang lain? Apalagi beban menjadi kapten klub sebesar Liverpool tentunya tidak ringan.

Komentar