Antara Sikutan Marouane Fellaini dan Seks Masokisme

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Antara Sikutan Marouane Fellaini dan Seks Masokisme

Di Liga Primer Inggris pekan lalu, Louis Van Gaal merasa kesal karena salah satu pemainnya, Marouane Fellaini kembali menjadi bahan olokan setelah dirinya tertangkap kamera menyikut bek Leicester City, Robert Huth, sehingga Fellaini terancam mendapatkan hukuman dari FA. Ini bukan kali pertama Fellaini mendapat hukuman dari FA akibat tindakan tidak sportifnya kepada pemain lawan, baik itu berupa sikutan, pelanggaran keras, ataupun serudukan dengan kepala.

Dalam video di bawah ini, terlihat bahwa Fellaini menyikut Huth sebanyak dua kali. Tapi, terlihat juga bahwa saat Fellaini melakukan sikutan kepada Huth, bek asal Jerman tersebut terlebih dahulu menjambak rambut seorang Fellaini. Hal inilah yang membuat seorang Van Gaal mencak-mencak, dan mengatakan bahwa seharusnya Huth pun mendapatkan perhatian yang sama dan juga hukuman yang sama dari FA.

"Saya kira reaksi dari seorang Fellaini adalah reaksi yang wajar. Ketika rambut anda dijambak, maka saya kira anda akan mengeluarkan sebuah reaksi yang spontan. Kecuali jika anda seorang masokis, mungkin anda akan menikmati siksaan tersebut," ujar van Gaal seperti dilansir oleh The Telegraph.





Jika melihat video di atas dengan teliti, saya berasumsi bahwa dalam kejadian ini bukan hanya Fellaini saja yang salah. Fakta bahwa Huth melakukan jambakan terhadap Fellaini pun adalah sebuah bukti bahwa Huth adalah pihak yang patut juga untuk dipersalahkan. Intinya, kedua pemain ini memang layak untuk mendapatkan hukuman dari FA.

Tapi, ada hal menarik lain yang bisa disimak, salah satunya adalah pernyataan dari Louis van Gaal yang tiba-tiba membawa istilah masokisme ke dalam pembicaraan berkenaan dengan peristiwa tersebut. Wow, van Gaal mengerti istilah-istilah psikologi juga rupanya. Hebat.

Masokisme adalah sebuah kelainan seksual, yaitu ketika seseorang mendapatkan sebuah kenikmatan seksual ketika disakiti dan dilukai oleh orang lain. Semakin besar dan parah rasa sakit yang diberikan, maka kenikmatan yang didapat pun akan semakin besar. Maka, tak heran bahwa para masokis memiliki resiko kematian yang tinggi, apalagi jika si masokis sudah masuk tahap "hipoksifilia", yaitu tahap ketika seorang masokis mendapat kepuasan dengan mengurangi kadar oksigen yang masuk pada tubuh.

Sekarang, mari kita sedikit kaitkan dengan perilaku Fellaini. Jika melihat tayangan ulang video di atas, saya sedikit menyangsikan kalau Fellaini adalah seorang masokis. Masokis sendiri sebenarnya adalah orang yang pasif, lebih menerima. Ia lebih menerima menjadi obyek yang disiksa dan disakiti daripada obyek yang menyakiti atau melukai. Fellaini dalam video di atas tidak terlihat seperti seorang masokis karena ia memberikan respon balik, bahkan cenderung kasar, ketika rambutnya dijambak.

Sebenarnya, ada istilah yang lebih pas untuk pemain Tim Nasional Belgia ini jika merujuk kepada istilah psikologi. Namanya adalah sadisme. Berkebalikan dengan masokisme, sadisme adalah subyek, jadi orang yang senang dan akan menikmati aktivitas seksual dengan pasangannya setelah ia menyiksa, menyakiti, dan merendahkan pasangannya.

Dalam ilmu psikologi, sadisme dan masokisme ini menelurkan sebuah istilah bernama sadomasokisme, yang merujuk orang pertama yang melakukan sadisme (Marquis de Sade) dan masokisme (Leopold von Sacher-Masoch). Keduanya menuliskan pengalaman sadisme dan masokisme mereka ke dalam novel yang berjudul Justine dan Venus in Furs.

Terkhusus untuk seorang Marouane Fellaini, saya bisa mengatakan bahwa ia adalah seorang sadisme. Kenapa? Karena kebiasaannya menyikut lawan dan juga mengoleksi kartu kuning. Pada saat pertandingan melawan Liverpool dalam babak 16 besar Europa League 2015/2016 beberapa waktu yang lalu, ia juga menyikut seorang Emre Can, dan hal itu luput dari pandangan wasit. Hal sadistik juga pernah ia lakukan dahulu, saat menyeruduk Ryan Shawcross yang membuat dirinya mendapatkan hukuman berupa denda sebesar 120.000 pounds plus hukuman larangan tiga kali bertanding.


Saat Fellaini "menyeruduk" Ryan Shawcross. Foto: telegraph.co.uk

Kelakuan sadistik Fellaini ini diperparah dengan catatannya saat baru pertama kali mendarat di Inggris setelah didatangkan Everton dari Standard Liege. Ia mencatatkan 10 kartu kuning dari 17 pertandingan awalnya bersama Everton. Fantastis dan benar-benar sadis!

Pemain berambut kribo ini juga bukannya tidak membela diri. Usai pertandingan melawan Liverpool, ia mengatakan bahwa ia sama sekali tidak ada niatan untuk melakukan sikutan, apalagi untuk melukai orang lain. Sikutan itu hanya ia lakukan ketika lawan pun berlaku kasar kepada dirinya.

"Saya bernar-benar tidak berniat untuk melakukan sikutan kepada pemain lawan. Ketika pertandingan berlangsung, saya hanya melihat arah datangnya bola. Saya hanya berusaha untuk melindungi diri saya sendiri dan menjaga bola agar tidak terebut lawan. Saya tidak berniat untuk melakukan sikutan kepada siapapun," ujar Fellaini seperti dilansir Telegraph Sport.

Namun, terlepas dari apa yang diujarkan oleh Fellaini, tampaknya akan sulit bagi dirinya untuk mengubah pandangan orang-orang kepada dirinya sebagai pemain sadistis, selama siku-siku dari tangannya masih mendarat ke wajah-wajah pemain lawan. Atau mungkin, ia adalah titisan dari Marquis de Sade? Kalau melihat apa yang ia lakukan dan kesukaannya dalam menghajar pemain lawan, sepertinya pernyataan di atas sangatlah mungkin.



foto: thesun.co.uk, telegraph.co.uk.

Komentar