Gianni de Biasi, Nama Favorit di Kursi Pelatih Timnas Italia

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Gianni de Biasi, Nama Favorit di Kursi Pelatih Timnas Italia

Bursa calon pelatih kepala kesebelasan negara Italia masih buram. Setelah Antonio Conte dipastikan mengisi kursi Manajer Chelsea musim depan, Federasi Sepakbola Italia (FIGC) belum memutuskan siapa nama yang akan menggantikannya.

Persaingan menuju kursi pelatih Italia terbilang sengit. FIGC sendiri tidak ingin terburu-buru dalam mengambil keputusan. Pasalnya, mereka sadar, tidak sembarang orang cocok untuk mengisi kursi pelatih di negara yang kini berada di peringkat ke-15 FIFA tersebut.

Nama Gianni De Biasi masuk ke dalam bursa calon pelatih Timnas Italia tersebut. Meski dikenal sebagai pelatih berpengalaman karena sudah melatih banyak tim, namun namanya tidak begitu populer. Gaung De Biasi bahkan kalah jika dibandingkan pelatih Sassuolo, Eusebio di Francesco. Namanya baru banyak disebut saat ia menukangi Albania pada 2011 lalu.

Catatan kepelatihan De Biasi saat bersama Albania memang bisa dijadikan salah satu kelebihan di curriculum vitae-nya. De Biasi pun mampu membawa Albania yang tidak memiliki sejarah di sepakbola, menjadi salah satu tim nasional yang mengisi daftar kesebelasan yang bermain di Piala Eropa 2016.

Keputusan De Biasi menjadi pelatih timnas Albania menjadi titik balik dalam kariernya. Kepada salah satu media Serbia, ia mengakui bahwa pilihan tersebut memang mengubah segala aspek kehidupannya.

“Dua tahun setelah saya melatih Udinese, Federasi Sepakbola Albania memberikan penawaran kepada saya untuk menangani tim nasionalnya. Saya sempat bingung, sementara rekan-rekan saya meminta saya untuk berpikir panjang sebelum mengambil keputusan ini,” ujar De Biasi.

“Banyak dari mereka meminta saya untuk mengecek situasi sebenarnya di Albania,” imbuhnya. “Tapi pada akhirnya saya tidak berpikir panjang untuk mengambil kesempatan ini, karena saya merasa pekerjaan ini bisa menjadi suatu petualangan baru.”

Bersama dua teman dekatnya saat menjadi pelatih di Italia, Paolo Tramezzani dan Alberto Belle, De Biasi akhirnya memutuskan mengambil jabatan tersebut. Sebuah keputusan besar untuk pelatih tidak terkenal.

Perubahan-perubahan pun ia lakukan untuk membenahi sepakbola Albania. Salah satunya adalah menaruh fondasi untuk tim nasional di tangan pemain-pemain muda. Beberapa nama ikut naik seiring kebijakan De Biasi, di antaranya adalah Elseid Hysaj, Odise Roshi, dan Etrit Berisha.

Pilihan De Biasi juga membuahkan hasil di peringkat FIFA. Albania yang pada 2011 bertengger di urutan ke-74, berhasil naik 36 peringkat ke posisi ke-38 hanya dalam waktu empat tahun.

Maret tahun lalu, ia bahkan diberi gelar kewarganegaraan oleh Presiden Albania, Bujar Nishani. Gelar tersebut membuatnya menjadi salah satu orang yang diberi gelar kewarganegaraan oleh Albania dalam aspek olahraga.

Gelar kewarganegaraan tersebut diberikan kepada De Biasi usai ia membawa Albania mendapatkan satu tempat di Piala Eropa 2016. Kesuksesan tersebut dinilai sebagai salah satu catatan tertinggi Albania, mengingat negara yang merdeka pada 1991 tersebut, belum pernah bermain di kompetisi sepakbola akbar Eropa, baik di level klub maupun tim nasional.

De Biasi pun membagikan resep atas kesuksesan atas semua prestasinya di sepakbola. Baginya, sepakbola bukan hanya sekadar persoalan pelatih, pemain, taktik, dan lapangan.

“Saya berusaha untuk dekat dengan semua pemain di kesebelasan saya,” ujar De Biasi. “Sebab hal itu membuat saya mengerti persoalan yang tengah mereka hadapi. Selain itu, saya juga bisa memberikan saran-saran kepada mereka ketika sedang ada permasalahan.”

“Jika Anda sukses membuat permasalahan tersebut hilang dari tim Anda maka akan tercipta sebuah tim yang andal. Tapi, andal saja belum cukup untuk menjadi juara, sebab Anda perlu untuk terus memperbaiki performa. Dan memperbaiki performa adalah hal yang sulit dilakukan karena butuh waktu karena harus sabar.”

“Pemain muda Albania bahkan selalu saya ingatkan untuk bijaksana dan berhati-hati saat mengeluarkan uang. Hal tersebut selalu saya tekankan karena saya tahu bagaimana rasanya menjadi pemain muda dan memiliki banyak uang,” ujarnya sambil tertawa.

Ia pun memiliki pesan: “Kesuksesan bukan karena Anda memiliki pemain-pemain hebat. Tapi karena Anda mampu memanfaatkan tim yang ada dan mampu mengarahkan tim dengan benar.”

Kesuksesan-kesuksesan ini membuktikan bahwa De Biasi adalah sosok berkarakter. Tapi, apakah keberhasilannya bersama Albania mampu ia ulangi jika ia ditunjuk menjadi pemegang tongkat kepelatihan Timnas Italia?

Komentar