Nasib Kesebelasan Volkswagen

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Nasib Kesebelasan Volkswagen

Jika Volkswagen jatuh, Wolfsburg jatuh. Pasti demikian. Tidak ada jalan keluar.

Sekitar 72 ribu dari 120-an ribu populasi Wolfsburg bekerja untuk Volkswagen. Mereka yang tidak bekerja untuk Volkswagen bekerja untuk perusahaan-perusahaan penyuplai permintaan Volkswagen untuk produksi mobil mereka. Berpikir bahwa mereka yang tidak tergolong ke dalam dua kelompok tersebut tidak akan terpengaruh adalah salah.

“Saya khawatir,” ujar Uwe Bendorf, seorang penyedia asuransi kesehatan yang lahir, tumbuh besar, dan tinggal di Wolfsburg, kepada CNBC, “(Kasus kecurangan uji emisi) ini tidak bagus untuk Wolfsburg. Detroit menjadi contoh buruk dari apa yang dapat menimpa Wolfsburg: kota itu hancur. Bukan tidak mungkin Wolfsburg akan mengalami nasib yang sama.”

Bendorf tidak berlebihan. Wolfsburg ada karena Volkswagen ada. Perusahaannya dulu yang berdiri, baru kotanya. Area yang sekarang menjadi Wolfsburg sudah menjadi area industri sejak 1930-an, ketika Adolf Hitler memilih sebuah area 75 km dari Hannover untuk pusat produksi mobil rakyat yang ia beri nama Kraft durch Freude-Wagen – Kita mengenal kendaraan tersebut dengan nama VW Beetle. Area yang dimaksud bahkan sempat dikenal sebagai Stadt des KdF Wagens, atau “kotanya KdF-Wagen” dalam bahasa Indonesia, sebelum menjadi Wolfsburg pada akhir Perang Dunia II.

Wolfsburg ada karena Volkswagen ada. Sepertiga pemasukan kota berasal dari pajak yang Volkswagen bayar. Besarnya bayaran yang diterima orang-orang yang bekerja untuk Volkswagen pun membuat Wolfsburg menjadi kota terkaya di Jerman per jumlah jiwa, walau tidak semua orang di Wolfsburg mendapat pemasukan dengan bekerja di Volkswagen.

Sama seperti kotanya, VfL Wolfsburg (selanjutnya akan disebut Kesebelasan dengan K kapital untuk menghindari kebingungan) pun ada karena Volkswagen ada. Seperti Bayer Leverkusen, Kesebelasan adalah kesebelasan yang dimiliki perusahaan. Namun sepertinya Kesebelasan tidak terpengaruh.

Luke Edwards menyoroti sesuatu yang menarik dalam tulisannya untuk Telegraph: “Jika Volkswagen merasa perlu memangkas pengeluaran, sumber penghasilan lokal akan hilang dan dana besar yang diberikan kepada kesebelasan pun akan dipangkas. Kesebelasan akan menghadapi masalah, namun mereka sudah sangat dekat dengan musim tersuksesnya di Eropa.”

Kesebelasan belum pernah lolos ke fase gugur Champions League. Mereka tidak perlu menjadi juara untuk merasakan musim terukses di Eropa. Mereka hanya perlu bermain imbang melawan Manchester United untuk lolos dari Grup B; dan karenanya melampaui keberhasilan mereka musim-musim sebelumnya. Atau menang, jika ingin lolos sebagai pimpinan klasemen.

“Syukurlah uang bukan segalanya di olahraga,” ujar Dieter Hecking, pelatih kepala Kesebelasan, ketika dalam jumpa pers ia diingatkan kepada kasus yang membuat Volkswagen merugi lebih dari 6,5 juta euro. Mungkin Kesebelasan memang tidak terpengaruh. Namun sangat mungkin mereka hanya belum terpengaruh.

Kasus kecurangan uji emisi ini baru muncul setelah musim 2015/2016 berjalan. Setelah Kesebelasan mendapatkan Max Kruse, Dante, dan Julian Draxler. Kasus ini baru muncul setelah pemain-pemain utama tertutup pintunya untuk pergi, dan baru akan terbuka lagi di akhir musim nanti (di pertengahan musim juga terbuka, namun siapa yang mau keluar lewat pintu menuju kejamnya musim dingin? Kalau ada pun pasti sedikit).

Namun akankah pemain-pemain Kesebelasan tetap bertahan musim depan? Joshua Guilavogui kontraknya habis akhir musim ini. Diego Benaglio, Marcel Schäfer, Naldo, Nicklas Bendtner, Daniel Caliguri, Bas Dost, Timm Klose, Robin Knoche, Maximilian Arnold, akhir musim depan. Bahkan pemain-pemain baru pun kontraknya tidak panjang. Tidak ada pemain Kesebelasan yang kontraknya berakhir setelah Juni 2018. Dengan ikatan yang tidak cukup kuat, para pemain dapat dengan mudah memaksa Kesebelasan melepas mereka.

“Orang-orang harus mengerti bahwa Wolfsburg adalah Volkswagen,” ujar Ingo (Ingo menolak menyebutkan nama belakangnya), salah satu penduduk Wolfsburg, kepada Deutsche Welle. “Jika Volkswagen bermasalah, Wolfsburg juga bermasalah. Kami bersiap dirumahkan, dan kami tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi di Wolfsburg.”

Wolfsburg bukan kota yang indah. Wolfsburg adalah kota yang lahir dari komunitas pekerja. Orang-orang datang ke dan menetap di Wolfsburg untuk kehidupan yang secara finansial lebih baik. Termasuk para pemain sepakbolanya (jika bukan karena mencari kesempatan bermain). Jika Volkswagen bangkrut, maka tidak akan ada uang di Wolfsburg. Jika tidak ada uang, maka tidak akan ada orang.

Nikmati saja waktu yang tersisa sebelum VfL Wolfsburg ditinggalkan para pemain mereka.

Komentar