Steven Beitashour, "Amriki" yang "Membelot" ke Iran

Cerita

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Steven Beitashour,

Hubungan politik antara Amerika Serikat dan Iran sudah memburuk sejak lama; mulai dari era Revolusi Iran yang melibatkan penyanderaan terhadap warga Amerika Serikat di Iran pada tahun 1979 hingga 1981. Kemudian kasus penyelundupan senjata dari Amerika Serikat ke Iran yang terkenal sebagai 'Iran-Contra', hingga presiden-presiden Iran yang menyuarakan sikap anti-Amerika Serikat seperti Mohammad Khatami dan Mahmoud Ahmadinejad. Hubungan kedua negara diperburuk setelah Amerika Serikat menyatakan Iran sebagai Axis of Evil atau bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti "Poros Kejahatan".

Namun fenomena unik justru terjadi antara kedua negara yang berseteru tersebut di dunia sepakbola. Ada seorang pemain yang memiliki kewarganegaraan Amerika Serikat justru bermain untuk kesebelasan negara Iran, pemain tersebut adalah Steven Mehrdad Beitashour yang kini bermain untuk salah satu klub peserta Major League Soccer, Toronto FC.

Setelah diteliti lebih dalam lagi, meskipun berpaspor Amerika Serikat, Beitashour memiliki darah Iran dari kedua orang tuanya. Edward Beitashour adalah seorang Kristen Assyria yang bermigrasi ke Amerika Serikat dari Iran pada tahun 1960. Penyebabnya adalah pernikahan beda agama antara Beitashour senior dengan istrinya yang beragama Islam, Pari Beitashour.

Beitashour sempat menolak panggilan Juergen Klinsmann yang memintanya bermain di kesebelasan negara Amerika Serikat pada 2012. Ia justru menyatakan kesiapannya bermain untuk kesebelasan negara Iran setahun setelahnya.

Dalam wawancaranya dengan The Guardian, Beitashour menyebutkan bahwa ia merasa keputusannya sudah tepat. Meski lahir dan tinggal di Amerika Serikat sepanjang hidupnya, Beitashour merasa bahwa ia tetaplah orang Iran.

"Ketika Anda melihat (keluarga saya) seluruh tradisi dan kebudayaan kami lebih kental dengan nuansa Iran," ujar Beitashour membuka percakapan. "Ketika Anda melihat jenis makanan yang kami makan dan tradisi ketika saya dan adik-adik saya beranjak dewasa, kami semua adalah orang Iran. Tetapi karena kami tinggal di Amerika Serikat yang memiliki budaya dan pemikiran yang berbeda, kami semua sangat bersifat Amerika. Karena itulah dua kebudayaan mesti dipadukan, Karena Anda akhirnya bisa mendapatkan yang terbaik dari dua dunia yang berbeda tersebut."

"Saya langsung akrab dengan para pemain lain ketika pertama kali datang ke kamp latihan tim nasional [Iran]. Rasanya mereka semua adalah saudara jauh saya. Saya merasakan sesuatu yang hebat ketika pertama kali bertemu dengan mereka."

Sebenarnya perlakuan baik yang diberikan kepada Beitashour juga sedikit banyak disebabkan oleh kedatangan Askhan Dejagah sebagai pemain keturunan yang benar-benar berbeda dari sebelumya. Karena sebelumnya pemain blasteran Iran keturunan negara timur tengah atau kaukasian lain seperti Andranik Teymourian yang merupakan keturunan Armenia.

Hal tersebut juga diakui oleh mantan asisten pelatih Iran yang kini menangani kesebelasan negara kelompok usia dibawah 18 tahun, Omid Namazi. Ia juga menyatakan bahwa kedatangan Dejagah mempermudah keadaan ketika pelatih kepala Carlos Queiroz memutuskan untuk memanggil Beitashour. Dalam kesempatan tersebut juga Namazi menyebutkan bahwa pemanggilan ini ditunjukan untuk meningkatkan kualitas kesebelasan negara Iran.

"Carlos (Queiroz) berencana untuk meningkatkan standar. Ia merasa bahwa pemain-pemain yang bertanding dalam situasi yang lebih kompetitif akan meningkatkan kualitas pemain yang lain," ucap Namazi, "Kedatangan Dejagah membuat segala sesuatunya lebih mudah bagi Steven (Beitashour). Ketika pertama kali bergabung, Dejagah sangat ramah dan sangat terbuka."

"Para pemain lain selalu membercandai Steven. Mereka mencoba mengajarinya bahasa Farsi (bahasa nasional Iran) dan mengobrol banyak hal.  Tentunya akan menjadi sangat menyulitkan ketika menerima kedatangan seseorang yang memiliki tatto di bahunya, dan berasal dari negara yang berbeda. Apalagi Steven adalah orang Amerika. Namun kepribadiannya yang rendah hati sangat membantunya untuk cepat akrab dengan para pemain lain."

Steven Beitashour yang berposisi sebagai bek kanan menjadi generasi terbaru sepakbola Iran yang berisikan para pemain keturunan ataupun yang hidup di luar Iran. Ia bersama Askhan Dejagah dan kiper Eintrach Frankfurt, Daniel Divari. menjadi komponen terbaru yang diharapkan akan bisa membawa Iran ke tingkat yang lebih baik.

Sumber : The Guardian, BBC, NBC Sports, mlssoccer.com.

Foto : IRN

Komentar