"Ideologi" Sassuolo

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Unione Sportiva Sassuolo Calcio atau yang lebih dikenal U.S. Sassuolo memasuki musim ketiganya di Serie A pada musim 2015/2016. Mengakhiri musim 2014/2015 di urutan ke 12, pada musim yang baru, kesebelasan berjuluk Neroverdi ini tentunya bertekad meraih pencapaian yang lebih baik.

Tak muluk-muluk untuk merangsek ke papan atas, mendapatkan tiket berlaga di Europa League musim berikutnya sudah barangtentu menjadi pencapaian tersendiri bagi Sassuolo. Dan untuk memenuhi target tersebut, Sassuolo tetap pada pragmatisme skuatnya yang dihuni oleh mayoritas pemain Italia.

Ya, Sassuolo musim ini masih akan mengandalkan talenta-talenta dari Italia. Tak seperti kesebelasan lain yang merekrut banyak pemain luar Italia untuk menambah kualitas skuatnya, kesebelasan yang berdiri pada 1922 ini masih percaya akan kemampuan-kemampuan para pemain asal Italia.

Untuk skuat utama Sassuolo musim 2015/2016, skuat asuhan Eusibio Di Francesco ini hanya memiliki tiga pemain yang berkebangsaan bukan Italia. Ketiga pemain ini adalah Alfred Duncan (Ghana), Gregoire Defrel (Prancis), dan bek sayap andalan mereka, Sime Vrsaljko (Kroasia).

Tiga pemain ‘asing’ dari 27 skuat lengkapnya ini merupakan jumlah pemain ‘asing’ tersedikit di Serie A musim ini. Kesebelasan debutan musim ini, Frosinone, berada di tempat kedua dengan lima pemain. Sementara AS Roma menjadi kesebelasan yang memiliki pemain ‘asing’ terbanyak dengan 25 pemain ‘asing’ dari total 29 pemain.

Bagi Sassuolo, menjadi kesebelasan dengan mayoritas pemain Italia bukan hal yang baru. Meningkatnya persaingan kompetisi saat promosi ke Serie A untuk pertama kalinya dalam sejarah pada 2013-2014 memang tak membuat Sassuolo mengikuti jejak kesebelasan promosi lainnya yang bergerilya mencari pemain non-Italia berharga murah untuk mengangkat kualitasnya.

Pada musim debutnya di Serie A, jumlah pemain non-Italia Sassuolo memang meningkat dari tiga pemain pada musim sebelumnya menjadi 11 pemain dari total 52 pemain. Tapi jumlah tersebut sudah menjadikannya sebagai kesebelasan dengan pemain non-Italia tersedikit pada musim tersebut.

Pada musim itu memang menjadi musim dengan pemain non-Italia terbanyak pada lima tahun terakhir. Udinese, yang dikenal akan kepandaiannya mendapatkan pemain berbakat, memiliki pemain non-Italia hingga 41 pemain dari total 59 pemain. Sementara Fiorentina memiliki 33 pemain non-Italia dari total 51 pemain.

Sementara pada musim lalu, Sassuolo pun kembali menjadi kesebelasan dengan skuat mayoritas pemain Italia dengan hanya delapan pemain non-Italia dari total 40 pemain. Udinese kembali menjadi kesebelasan dengan pemain non-Italia terbanyak karena berjumlah 32 pemain dari total 44 pemain miliknya. Fiorentina yang memiliki 27 pemain non-Italia dari total 41 pemain, berada di tempat ketiga karena Inter berada di tempat kedua dengan 29 pemain dari total 41 pemain.

Mari bandingkan dengan Carpi yang juga merupakan debutan Serie A pada musim ini, kini memiliki 12 pemain non-Italia di mana saat berlaga di Serie B musim sebelumnya hanya memiliki tujuh pemain non-Italia. Bologna yang juga berstatus promosi pada musim ini, memiliki 13 pemain non-Italia (musim sebelumnya 16 pemain). Sementara Frosinone masih tetap seperti musim lalu yang hanya menggunakan lima pemain non-Italia.

Lantas, apa yang menjadikan Sassuolo tetap pada "ideologi" untuk memaksimalkan para pemain Italia? Ada anggapan bahwa ini berkaitan dengan masa lalu Di Francesco, pelatih Sassuolo sejak 2012, yang saat menjadi pemain pernah membela Piacenza yang identik dengan skuat Italia-nya pada era Bartolo Mutti, Walter Novellino, dan dan Luigi Cagni. Namun ternyata sang pelatih menampiknya.

“Sebuah kebetulan yang menyenangkan,” ujar Di Francesco seperti yang ditulis ESPNFC. “Tapi ini bukan sebuah keputusan ideologis. Saya bukan menentang para pemain asing, tapi mereka harus melakukan perbedaan.”

Nyatanya, identitas Sassuolo yang begitu Italia ini dihadirkan oleh sang pemilik klub, Giorgio Squinzi. Pemilik perusahaan bernama Mapei yang mengakuisisi Sassuolo pada 2002 ini memang menginginkan Sassuolo menjadi model bagi kesebelasan Italia untuk menghadapi krisis.

“Saya rasa, kesuksesan Simone Zaza dan Domenico Berardi (bermain di timnas) merupakan penghargaan untuk strategi kami tentang memaksimalkan pemain muda dan pemain home-grown,” tutur Squinzi pada La Gazzetta dello Sport. “Kami pernah memainkan 11 pemain Italia sejak menit pertama. Sassuolo merupakan model yang tepat bagi kesebelasan Italia untuk menghadapi krisis.”

Giorgio Squinzi (kanan) bersama pelatih Sassuolo, Eusibio Di Francesco. (via: gazzetta.it)
Giorgio Squinzi (kanan) bersama pelatih Sassuolo, Eusibio Di Francesco. (via: gazzetta.it)

Kiprah Zaza dan Berardi di Serie A beberapa tahun belakang memang menjadi bukti bahwa Sassuolo berhasil memaksimalkan pemain berbakat Italia. Kedua pemain ini bisa saja menjadi jawaban atas attacante Italia yang dalam beberapa tahun belakangan tergusur oleh penyerang-penyerang asing.

Upaya Squinzi lainnya untuk menjadikan Sassuolo sebagai model bagi kesebelasan Italia adalah dengan membeli Stadio Citta del Tricolore pada 2013, kemudian mengubah namanya menjadi Stadion Mapei. Bersama Juventus, Sassuolo pun menjadi kesebelasan yang memiliki stadion sendiri karena kesebelasan lain harus menyewa pada pemerintah kota untuk menggunakan stadion.

Sassuolo memang bukan penantang juara Serie A atau mungkin masih akan kesulitan untuk mendapatkan tiket ke kompetisi Eropa. Tapi Sassuolo bersama Squinzi yang ingin menjadi model bagi kesebelasan Italia lain tentunya menjadi kebanggaan tersendiri.

Sassuolo pun tengah menapaki pencapaiannya dari musim ke musim. Setelah promosi dari Serie B, Sassuolo bertahan di Serie A dengan menempati peringkat ke -17, satu strip di atas zona degradasi. Sedangkan pada musim lalu, menempati peringkat ke-12.

Anak tangga yang dinaiki setapak demi setapak oleh Sassuolo ini menjadi bukti bahwa kesebelasan Italia harusnya percaya akan talenta-talenta asal negeri sendiri. Karena dengan meminimalisasi banyaknya pemain asing yang beredar, tentunya akan berdampak pula pada kualitas timnas Italia sendiri. Hal itu pun bisa menjadi strategi yang tepat untuk mengatasi sepakbola Italia yang (katanya) tengah dilanda krisis dalam beberapa tahun belakangan ini.

Saat artikel ini ditulis, Sassuolo baru saja meraih kemenangan kedua pada Serie A 2015/2016. Sebelum mengalahkan Bologna, Sassuolo sukses menjinakkan salah satu raksasa Italia, Napoli.

foto: it.eurosport.com

Komentar