Perjudian Besar Arsene Wenger dalam Diri Lucas Perez

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Perjudian Besar Arsene Wenger dalam Diri Lucas Perez

Entah apa yang ada di kepala manajer Arsenal, Arsene Wenger. Pernyataan tegas mengenai keengganannya untuk membeli lebih dari tiga pemain di bursa transfer musim panas 2016/17 pada akhirnya tidak terjadi setelah The Gunners mengubah kebijakan transfernya dua hari jelang penutupan bursa transfer 2016/17.

Dua hari menjelang bursa transfer musim panas 2016/17 ditutup, Arsenal disebut hampir menyelesaikan status dua pemain baru mereka, Shkodran Mustafi dan Lucas Perez. Situs transfermarkt mengatakan bahwa keduanya didatangkan dengan biaya total 61 juta euro. Kepindahan keduanya disebut beberapa media Inggris sebagai sinyal panic buying Arsenal.

Tapi untuk Shkodran Mustafi tidak cocok jika dikaitkan dengan status panic buying. Sebab seperti yang diketahui, Mustafi telah diincar oleh Arsenal sejak awal masa jual beli pemain dibuka, meskipun transfernya baru benar-benar bisa terlaksana seminggu terakhir.

Predikat panic buying baru cocok jika diberikan kepada Lucas Perez. Tanpa ada gembar-gembor yang besar, Arsenal tiba-tiba sepakat untuk mendaratkan pemain Deportivo La Coruna ini. Mirror menyebutkan bahwa untuk mendapatkan Lucas Perez, Arsenal harus rela merogoh kocek hingga 20 juta euro.

Sebelum mendatangkan Lucas Perez, Arsenal lebih diketahui mendekati penyerang-penyerang lain. Beberapa yang diketahui adalah Alvaro Morata, Jamie Vardy, dan Alexandre Lacazette. Namun pada akhirnya pendekatan Arsenal terhadap ketiganya tidak berwujud perpindahan akibat mahalnya harga yang dipatok kesebelasan pemilik ketiga pemain tersebut.

Meskipun ebegitu, menjatuhkan pilihan terhadap Lucas Perez tampaknya bukan sebuah blunder bagi Arsenal. Pasalnya, Lucas Perez dipilih karena ia memiliki beragam senjata rahasia, salah satu yang bahkan membuatnya dikenal di Spanyol adalah kemiripan gaya bermain dengan Jamie Vardy – sosok pemain yang sempat diisukan akan hijrah ke Stadion Emirates.

Kendati hanya bergabung dengan kesebelasan semenjana seperti Deportivo La Coruna, Lucas Perez musim lalu masuk ke dalam deretan striker terbaik di La Liga. Total 18 gol ia lesakkan dalam 36 pertandingan di La Liga musim lalu. Catatan tersebut belum termasuk jumlah asisnya yang mencapai angka delapan.

Persamaan kedua dengan striker Leicester tersebut adalah soal gaya bermain. Lucas Perez adalah jenis penyerang yang gemar mengajak pemain belakang lawan berpacu kecepatan. Kecepatan dan badan proporsional membuat Lucas Perez kerap mengungguli lawan-lawannya dalam berebut bola jauh di lapangan. Kecepatannya pada akhirnya menjadikan Deportivo sebagai salah satu kesebelasan yang paling sering melepaskan umpan jauh di musim lalu, dengan 29,8 umpan jauh per pertandingannya.

Tidak hanya soal gaya bermain, soal perjalanan karier, Lucas Perez juga begitu identik dengan bermain untuk kesebelasan amatir yang dipilih oleh Vardy. Meski lahir di La Coruna, tapi rumput kesebelasan-kesebelasan Eropa timur dan tengah lebih akrab di sepatu Lucas Perez.

Perjalanan karier sepakbola senior ia mulai di usia 19 tahun. Performa baik yang ditunjukkan oleh Lucas Perez mendapatkan kesempatan bermain di Atletico Madrid C. Ketidakpastian untuk bermain di tim senior Atletico Madrid membuatnya memutuskan untuk pindah ke kesebelasan lain.

Baru beberapa bulan menganggur, Perez diajak bermain di Rayo Vallecano B. Kesempatan bermain tersebut membuatnya semakin lihai di atas lapangan. Semusim di tim kedua, Lucas Perez kembali mememutuskan untuk hengkang.

Keputusan ini membuatnya hanya berstatus pemain tanpa kesebelasan di akhir 2010 hingga awal 2011. Ajakan bermain di kompetisi negara lain sendiri pada akhirnya menjadi sarana bagi dirinya untuk menyambung hidup.

Di 2011, ia bergabung dengan kesebelasan Ukraina, Karpaty. Di kesebelasan ini, namanya mulai banyak didengar orang. Raksasa Ukraina, Dynamo Kiev, bahkan sempat menjajaki kemungkinan untuk membeli Lucas Perez, meski pada akhirnya tidak terwujud.

Kesebelasan Yunani, PAOK, menjadi pelabuhan Lucas Perez selanjutnya. Semusim di sana, ia mampu menarik perhatian Deportivo La Coruna, yang kembali naik ke La Liga pada musim 2014/15. Dua musim di Deportivo, ia mampu mengoleksi 24 gol dan menahbiskan diri sebagai salah satu striker tajam di Spanyol.

Mendatangkan Lucas Perez ibarat perjudian bagi Wenger. Jika berhasil, sebutan Professor memang pantas melekat di namanya. Namun, jika gagal, banyak orang tak akan segan untuk menghujatnya. Ya, ibarat judi, selalu ada kesempatan menang di balik kecilnya peluang.

Komentar