Mereka yang Terserang Stroke

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Mereka yang Terserang Stroke

Pemuda berusia 17 tahun, Jac Rush, amat menggemari sepakbola. Keluarganya pun mendukung atas keputusannya tersebut. Cita-cita Jac adalah bergabung bersama tim profesional. Namun, awal tahun ini keinginannya tersebut dipastikan tak tercapai.

Ternyata di usia 17 ini ia didiagnosis menderita penyakit stroke. Sang ayah, Rob Rush, menyatakan kalau Jac kemungkinan besar tak akan bisa lagi bermain sepakbola setelah sakit selama dua bulan. Padahal, Jac telah bergabung dengan akademi AFC Hayes dan merupakan pemain utama.

“Kata-kata tidak akan bisa menjelaskan betapa menghancurkannya stroke bagi Rob dan keluarga kami. (Padahal) Jac hidup untuk sepakbola. Ini penting bagi orang-orang untuk menyadari kalau stroke tidak cuma berdampak pada mereka yang berusia di atas 30. Stroke pun merusak anak-anak muda,” tutur Rush.

Rob pun meminta dokter untuk lebih sadar akan kemungkinan terjadinya stroke pada anak muda. Ia pun meminta para dokter untuk menggunakan cara yang tepat untuk mendukung anak-anak muda macam Jac untuk bisa mendapatkan kesempatan untuk sembuh.

Berdasarkan Standard saat ini satu dari 150 penderita stroke di Inggris terjadi pada remaja di bawah 20 tahun. Namun, terdapat kesadaran publik yang begitu terbatas atas nasib korban-korban yang masih remaja dan dampaknya pada anak dan keluarga baisanya tersembunyi.

Pada kasus Jac, awalnya ia mengeluh merasa sakit yang luar biasa di kepalanya pada Desember 2014. Keesokan paginya, kedua orang tua Jac menemukannya terkulai dan tak sadarkan diri.

Paramedias menyimpulkan kalau Jac menderita stroke. Ia pun dibawa ke Rumah Sakit Charing Cross. Dokter pun melepaskan sejumlah bagian dari tengkoraknya untuk meringankan tekanan pada otaknya.

Rob pun mencoba meningkatkan kesadaran publik sekaligus menggalang dana untuk Asosiasi Stroke. Ia pun mengikuti acara lari bertajuk 10km Resolution Run di Hyde Park. Hingga Februari silam, Jac masih dirawat di rumah sakit. Ia hanya bisa sesekali berjalan dan dalam bicara pun begitu terbatas.

“Aku mengikuti charity run tapi belum pernah berlatih sebelumnya. Ini semua aku lakukan demi Jac, itu adalah hal utama. Uang yang didapatkan akan diberikan pada The Stroke Foundation dan untuk menyiapkan rumah saat Jac diperbolehkan untuk pulang.

Menimpa Legenda Inggris

Tiga bulan setelah Jac, publik Inggris kembali geger karena legenda Inggris dan Tottenham Hotspur, Jimmy Greaves, dikabarkan tengah berada dalam perawatan intensif setelah menderita stroke.

Sebelumnya, Jimmy mengalami stroke minor pada 2012 tapi ia telah sembuh sepenuhnya.

Greaves adalah pencetak gol terbanyak keempat Inggris di belakang Sir Bobby Charlton, Wayne Rooney, dan Gary Lineker. Ia pun menjadi bagian dari tim juara Inggris di Piala Dunia 1966.

Greaves juga bermain untuk Chelsea pada 1957 hingga 1961 dan mencetak 124 gol di liga. Akun twitter Chelsea pun mencuit untuk kesehatan Greaves. Di Spurs, Greaves meraih Piala FA pada 1962 dan 1967. Greaves pun pernah bermain untuk AC Milan dan West Ham United.

Menyerang Pemain Muda Lain

Kabar buruk juga menimpa pemain muda Inggris lainnya Ia adalah Matt Crossen, 25 tahun, yang menderita stroke pada usia 23 tahun.

Kini ada kemajuan pada Crossen di mana bek Marske United tersebut membuat debutnya bagi kesebelasan negara Inggris di Cerebral Palsy World Championship, meskipun pergerakannya terbatas dan tubuh bagian kirinya kaku. Saat bermain bola, semua pemain menghargainya. Tidak ada yang menganggapnya berbeda.

Pertandingan tersebut menjadi penting bagi Crossen dan masa depan kesembuhannya. Ia menjabarkannya sebagai salah satu pencapaian terbaik dalam hidupnya saat ini. Belum lagi Crossen pun saat ini telah menjadi ayah, “Saya sangat beruntung berada di posisi ini dan saya yakin ini akan menjadi cerita bagi anak saya nanti.”

Crossen pun membawa Inggris menang 14-0 dalam pertandingan menghadapi Jepang tersebut. Mereka pun mendapatkan satu tempat di Olimpiade Paralympic yang digelar di Rio de Janiero 2016 mendatang.

Meski stroke adalah penyakit mematikan, tapi melihat apa yang terjadi pada Crossen menunjukkan kalau mereka bisa kembali sembuh dengan motivasi yang tinggi. Hal paling penting adalah perawatan saat pertama kali terserang stroke, karena hal tersebut amat vital bagi kesembuhan penderitanya.

Pada hari ini, setiap tanggal 29 Oktober, dunia memeringatinya sebagai World Stroke Day. Ini dilakukan salah satunya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan gaya hidup yang bisa memicu terserangnya penyakit stroke. Di hari ini pula digambarkan kalau stroke faktanya juga tidak cuma menyerang mereka yang sudah tua, tetapi juga para remaja.

Komentar