Dilema Logo Baru Liga Inggris

Cerita

by Frasetya Vady Aditya 26210

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Dilema Logo Baru Liga Inggris

Hidup Cecil Rhodes berakhir dengan tragis. Sebuah anak panah menusuk tepat di tubuhnya. Namun, Cecil tak langsung tewas. Ia mesti menderita setidaknya hingga 40 jam sebelum sekawanan pemburu menghabisinya dengan peluru, lalu menguliti dan memenggal kepalanya.

Cecil adalah singa yang menjadi ikon Taman Nasional Hwange, Zimbabwe. Sosoknya begitu disenangi para pengunjung karena ia adalah pemimpin sekaligus pelindung kelompoknya.

Selain menjadi primadona para pengunjung, Cecil pun dipilih oleh para peneliti untuk menjadi objek penelitian. Di lehernya terlilit sabuk yang tak lain adalah perangkat GPS yang dipasang oleh peneliti tim dari Universitas Oxford, Inggris, sejak 2008.

Tewasnya Cecil terbilang menggemparkan, bahkan menjadi bahan perbincangan serius di sejumlah stasiun televisi di Amerika Serikat dan media Inggris. Banyak yang tersadarkan kalau perburuan hewan bukanlah sesuatu yang langka, sementara punahnya spesies hewan-hewan tertentu terus menghantui.

Beberapa bulan kemudian, publik sepakbola Inggris kembali diingatkan dengan sosok Cecil, kali ini dalam bentuk logo baru Premier League. Setelah Barclays tak lagi memperpanjang kontrak sebagai pemegang nama kompetisi, Premier League mulai menggodok logo baru tanpa embel-embel “Barclays”.

Pada 9 Februari, Premier League resmi merilis logo baru. Tentu, sesuatu yang baru, tidaklah menghadirkan haru. Jiwanya tak beremosi, sehingga sedikit yang bersimpati.

Sesuai dugaan, cemoohan terhadap logo yang baru mengalir deras tak tertahankan. Pemilihan warna, jenis font, sampai kepala singa, menjadi perbincangan besar.

“Kepala singa itu mengingatkanku pada Cecil,” tulis seorang netizen. “Mereka seolah mengingatkanku kalau Cecil pun tewas dipenggal.”

Logo Premier League yang baru benar-benar berbeda dengan logo sebelumnya. Pada logo ini, kesan yang ditampilkan adalah sederhana tanpa adanya perisai yang melingkupi logo serta sejumlah warna. Premier League hanya menempatkan kepala singa yang menghadap ke kiri (dari perspektif singa), disertai tulisan “Premier League” yang kesemuanya hanya satu warna.

Salah satu hal yang esensial dari logo baru ini adalah dihilangkannya figur singa yang tengah menahan bola dengan cakarnya. Pita yang melekat di bawah singa pun tidak ada lagi.

Singa yang mencengkeram bola dianggap sebagai representasi bahwa Liga Inggris adalah rajanya kompetisi sepakbola di dunia. Perubahan yang amat signifikan ini pun menimbulkan reaksi keras. Tidak sedikit yang merasa kalau perubahan ini terlalu drastis sehingga para penggemar belum terbiasa. Banyak yang berpikir apakah dengan kerja sama hak siar yang begitu besar (delapan miliar paun), Premier League tidak bisa mempekerjakan ahli desain yang mumpuni?

Design Studio sebagai pihak yang mendesain logo Premier League punya jawabannya. “Kami tengah menciptakan identitas yang berani dan bersemangat yang mencakup perubahan singa yang lebih modern; sebuah simbol yang merupakan warisan kompetisi, yang kini lebih fleksibel untuk (ditempatkan dalam) format digital dan penyiaran,” tulis pernyataan resmi Design Studio.

Managing Director Premier League, Richard Masters, mengungkapkan bahwa perubahan logo ini menjadi salah satu bagian rebranding Premier League yang kini sudah bersih dari title sponsor. Nama kompetisi pun cukup “Premier League” tanpa embel-embel apapun. Soal logo, Richard mengaku amat senang dengan hasil akhirnya. Identitas visual yang dihadirkan kini relevan, modern, dan fleksibel.

“Ini adalah sebuah keputusan yang menyediakan kesempatan untuk mempertimbangkan bagaimana kami menginginkan untuk menyajikan diri kami sendiri sebagai sebuah organisasi dan kompetisi,” ucap Richard dikutip dari The Guardian.

Menurut Design Studio, perubahan identitas visual dalam bentuk perubahan logo hanyalah awal dari perubahan lain yang akan dilakukan.

“Tujuan kami adalah menciptakan identitas yang dikenal oleh setiap orang yang memainkan peran di salah satu liga paling menarik di dunia. Dengan perubahan yang lebih segar atas (logo) singa yang ikonik, kami telah menciptakan sebuah identitas yang dibuat untuk memenuhi tuntutan dunia modern, tetapi tetap berpijak pada sejarah dan warisan Premier League,” tulis Design Studio.

Soal logo, situs Under Consideration memuji soal perubahan yang dilakukan. Design Studio dianggap mampu mengubah logo terdahulu yang masih kental dengan nuansa Barclays sebagai sponsor. Namun, Under Consideration menyoroti satu hal,

“Terlepas dari wawasan yang sangat bagus, tipografinya terasa un-soccer-like. Tipografinya seperti kehilangan kesenangan dan energi untuk nyetel dengan singa. Tapi, sejauh ini tipografinya cukup jelas.”

Tentu, yang paling menarik adalah komentar dari orang-orang yang mulai dari paham soal desain, sampai dari yang sekadar menyindir logo tersebut.

Simon Cherry misalnya, dalam komentarnya di Under Consideration merasa kalau logo yang baru amatlah bagus. Ia pun menyanjung Design Studio karena mampu membuat sesuatu yang berani. Namun, ia punya keluhan yang agaknya hampir keluar dari mulut semua orang.

“Aku amat ingin menyukai ini dan aku adalah penggemar berat dari karya-karya DS. Namun, ada sesuatu yang salah. Mungkin, karena logo yang sebelumnya sangat ikonik, sehingga sulit untuk menerima perubahan. Aku amat merindukan cakar yang mencengkeram bola,” tulis Simon.

Namun, yang ditunggu-tunggu apakah Premier League akan mengubah trofi kompetisi? Pasalnya, dalam trofi tersebut terdapat singa yang sama seperti pada logo Premier League edisi pertama, dengan singa yang mencengkeram bola di kedua sisi trofi. Selain itu, terdapat tulisan timbul dengan tipografi seperti logo terdahulu di bagian depan trofi.

Beberapa orang pun mulai mereka logo sesuai dengan apa yang menurut mereka ideal. Salah satunya adalah Asen Petrof yang mengubah wajah singa serta tipografi. Hasilnya, tidak sedikit komentar yang memuji soal hasil karya Asen dan menganggapnya lebih baik ketimbang apa yang dilakukan oleh Design Studio, tapi Alexandra memberi komentar cerdas:

“Secara pribadi, aku rasa ini tidak adil. Anda belum menghabiskan waktu berjam-jam dengan klien, memahami instruksi, dan hal lainnya. Anda melihat logo itu dengan mata yang segar dan membuat sesuatu yang baru atas logo itu, jadi aku tidak bisa benar-benar berargumen dengan Anda.”

Balasan komentar Alexandra pun membuka mata semua orang bahwa apa yang dilakukan Design Studio adalah membuat logo dari nol berdasarkan instruksi Premier League, sementara orang-orang yang menganggap logo tersebut jelek dan tak ideal, sekadar merevisi dari logo yang telah ada.

“Menyerahlah, kawan,” tulis Will Gee saat mengomentari seseorang yang mengunggah foto yang merevisi logo Premier League. “Semua orang berhak atas opininya masing-masing, tapi tanpa berada di ruang rapat dengan klien mendiskusikan arahan, Anda tidak bisa menghasilkan solusi atas masalah yang tidak Anda ketahui.”

Bagaimana kalau logo yang Anda unggah juga merupakan opsi yang ditawarkan oleh pendesain? Agensi tentu menyajikan banyak variasi sampai mereka memutuskan logo terakhir.”

Untuk Dunia Digital

CEO dan Co-founder Design Studio, Paul Stafford, mengaku kalau singa tetap dipertahankan karena banyak orang di dunia telah mengidentikkan singa dengan Premier League. Namun, logo singa diubah untuk mengikuti zaman.

Salah satu contohnya adalah penggunaan kepala singa sebagai logo untuk aplikasi telepon genggam. Selain itu, logo tersebut akan lebih “ramah” saat disematkan ke televisi. Pasalnya, apa yang dilakukan oleh pendesain dan Premier League bukan cuma melihat untuk satu atau dua tahun, tetapi satu dekade ke depan di mana logo mereka mesti menyesuaikan zaman.

Namun, salah satu yang “disesalkan” adalah tidak adanya hubungan antara logo dengan sepakbola itu sendiri. “Tanpa sesuatu yang berhubungan dengan sepakbola, mungkinkah orang yang tidak familiar dengan Premier League mengetahuinya?” tulis Rachael Steven, kolumnis Creative Review.

Atas berbagai alasan di atas, bagaimana Anda menyikapi logo baru Premier League ini? Sila memberi argumen di kolom komentar.

Komentar