Zidane dan Perjudian Besar Bernama "Team-Talk"

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Zidane dan Perjudian Besar Bernama

Real Madrid sukses mencatatkan kemenangan telak 7-1 saat menjamu Celta Vigo di Santiago Bernabeu, Sabtu (5/3). Jika melihat dari kebiasaan Madrid, kemenangan ini sendiri memang tidak terlalu mengagetkan. Tapi, jika melihat dari secara keseluruhan hasil ini terbilang istimewa, lantaran tujuh gol terjadi di pertandingan ini tercipta di babak kedua.

Real Madrid sendiri memang bermain sedikit berbeda di babak kedua. Semangat para pemain El Real mencetak gol pun nampak seperti tim yang kalah di babak final.  Meski berhasil menang 1-0 di babak pertama tapi Real Madrid malah tak mengendurkan serangan.

Hasilnya, lima menit babak kedua berjalan, Cristiano Ronaldo melepaskan cannon ball yang tidak mampu ditepis oleh Ruben Blanco. Gol tersebut pun memicu lahirnya lima gol lainnya yang dicetak oleh Ronaldo 58’,65’, dan 76’, Jese Rodriguez 78’, serta Gareth Bale 81’. Sementara gol balasan Celta dicetak oleh eks pemain Liverpool, Iago Aspas pada menit 62.

Pelatih Real Madrid, Zinedine Zidane, pun mengaku bahwa kunci sukses tim-nya mencetak banyak gol di pertandingan adalah “team-talk” yang mereka lakukan di jeda babak pertama dan kedua. Bagaimana bisa?

“Kami berbicara mengenai sesuatu hal di jeda antara babak pertama dan kedua. Yang mana kami berusaha untuk tampil lebih kuat di babak kedua. Kami harus bekerja lebih keras ketimbang babak pertama. Semua menjadi lebih mudah setelah kami berhasil mencetak gol kedua,” ujar Zidane kepada Sport-English.

Zidane sendiri memang dikenal sebagai pelatih yang pandai menularkan semangat ke para pemainnya. Pertandingan kontra Deportivo La Coruna pada Januari lalu pun tak lepas dari motivasi yang ia berikan kepada anak asuhnya di jeda antar babak.

“Saya selalu mengatakan kepada para pemain untuk menunjukkan permainan yang cantik dan memenangkan pertandingan,” ujarnya kepada Yahoo.

Kemenangan ini pun menjadi bukti, bahwa bukan hanya perubahan taktik yang dapat mengubah pertandingan. Team-talk bahkan memiliki andil khusus dalam mengubah permainan dalam suatu pertandingan.

Eks pelatih Southampton, Gordon Strachan, mengungkapkan bahwa team-talk bukan suatu hal yang mudah. Ia pun mengatakan bahwa tidak sedikit orang yang justru gagal saat membangun kepercayaan diri pemain mereka melalui team-talk.

“Ucapkan apa yang harusnya mereka lakukan dan jangan terlalu banyak bicara. Inti dari team-talk adalah membuat para pemain tetap fokus. Sebab, masalah terbesar ketika para pemain berada di lapangan bukan kesulitan mencetak gol atau mempertahankan gawang dari serangan lawan, tapi menjaga konsentrasi,” ungkapnya kepada FourFourTwo.

“Tidak ada pertandingan yang terbilang mudah. Semua laga itu sulit. Apalagi ketika tensi pertandingan sudah memanas dan tinggi. Dan di situ lah fungsi team-talk. Bagaimana Anda mengatur para pemain untuk tetap berada dalam mental yang baik dan taktik yang Anda inginkan," tambah Strachan.

Beberapa sosok pelatih tenar pun sudah merasakan kedahsyatan efek dari team-talk. Di antaranya adalah Rafael Benitez dan Jose Mourinho. Hasil dari team-talk keduanya pun gelar yang bisa dibilang bergengsi, yakni Liga Champions 2005 dan Liga Primer Inggris 2004/05.

baca juga teamtalk Pep Guardiola yang hanya bercerita tentang atlet polo air di sini: Guardiola yang Membenci Tiki-Taka dan Beberapa Cerita Menarik Lainnya

Steve Clarke, asisten Mourinho di Chelsea pada musim 2004/05, bahkan mengatakan bahwa Mou tidak suka membicarakan taktik di ruang ganti. “Jose (Mourinho) bukan tipikal orang yang menyukai membicarakan taktik. Bahkan beberapa kali jeda pertandingan, dia hanya memberikan suntikan semangat kepada para pemain,” ungkapnya.

“Pada April 2005, Jose sangat kecewa dengan tim karena hanya bermain 0-0 di babak pertama. Padahal di laga tersebut (melawan Bolton), tim membutuhkan kemenangan untuk menjaga peluang untuk menjadi juara,” ujarnya. “Dan pada akhirnya Jose mengatakan ’berikan seragammu, jika kamu sudah tidak ingin bermain’ dan hal itu mengubah permainan tim, yang pada akhirnya berakhir dengan kemenangan 0-2,” ujar Clarke.

Berbeda dengan Mourinho, pendekatan yang dilakukan Benitez pada Final 2005 lebih mengarah ke pemberian semangat. Scott Carson, kiper cadangan Liverpool di Final 2005 bahkan mengaku Benitez hanya berbicara sebentar, seusai mengevaluasi taktik.

“Saya hanya ingat bahwa Rafa tidak berbicara banyak,” ujar Carson. “Situasi di ruang ganti sangat menegangkan dan tak ada pemain yang berkeinginan melanjutkan pertandingan babak kedua. Tapi, pernyataan Rafa bahwa kami harus bermain dengan kebanggaan mengenakan seragam ini mengubah segalanya.”

Kekuatan team-talk memang luar biasa dan efek istimewa dapat muncul jika diberikan dengan penyampaian yang pas. Yang lebih penting, pemberi team-talk harus orang yang pandai berkata-kata, seperti Phil Brown kala membawa Hull melakukan team-talk di sisi lapangan.

ed: ans

Komentar