Alasan Mengapa International Champions Cup (Akan) Terus Berkibar

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Alasan Mengapa International Champions Cup (Akan) Terus Berkibar

Bulan Juli banyak disebut sebagai masa pramusim karena waktunya berdekatan dengan dimulainya musim kompetisi. Seperti istilahnya, pramusim digunakan sebagai sarana latihan suatu kesebelasan untuk menyambut musim baru yang akan bergulir.

Berkembangnya sepakbola tidak membuat masa pra musim hanya digunakan untuk memperdalam taktik maupun mengasah mental, tapi juga digunakan untuk memperkaya keuangan kesebelasan melalui pengembangan pasar.

Tingginya permintaan mengenai penampilan kesebelasan Eropa di luar benuanya, membuat banyak pihak ketiga mengadakan kompetisi demi memuaskan hasrat tersebut. Salah satu kompetisi tersebut adalah International Champions Cup.

Pada 2016, International Champions Cup (ICC) telah memasuki tahun keempat penyelenggaraan. Ibaratnya manusia yang memasuki tahun keempat, ICC sudah menunjukkan banyak perkembangan. Tak heran mereka disebut Forbes bakal menjadi kompetisi pramusim terbesar dan paling menarik di dunia.

Berikut mari kita bedah beberapa faktor mengapa Forbes yakin ICC akan menjadi kompetisi terbesar.

Ajang Unjuk Gigi Peserta

Format kompetisi yang mempertemukan banyak kesebelasan besar membuat International Champions Cup disebut sebagai kompetisi pramusim. Sebutan tersebut sendiri mampu dibuktikan dengan keberadaan peserta dan pemain bintang di dalamnya.

Berbicara mengenai pemain bintang, siapa yang tak ingin menyaksikan pertandingan Bayern Munich melawan Real Madrid, atau Real Madrid melawan Paris Saint-Germain? Keseruan kompetisi karena kedatangan pemain bintang juga diperkuat dengan sosok pemain bintang yang berada di balik kesebelasan tersebut.

Oleh karena itu, kompetisi ini menjadi ajang unjuk gigi untuk para kesebelasan peserta, terutama yang kini dilatih oleh nama-nama baru, seperti halnya Antonio Conte bersama Chelsea atau Unai Emery bersama Paris Saint-Germain.

Inovasi Kompetisi

International Champions Cup hanya diselenggarakan dalam waktu kurang dari sebulan, tepatnya pada Juli-Agustus. Kenyataan tersebut membuat International Champions Cup memiliki waktu jeda yang lumayan lama, yakni 11 bulan.

Lamanya waktu jeda rupanya tidak membuat pihak pengelola International Champions Cup, Relevent Sports, berleha-leha. Forbes menyebutkan, delapan bulan sebelum International Champions Cup 2016, tepatnya pada November 2015, Relevent sudah menyiapkan segala inovasinya.

Beberapa langkah yang dilakukan oleh pihak penyelenggara selain mulai mengundang beberapa kesebelasan, adalah melakukan inovasi dan perbaikan kompetisi, baik dari aspek teknis pelaksanaan, misalnya format kompetisi, hingga non teknis, seperti promosi di luar lapangan.

Beberapa inovasi besar dilakukan International Champions Cup pada tahun ini. Salah satu hal terbesar yang mereka lakukan di tahun ini tentu adalah penyelenggaraan kompetisi di beberapa benua, antara lain Amerika, Asia, Australia, dan Eropa.

Format tersebut diyakini bukan hanya memuaskan hasrat penonton sepakbola benua Amerika saja, tapi juga benua-benua lain yang jadi penyelenggara. Eropa dan Asia misalnya. Bayangkan, kapan lagi penduduk Stockholm menikmati laga Barcelona melawan Leicester City, yang notabene juara Liga Primer musim lalu, atau kapan lagi penggemar Tottenham Hotspur di Melbourne menyaksikan kesebelasan idola mereka di tanah sendiri melawan Atletico Madrid?

Inovasi-inovasi di atas menambah deretan panjang inovasi yang sudah dilakukan International Champions Cup. Seperti contohnya mengajak fans berpartisipasi langsung terhadap kesebelasan favoritnya dengan bekerja secara part time di kompetisi ini.

Tidak Adanya Pesaing yang Seimbang

Berbicara kompetisi pramusim terbaik, tentu tidak bisa dilepaskan dari International Champions Cup. Selain karena bertabur banyak pemain top Eropa, kompetisi ini juga gampang diketahui karena promosi yang besar-besaran dan mudah disaksikan.

Meski demikian, berbicara mengenai kompetisi pramusim, sebenarnya masih ada gelaran lain yang kerap dilaksanakan untuk menyambut masa pra musim. Kompetisi tersebut dikenal dengan nama Premier League Asia Trophy.

Premier League Asia Trophy sejatinya sama seperti International Champions Cup yang memang digelar untuk menyambut masa pramusim. Namun kompetisi ini khusus diselenggarakan bagi kesebelasan Inggris dan satu kesebelasan tuan rumah. Hal tersebut lah yang membuat kompetisi ini dianggap sebelah mata jika dibandingkan dengan International Champions Cup.

Nilai minus lain yang membuat Premier League Asia Trophy turun tentu saja dari faktor penyelenggaraannya, terutama waktu penyelenggaraan yang dilaksanakan tiap dua tahun sekali. Ya meskipun, kompetisi ini selalu mengundang kesebelasan besar, namun waktu penyelengaraan tiap dua tahun sekali juga membuat kompetisi ini menurun.

***

Tiga faktor di atas cukup menjelaskan mengapa International Champions Cup layak disebut sebagai kompetisi pramusim terbesar dan termenarik di dunia. Menariknya, apakah tiga faktor ini akan terus membuat International Champions Cup berada di atas angin? mengingat tentu ada pihak-pihak lain yang berkeinginan mengadakan kompetisi berformat sama.

Komentar