Jangan Mau Jadi Manajer Leeds United!

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Jangan Mau Jadi Manajer Leeds United!

Performa kesebelasan Anda tak kunjung membaik? Mungkin mengganti manajer bisa jadi solusi atas masalah Anda. Anggapan di atas bisa jadi keliru, bisa jadi tidak keliru juga. Namun, jika kita berbicara mengenai Leeds United, semuanya adalah keliru.

Pemilik Leeds asal Itala, Massimo Cellino, sebelumnya sudah terkenal dengan julukan “the manager eater” alias “si pemakan manajer.”

Julukan di atas bukan karena ia adalah seorang kanibal, tetapi karena ia sangat gemar memecat manajer kesebelasannya. Sebelum menjadi pemilik Leeds, dalam 22 tahunnya di kala ia menjadi pemilik Cagliari Calcio di Italia, Cellino sudah memecat 36 manajer.

Sementara di Leeds, Senin pekan lalu (19/10/2015) ia baru saja memecat Uwe Rösler setelah manajer asal Jerman tersebut hanya berhasil mencetak dua kemenangan dari 12 pertandingan, termasuk juga kalah tiga kali berturut-turut di pertandingan terakhirnya.

Pada hari yang sama dengan hari ketika Cellino memecat Rösler tersebut, ia langsung menunjuk Steve Evans sebagai manajer ke enam yang ia pekerjakan sejak ia mengakuisisi Leeds pada April 2014.

Kemudian tidak sampai di situ, pada hari yang sama dengan Cellino menunjuk Evans, ia diputuskan untuk dihukum dari jabatannya sebagai pemilik kesebelasan oleh pihak The Football League sampai Juni menyusul juga karena sebelumnya ia terlibat penggelapan pajak di Italia (sumber informasi dari The Guardian).

Enam manajer dalam satu setengah tahun, ditambah pemilik kesebelasan yang “kriminal”… sepertinya Leeds United sudah menjadi teladan yang buruk dan kita semua sudah dapat pelajaran berharga bahwa jangan mau jadi manajer Leeds.

Namun, pelajaran ini tidak mau ditelan begitu saja oleh Evans. Sebagai pengetahuan tambahan, Evans sebelumnya juga dipecat oleh Rotherham United pada September tahun ini. Maka sangat mengagetkan melihatnya mendapatkan pekerjaan baru dengan begitu cepatnya, apalagi ia “naik level” sekarang dengan menjadi manajer Leeds.

Ketika keanehan-demi-keanehan muncul tiada henti di Leeds, sebenarnya hasilnya sama saja. Sejak degradasi dari Liga Primer Inggris pada 2004, mereka terdegradasi lagi ke League One pada 2007. Kemudian sejak 2010 mereka masih “tersesat” di papan tengah Football League Championship, satu divisi di bawah Liga Primer.

Satu hal yang bisa kita pelajari dari kasus Leeds ini, posisi manajer atau head coach (begitu yang Cellino inginkan, “head coach”, bukan “manajer”) di Elland Road menjadi posisi yang sangat rentan dengan tingkat pemecatan yang sebelas-duabelas dengan Sunderland.

Pertanyaannya adalah, apa menariknya menjadi manajer Leeds United sampai-sampai sudah ada lima manajer yang jatuh di lubang yang sama?

Suporter yang loyal

Meskipun lingkungan pekerjaan selalu berubah di Leeds, ada satu hal yang tidak pernah berubah: Elland Road, stadion milik Leeds.

Stadion ini adalah stadion terbesar di Championship. Besar bisa jadi sia-sia jika tidak penuh. Tapi jangan salah, Elland Road hampir selalu penuh sesak oleh pendukung kesebelasan asal Yorkshire tersebut. Elland Road sudah terkenal memiliki tingkat kebisingan yang paling intimidatif di liga.

Para suporter tidak peduli Leeds sedang terpuruk atau berjaya, atau juga sedang diberi “harapan palsu”, mereka selalu berisik, dan mereka memang terkenal sangat berisik, apalagi untuk ukuran kesebelasan bukan Liga Primer. Saking berisiknya, tak jarang yang memberikan label “mengesalkan” kepada para suporter Leeds.

Loyalitas suporter Leeds ini juga tidak hanya mereka tunjukkan saat bermain kandang. Saat tandang, rata-rata sebanyak 2.774 penonton melakukan “away days” ke kandang lawan. Jumlah ini adalah yang tertinggi di Championship, di posisi ke dua ada Middlesbrough tapi dengan jumlah yang terpaut cukup jauh, 500 penonton.

Jadi, faktor suporter ini lah yang menjadi daya tarik utama bagi setiap manajer atau head coach yang ditawari pekerjaan penuh risiko di Leeds United.

Akademi dan banyaknya pemain asal Inggris

Hal lain yang tidak bisa dipungkiri dari Leeds adalah kesuksesan akademi mereka dalam menghasilkan pemain-pemain berkualitas. Sejarah mencatat bahwa mereka lah yang melahirkan para legenda di tanah Inggris seperti Peter Lorimer, Norman Hunter, Jack Charlton, Albert Johanneson, dan yang paling terkenal adalah Billy Bremner.

Jika Anda bilang itu semua di masa lalu, pada dua dekade terakhir ini juga mereka masih memproduksi pemain-pemain sepakbola terbaik di Inggris. Sebut saja James Milner, Aaron Lennon, Fabian Delph, Danny Rose, Jonathan Howson, Paul Robinson, Scott Carson, Jonathan Woodgate, dan Alan Smith.

Bayangkan jika pemain-pemain di atas, terutama beberapa nama yang disebutkan lebih awal, masih memperkuat Leeds, pasti mereka sudah menjadi kesebelasan Liga Primer yang sulit dikalahkan.

Tren ini masih berlanjut. Saat ini ada Lewis Cook, Samuel Byram, Alex Mowatt, Charlie Taylor, Chris Dawson, Ross Killock, Kalvin Phillips, sampai Lewis Walters yang beberapa kali sudah bermain reguler di tim utama. Jangan kaget jika beberapa nama di atas menjadi pemain besar di Inggris di masa depan.

Cook misalnya, gelandang bertahan berusia 18 tahun ini adalah pemain reguler di tim utama yang berhasil mendapatkan gelar Young Player of the Year di Championship musim lalu.

Kemudian ada Mowatt, berusia 20 tahun, yang sudah bermain lebih dari 75 pertandingan di Championship dan mencetak 10 gol dari posisinya sebagai gelandang. Byram yang berusia 22 tahun juga menjadi bek dan sayap kanan reguler dengan lebih dari 100 pertandingan. Bahkan Taylor, seorang bek kiri berusia 22 tahun, sempat diincar Manchester United untuk menjadi pelapis ketika Luke Shaw cedera.

Selain faktor akademi, banyaknya pemain asal Inggris dan Britania Raya juga menjadi faktor utama yang membuat kesebelasan ini dicintai oleh suporter mereka.

Sejarah sukses

Ada banyak yang berpendapat bahwa sejarah bisa membebani manajer. Tapi pada kenyataannya, sejarah lah yang selalu diingat oleh suporter dan para jurnalis. Meskipun tidak sebesar Liverpool (yang juga suka membangga-banggakan sejarah mereka), Leeds tetaplah kesebelasan besar.

Mereka pernah menjadi juara liga sebanyak tiga kali (1968/69, 1973/74, dan 1991/92), menjadi runner-up sebanyak lima kali, juara Charity atau Community Shield sebanyak dua kali, juara Piala FA sekali, dan juga Piala Liga Inggris sekali.

Di level Eropa, mereka pernah kalah di final Piala Eropa (Liga Champions) 1974/75 dan final Piala Winners 1972/73. Beberapa nama seperti Don Revie, Brian Clough, Terry Venables, Eric Cantona, Johnny Gilles, Ian Rush, Jimmy Floyd Hasselbaink, Howard Wilkinson, David O’Leary, serta buku dan film ‘Damned United’ adalah peninggalan bersejarah lainnya dari Leeds.

Beberapa manajer Leeds akhir-akhir ini selalu gagal karena mereka dinilai tidak bisa mengembam beban yang terlalu berat dari faktor sejarah ini. Sejak 2004, mereka tidak pernah kembali lagi ke Liga Primer.

Selanjutnya apa?

Steve Evans resmi menjadi manajer ke enam Leeds United dalam satu setengah tahun terakhir (sumber: Mirror)
Steve Evans resmi menjadi manajer ke enam Leeds United dalam satu setengah tahun terakhir (sumber: Mirror)

Setelah Brian McDermott, David Hockaday, Darko Milani?, Neil Redfearn, dan Uwe Rösler, bagaimana nasib Steve Evans?

Sejujurnya Evans bukanlah nama yang tenar bagi pemain maupun suporter. Dari dua pertandingannya sejauh ini, Leeds bermain imbang masing-masing dengan skor 1-1 di kandang Fulham dan Bolton Wanderers.

Sekarang Leeds berada di posisi 17, angka yang paling dibenci oleh Cellino, dari 24 kesebelasan di Championship. Mereka juga belum memenangkan satu pun pertandingan di Elland Road, tapi sudah menang dua kali di kandang lawan.

"Apakah saya berdebar-debar, gugup, atau senang? Semuanya bercampur," kata Evans seperti yang kami kutip dari The Guardian.

“Ini seperti kombinasi dari hari pernikahan, hari kelahiran anak, dan kencan pertama. Ini luar biasa. Anda menyadari kesempatan seperti apa yang telah diberikan dan saya benar-benar tak sabar. Saya akan memberikan semua yang saya punya. Ketika Leeds United menginginkan Anda, bagaimana Anda bisa mengatakan tidak?”

“Saya tidak begitu mengenal presiden (Massimo Cellino) untuk mengetahui bahwa saya akan bisa menjinakkannya,” kata Evans. “Dia orang yang sangat bersemangat. Percayalah, dia ingin menjadi pemenang.”

“Saya akan memberi Anda sebuah tim yang bermain dengan semangat dan bermain dengan kebanggaan. Steve Evans tidak sedang tidur dan bermimpi. Saya seorang realis. Semua orang menyadari head coach yang telah bekerja di sini dan kemudian pergi. Tapi saya harus percaya pada diri saya sendiri. Bagaimana bisa Anda takut dipecat di Leeds United?”

Mungkin Evans akan mengalami kesulitan dalam iklim Leeds yang ada saat ini, tapi manajer asal Skotlandia berusia 52 tahun tersebut harus sadar bahwa ia bukanlah penyelamat seperti Red Bull dan tidak ada kondisi ideal di Leeds selama Cellino menjadi pemilik kesebelasan.

Banyak yang sudah mewanti-wanti untuk jangan mengambil jabatan sebagai manajer Leeds United. Tapi memang Leeds memiliki daya tariknya tersendiri sampai-sampai banyak manajer yang terjatuh di lubang yang sama.

Sumber: The Guardian, Squawka, The Football League

Komentar