Mengenal Eduardo Berizzo, Pelatih Argentina yang Mendongkrak Performa Celta Vigo

Cerita

by Zakky BM

Zakky BM

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Mengenal Eduardo Berizzo, Pelatih Argentina yang Mendongkrak Performa Celta Vigo

Eduardo Berizzo, Mauro Pochettino, Diego Simeone, Jorge Sampaoli, sampai Gerardo Martino sama-sama mempunyai kesamaan, yaitu berasal dari negara Argentina. Selain mereka adalah mantan pesepakbola yang kini menjadi seorang pelatih, mereka semua adalah murid-murid dari sang pelatih fenomenal, Marcelo Bielsa.

Khusus untuk nama yang pertama, yaitu Eduardo Berizzo, ini adalah kali pertamanya ia menangani kesebelasan di benua biru khususnya di Liga Spanyol. Sebelum ke Eropa, ia sempat menjadi asisten pelatih Bielsa di tim nasional Chile sebelum akhirnya menukangi kesebelasan Estudiantes La Plata di Argentina dan O’Higgins di Chile.

Setelah melanglang buana di benua tempat kelahirannya, akhirnya Berizzo menerima pinangan kesebelasan lamanya yaitu Real Celta de Vigo (atau lebih dikenal Celta Vigo), setelah tim yang berkostum biru langit itu kehilangan Luis Enrique yang dipulangkan oleh FC Barcelona ke Camp Nou pada awal musim 2014-15 lalu.

Ketika berkarir sebagai pemain Celta Vigo, Berizzo mengenyam 101 pertandingan selama kurun waktu 2001 hingga 2005 lalu dengan torehan 4 gol saja. Maka tak heran kepulangan Berizzo ke Celta ini dapat sambutan yang positif dari para penggemar.

“Aku hanya butuh tiga sampai empat menit saja untuk kembali (ke Celta Vigo) sebagai pelatih. Aku sangat senang dan orang-orang di sini selalu memperlakukanku dengan sangat baik,” ungkap Berizzo pada seisi konferensi pers pertamanya di Celta Vigo seperti dilansir laman Reuters.

Berizzo mulai untuk bekerja keras. Ia tahu bahwa ia memiliki keterikatan emosi dengan mantan klubnya tersebut. Dengan segala ilmu yang ia miliki, ia memulai era baru Celta Vigo di bawah asuhannya.

“Aku sangat menyukai sepakbola menyerang. Untuk memenangi pertandingan, Anda harus menyerang dan untuk menyerang dengan baik, Anda harus mampu mengkombinasikannya dengan bertahan,” ucap pelatih berkebangsaan Argentina ini. “Dibalik ide-ideku untuk sepakbola menyerang, Anda harus membawa diri Anda ke depan dan bekerja keras sebagai sebuah tim. Tidak akan ada banyak perubahan dari segi taktik, aku hanya perlu melihat komitmen pemain untuk tim ini,” sambung Berizzo.

Pada awal kedatangannya, ia hanya menambahkan beberapa pemain seperti Sergi Gomez dan Carles Planas dari Barca B,  Nemanja Radoja dari Vojvodina, Joaquin Larrivey dari Rayo Vallecao, dan membawa salah satu anak asuhnya dari kesebelasan O’Higgins, yaitu Pablo Hernandez. Nama-nama tersebut hingga kini merupakan pilihan-pilihan utama dari Berizzo.

Kesebelasan Real Celta de Vigo (Celta Vigo) adalah salah satu kesebelasan yang dianugerahi gelar real dan lambang mahkota dari Kerajaan Spanyol, baca ulasannya dalam infografis: "Menyoal Gelar Nama Real dan Mahkota di Kesebelasan Liga Spanyol"

Perihal perubahan taktik dan gaya bermain, Charles, salah satu pemain Celta di musim 2014-15 lalu berujar bahwa Berizzo lebih menekankan untuk lebih banyak latihan fisik. Ia mengungkapkan kepada harian El Faro del Vigo bahwa “ latihan kita (di bawah Berizzo) agak sedikit berat dan sulit. Berizzo meminta bekerja secara fisik lebih banyak kepada pemain-pemainnya.”

“Berizzo dan Enrique pada dasarnya pelatih yang sama cara bermainnya. Berizzo sangat cocok dengan Celta Vigo karena tim ini tak tahu cara bermain dengan umpan-umpan panjang. Kemudian jika kami kehilangan bola, Berizzo maupun Enrique mengistruksikan untuk mnekan lawan untuk mencuri bola dari mereka,” sambung Charles.

Kehadiran Berizzo di awal musim lalu langsung berimbas pada penampilan gemilang Celta. Sebelum dihajar Villareal dengan skor 1-3 di peka ke tujuh musim lalu, Celta Vigo tak terkalahkan. Mereka juga memukul Barcelona dengan skor 0-1 di Camp Nou lewat gol Joaquin Larrivey berkat assist Nolito. Celta Vigo, mendadak menjadi sorotan media massa berkat kegemilangan Berizzo.

Berizzo bukkannya tak mengalami masa-masa pahit di Celta. Ia sempat menelan enam kali kekalahan beruntun dari pekan ke 12 hingga pekan ke 17 musim lalu. Sempat menahan imbang Valencia di pekan ke 18, namun lagi-lagi kalah di pekan ke 19 dan 20. Tak ayal, keadaan ini membuat ia dikabarkan akan dipecat oleh pihak klub, ia langsung menyanggahnya dengan pernyataan di depan para reporter.

“Aku tak harus menunggu dipecat jika harus meninggalkan tim ini,” ungkap Berizzo. “Ketika aku  tak lagi mendapatkan dukungan dari pemainku di ruang ganti, maka aku tak akan ada di sini,” sambung pelatih berkebangsaan Argentina tersebut.

Pasca krisis tersebut, Celta Vigo akhirnya baru meraih tiga poin secara penuh saat menaklukkan Cordoba di pekan ke 21. Selanjutnya, Celta Vigo mampu finis di posisi ke delapan di tabel klasemen akhir atau lebih baik satu tingkat dari musim lalu (posisi sembilan) dan Berizzo melanjutkan cita-citanya musim ini untuk bermain menyerang bersama Celta Vigo.

Pada awal musim 2015-16, Berizzo terus meningkatkan kualitas permainan dari anak asuhnya dengan sepakbola menyerang. Sempat tak terkalahkan kemudian nangkring di posisi pertama klasemen sementara La Liga dan menghancurkan Barcelona dengan skor 4-1, akhirnya kini mereka harus rela terlempar ke posisi empat karena kekalahan akhir pekan lalu dari Real Madrid.

Bagaimanapun, musim ini masih sangat panjang. Berizzo masih mempunyai waktu untuk membenahi kelemahan-kelemahan Celta Vigo. Jika saja mereka mampu bermain konsisten selaiknya awal musim lalu, bukan tak mungkin satu jatah untuk menembus Liga Champions Eropa bakal jatuh ke tangan kesebelasan yang bermarkas di Estadio Balaidos ini.

Baca juga: Nolito yang Mematikan dan Barcelona yang Kedodoran

Sumber gambar: Football Hunting

Komentar