Mengenang Perjalanan Blackburn Rovers di Liga Champions Eropa 1995/1996

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Mengenang Perjalanan Blackburn Rovers di Liga Champions Eropa 1995/1996

Sebelum kisah Leicester City bergaung saat ini, pernah ada juga kisah yang sama lahir dari daratan Inggris. Kisah tentang Blackburn Rovers, yang saat itu dianggap sebagai tim kuda hitam, dan pada akhir musim meraih gelar juara. Kisah itu terjadi pada musim 1994/1995 silam.

Seperti halnya Leicester City, sang juara Liga Primer Inggris musim 2015/2016 yang sekarang berkompetisi di Liga Champions Eropa, Blackburn juga pernah mengalami hal yang sama. Tepatnya, pada Liga Champions Eropa 1995/1996, Blackburn mendapatkan satu jatah untuk tampil dalam ajang Liga Champions setelah mereka menjadi juara Liga Primer Inggris musim sebelumnya.

Lalu, apakah perjalanan Blackburn dalam ajang yang pada akhirnya dimenangi Juventus tersebut, Blackburn mampu melaju mulus? Mari kita sejenak mengenang perjalanan The Rovers dalam Liga Champions 1995/1996.

***

Blackburn Rovers mungkin adalah kesebelasan yang cukup mengerti dengan apa yang dirasakan The Foxes saat ini. Mereka pernah berada dalam situasi yang sama pada pertengahan 90-an. Dengan skuat yang cukup mumpuni (ada nama Alan Shearer dan Chris Sutton), plus manajer bertangan dingin dalam sosok Kenny Dalglish, mereka berhasil merengkuh gelar Liga Primer Inggris 1994/1995, mengangkangi Manchester United yang berada di peringkat kedua.

Berkat prestasi yang mereka raih, Blackburn akhirnya dapat berkompetisi dalam ajang Liga Champions Eropa musim setelahnya, atau tepatnya pada musim 1995/1996. Dalam fase grup, mereka tergabung dalam grup B bersama Rosenborg Trondheim (Norwegia), Spartak Moskow (Rusia), dan Legia Warsawa (Polandia).

Melihat tim-tim yang berkompetisi dengan Blackburn dalam fase grup, saat itu peluang Blackburn untuk melaju ke babak selanjutnya sebenarnya cukup besar, apalagi ada dua nama dalam grup yang saat itu belum terlalu terkenal, seperti Rosenborg (lolos melalui babak kualifikasi) dan Legia Warsawa. Ditambah, skuat Blackburn ketika itu merupakan skuat yang berhasil mengantarkan mereka juara Liga Primer Inggris musim sebelumnya.

Namun, yang terjadi ternyata menjadi sebuah mimpi buruk bagi tim yang bermarkas di Ewood Park ini. Blackburn mengakhiri grup B sebagai juru kunci, mengantongi empat poin hasil dari satu kemenangan dan satu seri. Sisanya mereka kalah.

Skuat Blackburn Rovers pada musim 1994/1995. Sumber: rovers.co.uk

Perjalanan mereka dalam ajang Liga Champions Eropa 1995/1996 dimulai dengan menghadapi Spartak Moskow. Dalam pertandingan yang digelar di Ewood Park itu, Blackburn kalah 0-1. Pada pertandingan-pertandingan berikutnya, mereka kembali menelan kekalahan (2-1 di kandang Rosenborg dan 1-0 di kandang Legia Warsawa). Sampai putaran pertama fase grup usai, mereka tidak mengantongi poin sama sekali.

Poin perdana baru mereka dapatkan pada putaran kedua fase grup. Menghadapi Legia Warsawa di Ewood Park, mereka menahan imbang Legia dengan skor 0-0. Peluang mereka untuk maju ke babak delapan besar Liga Champions Eropa (ketika itu Liga Champions Eropa hanya diikuti 16 tim) kandas ketika untuk kedua kalinya, The Rovers takluk dari Spartak Moskow. Kali ini, di kandang Spartak, mereka kalah 3-0.

Pada pertandingan terakhir yang sudah tidak menentukan lagi, mereka menghadapi Rosenborg di kandang sendiri. Bertanding di Ewood Park, mereka akhirnya mampu memetik kemenangan 4-1 lewat hattrick dari Mike Newell dan satu gol dari Alan Shearer, yang hanya bisa dibalas satu oleh Rosenborg lewat gol dari Steffen Iversen.

Blackburn Rovers pun menutup perjalanan mereka dalam Liga Champions Eropa 1995/1996 dengan poin empat, kalah bersaing dengan Spartak Moskow dan Legia Warsawa yang berhasil melaju ke babak selanjutnya. Mereka pun gagal masuk ke Liga Champions Eropa musim selanjutnya setelah mengakhiri Liga Primer Inggris musim 1995/1996 di peringkat tujuh.

Ternyata, pelatih tim yang pernah berhadapan dengan Blackburn, Oleg Romantsev (pelatih Spartak Moskow ketika itu), mengungkapkan bahwa salah satu faktor kegagalan Blackburn dalam ajang Liga Champions Eropa 1995/1996 adalah perpecahan antar pemain yang terjadi dalam tim.

"Sebelum pertandingan saya memberitahukan kepada para pemain saya, bahwa kalian akan menghadapi 11 pemain yang saling bertarung satu sama lain, bukan bertarung bersama," ujarnya seperti dikutip These Football Times.

***

Leicester pun akan mulai mengarungi kompetisi mereka di Liga Champions Eropa 2016/2017 dengan melawan Club Brugge pada Kamis (15//2016) dini hari. Jika berkaca pada penampilan Blackburn pada 1995/1996, The Foxes tentunya patut waspada.

Pada Liga Champions 2016/2017 ini, mereka satu grup bersama Club Brugge (Belgia), FC Copenhagen (Denmark), dan FC Porto (Portugal). Hampir serupa dengan situasi Blackburn, kali ini Leicester ditempatkan bersama dengan dua kesebelasan yang tidak memiliki tradisi yang cukup baik di Eropa (Copenhagen dan Brugge) serta satu kesebelasan yang sudah cukup berpengalaman di kompetisi Eropa (Porto).

Andaikan mereka tergelincir atau kurang fokus dalam menghadapi laga Liga Champions Eropa, bukan tidak mungkin mereka akan mengalami nasib yang sama dengan Blackburn. Meski bermaterikan skuat yang tidak jauh berbeda dengan musim ketika mereka juara, Blackburn pun melakukan hal yang sama, dan mereka menutup perjalanan mereka di fase grup Liga Champions.

Baca juga: Bercerminlah pada Blackburn, Leicester (About the Game - detikSport)

Komentar