Sisi Lain Suporter Inggris yang Dianggap Sebagai Tukang Rusuh

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Sisi Lain Suporter Inggris yang Dianggap Sebagai Tukang Rusuh

Suporter Inggris memang terkenal berisik. Berisik di sini dalam artian bukan hanya berisik karena mereka kerap menyanyikan chant dengan suara yang keras secara bersama-sama, namun juga karena terkadang chant yang mereka keluarkan seringkali menyinggung orang-orang di sekitar ataupun suporter lawan.

Bukan hanya terjadi dalam ajang Liga Primer Inggris, ketika para suporter-suporter klub saling ejek yang pada ujungnya berakhir dengan baku pukul, saat bertandang ke negara lain sebagai suporter Inggris ataupun suporter klub yang tampil di Liga Champions Eropa pun suporter Inggris tak lepas dari yang namanya kerusuhan. Salah satu bukti sahihnya adalah Chelsea yang selalu saja membuat kerusuhan saat tandang ke Paris.

Dalam ajang Piala Eropa 2016 ini pun, tercatat suporter Inggris sudah beberapa kali terlibat bentrok, baik itu dengan warga sekitar maupun dengan suporter lain. Baru mendarat di Prancis, mereka langsung terlibat bentrok dengan warga Marseille dan juga polisi wilayah Old Port karena mengeluarkan chant yang menyindir yang di dalamnya berisikan kalimat "ISIS, di manakah kamu?".

Belum lagi reda riak-riak bentrokan mereka dengan warga sekitar, suporter Inggris kembali terlibat aksi bentrok. Kali ini dengan suporter Rusia. Bentrok pertama terjadi di lapangan usai pertandingan antara Inggris dan Rusia yang berkesudahan 1-1. Ketika itu, suporter Rusia masuk menerobos ke tribun suporter Inggris dan langsung memukuli suporter yang ada di situ.

Setelah itu, menyusul bentrok lanjutan yang terjadi di Lille, yang diakibatkan oleh chant-chant provokatif suporter Inggris yang mengatakan "Rusia akan segera pulang". Bentrokan ini membuat 27 orang yang dianggap sebagai provokator akhirnya ditangkap oleh pihak kepolisian Prancis.

Dengan bentrokan beruntun yang melibatkan suporter Inggris ini, maka, selain tentunya sanksi yang mengintai suporter Inggris, ada hal lain yang juga tersemat secara tidak langsung kepada suporter Inggris. Suporter Inggris akan dianggap tukang rusuh, tukang bikin onar, dan juga para berandalan yang hanya suka beramai-ramai dan membuat keributan.

Namun, saat bertemu Wales, yang notabene adalah tetangga dekat mereka sendiri, ada sebuah perubahan yang dilakukan oleh suporter Inggris. Berdasarkan laporan dari The Guardianm, di daerah fanzone di Lille, meski memang masih ada suporter-suporter yang mabuk dan juga ribut-ribut, namun di sana tidak ada tanda-tanda kekerasan antar suporter terjadi.

Sebaliknya, yang terjadi adalah adanya rasa solidaritas yang tinggi. Entah mungkin karena Inggris dan Wales sama-sama berasal dari Britania Raya, atau memang karena tidak ada sama sekali gesekan antar suporter tersebut. Para suporter menikmati segala keriangan dan juga keramaian yang terjadi di fanzone di Lille tersebut. Malah, dikabarkan juga oleh The Guardian bahwa suporter Inggris dan Wales saling menghibur.

Saat tertinggal 0-1 lewat tendangan bebas Gareth Bale, suporter Wales menghibur suporter Inggris di dekatnya. Pun ketika Inggris mampu berbalik unggul 2-1, giliran suporter Inggris yang menghibur suporter Wales. Pemandangan ini tentunya sangat kontras berbeda dengan apa yang terjadi di Lille pada beberapa waktu lalu saat suporter Inggris dan Rusia ribut-ribut.

Tapi, disinyalir juga bahwa tidak ributnya suporter Inggris ini adalah karena timnas Inggris yang meraih kemenangan. Saat melawan Rusia, mereka ditahan imbang 1-1 yang mungkin juga menjadi salah satu pemicu suporter yang mudah naik pitam jika diintimidasi. Kali ini, meski juga ribut-ribut, para warga di Lille mampu memahami itu semua sebagai ungkapan bahagia dari suporter Inggris.

Salah seorang pekerja bar di daerah Lille berujar kepada The Guardian bahwa mereka menyukai para suporter Inggris yang bernyanyi-nyanyi tersebut. "Saya suka mereka. Mereka banyak bernyanyi, hal itu menimbulkan atmosfer yang baik bagi bar kami," ujar mereka. Orang-orang yang berada di bar pun mulai memakai smartphone mereka untuk merekam segala aktivitas suporter Inggris tersebut.

Seorang suporter asal Inggris yang menonton bersama anaknya, Phil Parker, mengutarakan bahwa mungkin ada beberapa warga Lille yang tidak terbiasa dengan atmosfer ini. Namun, ia menjamin bahwa mereka tidak mengundang keributan, hanya ingin menikmati waktu mereka di Lille.

"Bagi saya, itu hanya bagian dari atmosfer sepakbola yang berusaha mereka ciptakan. Warga sekitar sini mungkin tidak terbiasa, tapi, percayalah, mereka tidak ingin cari ribut. Mereka hanya ingin bersenang-senang saja," ujarnya.

Apa yang dilakukan oleh suporter Inggris ini tentunya merupakan sisi lain dari suporter Inggris yang mungkin selama ini dicap sebagai perusuh. Lebih dari itu, mereka juga mengenal toleransi antar suporter, meski memang baru dengan suporter Wales-lah mereka terlihat damai seperti ini. Tapi, ada baiknya mengubah persepsi negatif, bahwa tidak semua nyanyian suporter Inggris bersifat intimidatif. Toh, ada juga nyanyian mereka yang bertujuan untuk senang-senang belaka.

foto: commons.wikimedia.org

Komentar