Brasil dan Nasib Para Tuan Rumah Olimpiade di Cabang Sepakbola

Cerita

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Brasil dan Nasib Para Tuan Rumah Olimpiade di Cabang Sepakbola

Sepakbola bukanlah cabang olahraga yang dimainkan ketika Olimpiade pertama kali digelar pada 1896. Kehadiran sepakbola awalnya menjadi polemik berkepanjangan antara Komite Olimpiade Internasional dengan FIFA selaku selaku induk organisasi sepakbola Internasional. Alasan perseteruan kala itu bermuara pada satu masalah, yaitu, FIFA tidak ingin ajang Olimpiade menyaingi Piala Dunia.

Meskipun demikian, sepakbola kemudian dimainkan pada Olimpiade edisi-edisi selanjutnya. Britania Raya tercatat sebagai pemenang medali emas pertama Olimpiade cabang sepakbola. Kala itu hanya ada tiga kesebelasan yang berkompetisi di Olimpiade Paris 1900. Selain Britania Raya, peserta lain adalah tuan rumah, Prancis, dan juga Belgia.

Sempat terhenti karena Perang Dunia, sepakbola di Olimpiade kemudian semakin diminati seiring dengan populernya olahraga tersebut. Tidak seperti Piala Dunia yang sepertinya hanya mengeluarkan tim dari Eropa atau Amerika Selatan sebagai juara, wakil Afrika dan Amerika Utara pun pernah membawa pulang medali emas.

Berbicara soal cabang sepakbola di Olimpiade tentu tidak lepas dari sebuah tren menarik yang terjadi. Sudah dipertandingkan sebanyak 26 kali, terhitung hanya tiga tuan rumah yang berhasil menggondol pulang medali emas cabang sepakbola. Tiga negara tersebut adalah Britania Raya, Belgia, dan Spanyol.

Dalam cabang sepakbola yang digelar di Olimpiade London 1908, Britania Raya berhasil meraih medali emas dengan mengalahkan Denmark di partai final dengan skor 2-0. Kala itu tercipta rekor di mana kemenangan dengan skor terbesar terjadi. Tuan rumah Britania Raya menang 12-1 atas Swedia di babak perempat final. Sementara itu finalis lain, Denmark, menang besar atas Prancis dengan skor 17-1.

Belgia kemudian melakukannya 12 tahun setelah keberhasilan Britania Raya. Belgia berhasil mempersembahkan medali emas di hadapan publiknya sendiri setelah Cekoslovakia memutuskan untuk walk-out karena kepemimpinan wasit yang dinilai merugikan, terutama setelah Belgia mencetak gol dari titik penalti pada menit keenam pertandingan. Karena tindakan ini, Cekoslovakia dikeluarkan dari turnamen dan jatah medali perak kemudian diberikan kepada Spanyol yang memenangi laga perebutan tempat ketiga.

Setelahnya tidak ada lagi negara tuan rumah yang bisa meraih medali emas di rumah sendiri. Inggris sempat hampir melakukannya empat tahun setelah Perang Dunia, dan Meksiko pada tahun 1968. Namun sayang langkah mereka kemudian terhenti di babak semifinal.

Akhirnya fenomena tuan rumah memenangi medali emas pun akhirnya kembali terjadi pada Olimpiade 1992 Barcelona. Josep Guardiola dan Luis Enrique menjadi kunci sukses Spanyol meraih medali emas. Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, Olimpiade Barcelona 1992 juga merupakan Olimpiade perdana yang memakai regulasi bahwa setiap negara mesti berkompetisi dengan para pemain di bawah usia 23 tahun. Setelah yang dilakukan oleh Guardiola dan kawan-kawan, tidak ada lagi tuan rumah yang kemudian berhasil meraih medali emas di rumah sendiri.

Lalu Bagaimana dengan Brasil?

Hanya tinggal hitungan hari Olimpiade musim panas akan segera digelar. Edisi kali ini yang bertempat di Rio de Janiero, Brasil memang menjanjikan sesuatu yang menarik. Olimpiade 2016 Rio de Janiero ini patut untuk dinantikan terkait kiprah tim tuan rumah, Brasil.

Bahkan dibandingkan cabang olahraga lain, sabang sepakbola mendapatkan porsi yang lebih karena memang dunia mengetahui trademark Brasil salah satunya adalah terkait sepakbola selain gangster dan narkotika. Sederhananya, Brasil adalah sepakbola, dan sepakbola adalah Brasil. Seluruh penjuru negeri akan lebih banyak bersorak untuk cabang sepakbola. Maka, harapan setinggi langit juga kembali disematkan kepada Neymar yang kini kembali memimpin negaranya setelah ia sempat melakukan hal serupa dua tahun lalu di ajang Piala Dunia.

Apakah tragedi di Belo Horizonte akan terulang kembali di Olimpiade kali ini?

Berbeda dengan ajang sebelumnya, meskipun ada ekspektasi, rasa pesimis yang besar juga ikut terlibat dalam setiap harapan yang ada. Pasalnya, di tiga major tournament terakhir, Brasil selalu berakhir mengecewakan. Di Piala Dunia yang digelar di rumah sendiri dua tahun lalu. Brasil luluh lantak dihantam Jerman dengan skor besar 7-1. Di Copa America edisi Centenario beberapa bulan lalu, Brasil bahkan tidak lolos fase grup. Dua kegagalan tersebut menambah luka Brasil yang sudah menerima kegagalan di perebutan medali emas Olimpiade London 2012. Brasil yang merupakan favorit juara, kemudian secara mengejutkan dikalahkan oleh Meksiko dengan skor 0-2.

Kritik terus berdatangan kepada Brasil. Bahkan legenda sepakbola mereka tidak segan untuk mengatakan bahwa generasi sepakbola Brasil saat ini tidak sebaik generasi sebelumnya. Kritik semakin kencang berhembus setelah pelatih Rogerio Micale tidak memanggil beberapa talenta Brasil yang dianggap seharusnya masuk dalam skuat yang akan berlaga di Olimpiade.

Laga perdana melawan Afrika Selatan yang akan digelar di Estadion Nacional Garrincha akan menjadi awal dari perjalanan berat Neymar dan kawan-kawan. Apakah mereka akan mengikuti jejak Britania Raya, Belgia, dan Spanyol? Atau berakhir mengenaskan seperti nasib mereka di turnamen-turnamen sebelumnya?

Komentar