Lari, RB Leipzig, Lari!

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Lari, RB Leipzig, Lari!

Menjadi hal, sesuatu, atau orang yang dibenci akan selalu sulit. Ia akan dijauhi, dianggap aneh, dan diperlakukan secara semena-mena oleh sekitarnya. Forrest Gump paham betul akan hal itu, sehingga ia memilih untuk tetap berlari, berlari, berlari, seperti yang sahabat masa kecilnya, sekaligus kekasihnya di masa depan, Jenny Curran teriakkan pada suatu sore sepulang sekolah, “Run, Forrest, run”.

RB Leipzig pun mengalami hal yang sama dengan Forrest. Mereka harus siap untuk menjadi klub yang dibenci. Daily Mail dalam sebuah rilis beritanya pada Mei 2016 mengungkapkan bahwa RB Leipzig, klub yang baru berdiri pada 2009 namun sudah mampu masuk menembus Bundesliga pada musim 2016/2017, akan menjadi klub yang dibenci karena embel-embel yang ia bawa; Red Bull.

Meski Leipzig kaya akan kisah, seperti tentang segala hal yang pertama dalam sepakbola Jerman dan juga tentang suara ketidakadilan antara Jerman Barat dengan Jerman Timur, semua seakan menguap kala RB Leipzig berhasil promosi ke Bundesliga musim 2016/2017. Saat para suporter RB Leipzig berpesta – kapan lagi mereka mampu menyaksikan penampilan klub-klub macam Borussia Dortmund atau Bayern Muenchen kalau bukan sekarang – suporter-suporter klub lain langsung menyuarakan ketidaksukaan.

Seperti halnya Forrest Gump yang dianggap berbeda, karena ia memiliki IQ rendah, juga tingkah laku aneh yang tidak sesuai dengan masyarakat kebanyakan, RB Leipzig pun dicerca karena mereka berbeda, membawa korporasi masuk ke dalam tubuh klub, dan melanggar nilai-nilai tradisional sepakbola Jerman yang sudah terangkum, untuk saat ini, dalam aturan “50+1”.

Suara-suara kebencian itu pun mulai berdatangan. Saat mereka bertanding dengan Union Berlin pada 2014, 20.000 suporter Union Berlin yang mengenakan ponco hitam menyambut mereka dengan keheningan selama 15 menit, diiringi dengan pamflet bertuliskan “Budaya sepakbola sedang sekarat di Leipzig. Di Union, budaya itu hidup”.

Belum hilang dari ingatan suara kebencian suporter Union Berlin, suporter Dynamo Dresden (sesama tim dari Jerman Timur), melemparkan kepala banteng ke dalam stadion. Pada partai pembuka Bundesliga 2016/2017 melawan TSG Hoffenheim, kebencian itu kembali muncul dalam kibaran plakat bertuliskan “Kami ingin gelar kami kembali: klub Jerman yang paling dibenci”.

Mungkin, salah satu suara yang cukup keras datang dari para pendukung Borussia Dortmund, lawan mereka dalam spieltag 2 Bundesliga 2016/2017. The Südtribune, salah satu kelompok suporter Dortmund, memutuskan untuk tidak mendukung Dortmund di Leipzig, dan memilih untuk menonton tim reserve Dortmund di Rote Erde.

Baca Juga: Kenapa Suporter Dortmund Melakukan Boikot Pertandingan?

Perilaku-perilaku penuh kebencian ini, bukan tidak mungkin, akan terus dialami oleh RB Leipzig sepanjang keikutsertaan mereka dalam ajang Bundesliga 2016/2017. Seluruh Jerman sekarang ini sedang membenci mereka.

**

RB Leipzig tahu akan cacian tersebut. RB Leipzig tahu bahwa mereka “sedikit” berbeda dari klub-klub Jerman kebanyakan yang teguh memegang tradisi bahwa saham klub harus juga dimiliki oleh suporter, agar pemilik-pemilik klub tidak otoriter (meski sebenarnya Leipzig melakukan hal yang sama, dengan 17 anggota suporter, yang kebanyakan adalah pegawai Red Bull. Inilah yang menjadi sumber kritik suporter lain).

Namun, alih-alih termakan oleh cacian suporter, mereka pada akhirnya tetap melaju. Merangkak naik secara perlahan menuju Bundesliga, setelah berkubang cukup lama dalam divisi bawah, dan melakukan investasi terhadap pemain-pemain muda. Hal inilah yang membuat Leipzig, selain “sedikit” berbeda dalam hal keanggotaan klub, juga memiliki permainan yang "sedikit" berbeda, lebih menghibur di atas lapangan (terima kasih kepada Ralf Rangnick).

“Saya tidak ingin berada pada usia 80 ketika Leipzig menjadi juara Bundesliga,” ujar Dietrich Mateshcitz, pemilik Red Bull, sekaligus orang yang diasosiasikan dengan Hitler oleh para suporter klub di Jerman. Ini merupakan sinyal bahwa ia sedang berusaha mencapai sesuatu dalam jangka panjang.

Selain mendatangkan pemain muda dan staf-staf pelatih kenamaan, (Ralf Rangnick adalah direktur olahraga Leipzig saat ini), Mateschitz, juga memiliki mimpi bahwa suatu saat timnya dapat menjadi juara Bundesliga, menjadi juara Liga Champions Eropa, dan juga mimpi yang dulu pernah dimiliki secara bersama oleh klub-klub di Jerman; mengalahkan Bayern München.

Mimpi yang besar ini, juga diiringi oleh adanya orang yang juga mendukung RB Leipzig. Seperti seorang Jenny Curran yang kerap menolong Forrest, ada juga beberapa sosok yang berusaha untuk membela Leipzig. Salah satunya adalah blogger sepakbola Jerman, Matthias Kiessling, yang pernah menulis tentang RB Leipzig.

“Kelihatannya orang-orang lebih senang mencaci Leipzig daripada mencari cara bagaimana sistem 50+1 direformasi,” ujarnya.

Kiessling juga menyuarakan bahwa aturan “50+1” ini sudah dilanggar sebelumnya oleh klub lain, contohnya oleh VfL Wolfsburg dan Bayer Leverkusen (termasuk Hoffenheim yang menginginkan gelar lamanya kembali; salah satu klub yang juga dibenci di Jerman). “Wolfsburg dan Leverkusen sudah terlebih dahulu melanggar aturan tersebut. Kebangkitan Leipzig ini mungkin hanya ketakutan orang-orang Barat terhadap kebangkitan Jerman Timur,” ungkapnya.

**

Anjing menggonggong kafilah berlalu. Setiap orang boleh memiliki persepsi dan pendapatnya sendiri mengenai RB Leipzig yang bangkit dan sekarang berkompetisi di Bundesliga. Orang-orang boleh berpendapat dan menyatakan sikap, seperti halnya suporter Dortmund, Dresden, dan Union Berlin. Orang-orang boleh juga mendukung apa yang dilakukan oleh Leipzig ini sebagai salah satu terobosan dalam sepakbola Jerman.

Namun, RB Leipzig tampaknya tidak akan terlalu peduli akan hal tersebut. Mereka akan tetap berlari, dan terus berlari, seperti halnya yang Forrest Gump lakukan. Berlari dan terus berlari, hingga pada akhirnya, seperti Forrest yang menganggap dirinya memiliki kehidupan yang menyenangkan, tahu-tahu Leipzig sudah berada di puncak tertinggi sepakbola Jerman, bahkan Eropa.

Lauf, Die Bullen, Lauf!

Catatan: RB Leipzig akhirnya berhasil mengalahkan Borussia Dortmund dengan skor 1-0 dalam spieltag 2 Bundesliga. Sebagian pendukung Dortmund hanya bisa mendengarkan kekalahan ini dari radio karena protes yang mereka lakukan.

foto: Wikipedia

Komentar