Kemewahan Real Madrid Bukan Hanya Los Galácticos Era Pérez

Cerita

by Redaksi 46

Redaksi 46

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Kemewahan Real Madrid Bukan Hanya Los Galácticos Era Pérez

Andai transfer pemain yang ditukar dengan sejumlah uang tertentu sudah diterapkan sejak jaman dahulu, mungkin sebutan “Los Galacticos” di era Florentino Perez akan terkesan biasa-biasa saja. Faktanya, Real Madrid memiliki skuat yang sama mewahnya—atau mungkin lebih mewah—dengan era “Los Galacticos” di era 2000-an.

Saya dan mungkin juga Anda yang tidak begitu mengikuti perkembangan Real Madrid secara konstan, barangkali merasa dijejali kalau “Los Galacticos” itu ada dua jilid yang dimulai saat Florentino Perez terpilih menjadi presiden baru Real Madrid. Berdasarkan sejumlah referensi, “Los Galacticos” sendiri mengacu pada kebijakan transfer Perez yang mendatangkan para pemain bintang yang identik dengan nilai transfer selangit.

Seperti halnya sebuah buku, jilid pertama “Los Galacticos” diawali dengan kehadiran Luis Figo pada 2000. Figo, yang kala itu bermain untuk rival Madrid, Barcelona, pindah dengan nilai transfer 38,7 juta pounds. Lembar terakhir “Los Galacticos” diisi dengan kepindahan David Beckham pada 2007 ke LA Galaxy.

Sementara itu, “Los Galacticos” jilid kedua masih belum selesai ditulis. Real Madrid seperti tak pernah berhenti mengeluarkan dana besar—hingga saat ini—untuk belanja pemain. Meski terlihat lebih mahal, tapi nama-nama yang tercantum di jilid kedua seperti tak bisa disandingkan dengan kebintangan Luis Figo, Ronaldo, Zinedine Zidane, dan David Beckham. Padahal, mereka (Fabio Coentrao, Luka Modric, Isco, dan Toni Kroos) didatangkan dengan mahar di atas 30 juta pounds.

Tentang penumpukan gelandang-gelandang mahal di skuat Real Madrid

Tidak mengejutkan jika ada penggemar yang terstigma bahwa era mewahnya Real Madrid diawali saat era Luis Figo. Pemikiran tersebut tidak bisa disalahkan karena Figo datang ke Santiago Bernabeu dengan mahar yang kelewat besar untuk saat itu; sekaligus mengawali era kepeminpinan Florentino Perez.

Faktor Santiago Bernabeu


(Foto: historialago.com)

Seperti yang diungkapkan dalam paragraf sebelumnya, andai nilai transfer sudah menjadi hal yang lumrah sejak berakhirnya Perang Dunia II, sejarah akan mencatat Real Madrid era 1950-an sebagai fase pertama Real Madrid menghadirkan bintang-bintang dari penjuru dunia.

Nama stadion Real Madrid, Santiago Bernabeu, diambil dari presiden Real Madrid kala itu, Santiago Bernabeu Yeste. Ia amat berjasa membangun fondasi Real Madrid selama lebih dari tiga dekade.

Semua orang tahu kalau Santiago amat berdedikasi. Ia telah menjadi bagian dari Real Madrid sejak 1911 sebagai pemain. Santiago amat dihormati. Satu hal yang membuat ia melepaskan jabatan dan dedikasinya terhadap Madrid hanya karena ia tak bisa bernafas lagi. Ya, jabatan Santiago sebagai Presiden Real Madrid berakhir setelah ia wafat.

Santiago amat berjasa dalam menghadirkan para pemain top di era 1950-an. Pada era 1955-1960, dari 11 pemain terbaik yang mengisi line up, enam di antaranya merupakan pemain asing. Mayoritas dari mereka memiliki reputasi sebagai pemain top di zamannya.

Di pos gelandang, ada nama Jose Maria Zarraga yang berasal dari kesebelasan Real Madrid Castilla (saat itu bernama Plus Ultra). Ia naik ke kesebelasan utama pada 1951. Dua tahun berselang, Real Madrid mendatangkan bintang Argentina, Alfredo Di Stefano, serta pemain sayap yang membela Racing Santander, Francisco Gento.

Setahun berselang, Real Madrid kembali mendatangkan pemain Santander, Marcos Alonso Imaz (Marquitos) yang berposisi sebagai pemain belakang. Kehadiran Marquitos juga dilengkapi dengan penyerang Argentina, Hector Rial.

Setelah menjuarai Liga Champions jilid pertama pada 1955/1956, selama tiga musim berturut-turut sejak 1956, Real Madrid menghadirkan Juan Santisteban, Raymond Kopa, Jose Santamaria, Rogelio Dominguez, Ferenc Puskas, dan Luis del Sol. Bagi kesebelasan lain, dengan kualitas skuat seperti itu, bertemu Real Madrid adalah mimpi buruk.

Baca juga: Manchester United Bangun Los Galacticos Tandingan

Menjadi yang Terbaik

foto: UEFA.com

“Kami tidak beruntung menghadapi skuat Real Madrid yang luar biasa,” kenang kiper Stade de Reims, Dominique Colonna, pada 1959 setelah kekalahan mereka untuk kedua kalinya di Liga Champions.

Pada periode 1955-1960, Real Madrid memenangkan semua 17 pertandingan kandang mereka di kancah Eropa.

“Kami memiliki para pemain terbaik: Di Stefano, Puskas, Gento, dan lainnya. Pertahanan kami kuat berasama Marquitos, Santamaria, Santisteban. Atmosfer pertandingan amat fantastis. Sebanyak 125 ribu penonton melaimbaikan sapu tangan. Kami tak punya sponsor, tak ada siaran televisi. Kami harus melakukan pertandingan friendlies ke seluruh dunia agar kesebelasan mendapat pemasukan. Kami amat berbeda kala itu,” ucap Raymond Kopa.

Meskipun Real Madrid tidak memiliki kekayaan berlimpah seperti sekarang ini, tapi tetap saja para pemain top menjadikan Real Madrid sebagai pelabuhan mereka—di luar faktor non teknis tentunya. Para pemain top tidak membuat adanya segregasi atau pemisahan antar kelompok. Justru permainan Real Madrid menjadi luar biasa menghibur. “Mereka bermain seperti pertunjukkan kembang api yang fantastis, yang Anda lihat dalam jangka waktu yang lama,” tulis reporter Prancis, Jean Eskenazi.

Berdasarkan situs resmi UEFA, salah satu faktor yang membuat Real Madrid perkasa adalah para pemain bintang yang bergabung dalam kesebelasan tersebut. Mereka memiliki kekuatan saat menyerang dari segala penjuru. Mereka mencetak total 112 gol dari lima gelaran Liga Champions yang mereka ikuti—dan menangkan.

“Saat Anda memiliki talenta seperti Raymond Kopa, Ferenc Puskas dan Alfredo di Stefano, Anda harus menempatkannya ke dalam tim yang membuat kami bermain amat menyerang. Kami punya banyak pemain hebat yang secara tak mengejutkan kami memenangkan banyak gelar Liga Champions,” tutur Francisco Gento yang kala itu bermain dalam formasi 3-2-5.

Melihat dari apa yang dilakukan Madrid pada era 1950-an, kita tahu kalau skuat mewah Real Madrid tidak dimulai sejak era Florentino Perez. Namun, karena pada masa tersebut uang belum bisa dijadikan patokan sebagai mahal atau tidaknya seorang pemain, bagaimana jika kita membandingkannya dengan raihan prestasi.

Real Madrid pada era “Los Galacticos” jilid pertama sejak awal musim 2000/2001 dan berakhir musim 2006/2007, menghasilkan satu gelar Liga Champions serta tiga gelar La Liga. Agar seimbang, mari kita bandingkan tujuh musim Real Madrid era 1950-an sejak musim 1953/1954 hingga era 1959/1960. Real Madrid memperoleh lima gelar Liga Champions (!), dan empat gelar La Liga.

Jika ingin ditambahkan dengan “Los Galacticos” jilid kedua, dengan durasi 15 musim hingga musim 2014/2015, Real Madrid sudah mendapatkan dua gelar Liga Champions dan lima gelar La Liga. Sementara itu sejak musim 1953/1954 hingga 1967/1968 menghadirkan enam gelar Liga Champions dan 11  gelar La Liga.

Maka sebenarnya bukan hal yang baru bagi Real Madrid untuk mengumpulkan para pemain terbaik demi meraih kejayaan yang mereka impikan. Ini bukan soal tabiat yang dimiliki Florentino Perez, melainkan Real Madrid sejak era Santiago Bernabeu, lebih dari 50 tahun yang lalu, mereka sudah menjadi kesebelasah mewah.

Lagipula, apa salahnya membeli 10 mobil Lamborghini jika memang kita mampu membelinya?

foto: starafrica.com

Komentar