Situasi Sulit Leverkusen Melawan Pemilik Kedua Rumah Mereka

Cerita

by Taufik Nur Shidiq 26535

Taufik Nur Shidiq

Penanggung jawab rubrik PanditSharing dan Backpass. Penyunting naskah Cerita.

Situasi Sulit Leverkusen Melawan Pemilik Kedua Rumah Mereka

Kesebelasan mana pun yang memenangi enam pertandingan liga terakhirnya pantas percaya diri menyambut pertandingan berikutnya, terlebih lagi jika pertandingan ketujuh tersebut dijalani di kandang sendiri; namun Bayer Leverkusen adalah pengecualian.

Hasil enam pertandingan Bundesliga terakhir tak berarti apa-apa dan fakta bahwa mereka bermain di kandang sendiri malah menjadi situasi tidak menguntungkan bagi Leverkusen karena satu alasan: lawan yang mereka hadapi di pertandingan kali ini adalah Borussia Dortmund.

Berhasil mengumpulkan 48 poin dari 21 pertandingan membuat kesebelasan mana pun pantas menduduki peringkat pertama karena itu jelas merupakan catatan yang sangat baik. Satu-satunya yang membuat Dortmund hanya berada di peringkat kedua adalah Bayern München yang lebih baik dari sangat baik; ada selisih delapan angka di antara peringkat pertama dan kedua.

Dan fakta bahwa selisih antara Dortmund dan Leverkusen adalah 13 angka membuat keberhasilan Leverkusen menduduki peringkat ketiga (berdasarkan posisi setelah Spieltag 21, bukan tabel klasemen saat ini yang sudah berubah karena beberapa kesebelasan sudah menjalani lebih banyak pertandingan dari beberapa lainnya) terlihat tidak istimewa-istimewa amat. Catatan lain: Leverkusen menduduki peringkat ketiga hanya karena mereka unggul selisih gol dari Hertha BSC yang menduduki peringkat keempat.

Kemungkinan Leverkusen memenangi pertandingan ini semakin tipis karena keadaan tidak berpihak kepada mereka. Ada beberapa hal yang mendukung opini ini. Pertama: dalam pertemuan terbaru antara kedua kesebelasan, di Westfalenstadion pada Spieltag kelima Bundesliga 2015/16, Leverkusen kalah telak tiga gol tanpa balas. Kedua: Bermain di BayArena tak akan banyak membantu karena Dortmund telah menjadikannya rumah kedua.

Dalam delapan pertandingan terakhir antara kedua kesebelasan di kandang Leverkusen, tuan rumah tak sekali pun meraih kemenangan. Malah, Dortmund adalah kesebelasan yang paling banyak membuat Leverkusen kehilangan angka di stadion berkapasitas 30.210 penonton tersebut. Sudah nyaris sembilan tahun berlalu sejak Leverkusen terakhir kali menang kandang melawan Dortmund. Sementara Arsenal menanti sangat lama untuk kembali juara, Leverkusen lebih dari delapan tahun berulang kali gagal menang melawan satu lawan yang sama.

Wajah Lama yang Tak Akan Diperhatikan

Gonzalo Castro memulai karier sepakbola profesionalnya di Bayer Leverkusen dan di kesebelasan itu pula ia menjalani 16 tahun kariernya. Enam belas tahun saja karena sejak awal musim ini, gelandang berusia 28 tahun tersebut pindah ke Borussia Dortmund.

Nanti malam (WIB) Castro, untuk kali pertama sepanjang kariernya, akan kembali ke BayArena sebagai lawan. Melihatnya berseragam kuning hitam jelas pemandangan yang tidak biasa karena Castro identik dengan warna merah hitam kebanggaan Leverkusen. Yang tidak biasa normalnya akan menarik perhatian namun untuk Castro akan ada pengecualian.

Perhatian Leverkusen (dan para pendukungnya) akan sepenuhnya tertuju kepada para penyerang Borussia Dortmund yang akan meneror pertahanan mereka: Pierre-Emerick Aubameyang, Henrikh Mkhitaryan, dan Marco Reus. Terutama Mkhitaryan.

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Reus dan 30 gol Aubameyang (dari 32 pertandingan!), Mkhitaryan adalah ancaman utama. Torehan 22 assist yang telah ia cetak menempatkannya di puncak daftar pencetak assist terbanyak di lima liga besar Eropa; lebih banyak dari raja assist yang mengangkat Arsenal ke level yang lebih tinggi, Mesut Özil. Mkhitaryan juga telah mencetak 18 gol namun bukan itu saja yang membuatnya pantas mendapat perhatian lebih.

Ada catatan istimewa: Mkhitaryan telah mencetak 18 gol dalam 17 pertandingan berbeda dan dalam 17 pertandingan tersebut Dortmund tak sekali pun kalah atau bermain imbang. Dortmund selalu selalu menang jika Mkhitaryan mencetak gol. Mencegah Mkhitaryan mencetak gol (atau menghentikan produktivitas Mkhitaryan dengan cara apa pun), boleh dibilang, adalah cara terbaik untuk menjauhkan Dortmund dari kemenangan.

Menahan imbang Dortmund tanpa gol adalah peluang terbaik Leverkusen untuk meraih angka dari pertandingan ini. Kebobolan hanya akan membuat pekerjaan mereka lebih sulit karena lini depan Leverkusen sedang tumpul. Sepakbola memang permainan kesebelasan namun kehilangan pemain paling tajam jelas pukulan telak. Nama Javier Hernández – Chicharito, akrabnya – secara otomatis bersinonim dengan produktivitas berkat keberhasilan pemain berkebangsaan Meksiko tersebut mencetak 22 gol dari 26 pertandingan. Leverkusen memang masih memiliki Stefan Kießling namun pemain kaya pengalaman tersebut jelas sekali tampak kesulitan tanpa Chicharito.

Komentar