Matías Kranevitter, dari Caddy Golf Menjadi Gelandang Bertahan Terbaik Argentina

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Matías Kranevitter, dari Caddy Golf Menjadi Gelandang Bertahan Terbaik Argentina

River Plate menjadikan tahun 2015 sebagai ajang pembuktikan diri. Setelah terdegradasi pada tahun 2011, empat musim berselang, kesebelasan yang bermarkas di Monumental Stadium ini sukses menjuarai Copa Libertadores, turnamen paling bergengsi di Amerika Selatan, dengan menjungkalkan Tigres UANL.

Ternyata, tahun 2015 pun menjadi tahun yang cukup penting bagi karier salah satu pemain River bernama, Matias Kranevitter. Gelandang kelahiran 21 Mei 1993 tersebut untuk pertama kalinya mendapat panggilan dari timnas Argentina, bersama Emmanuel Mas (San Lorenzo) dan Angel Correa (Atletico Madrid).

Berkah tersebut hadir bagi Kranevitter setelah Lucas Biglia yang dalam beberapa tahun belakangan menjadi andalan lini tengah timnas Argentina, mengalami cedera saat Lazio menjungkalkan Bologna dengan skor 2-1 pada pekan perdana Serie A Italia. Sementara itu, pelatih timnas Argentina, Gerardo Martino, tengah menyiapkan skuatnya untuk laga uji tanding internasional menghadapi Bolivia dan Meksiko.

Diselamatkan oleh Pemandu Bakat River Plate

Jauh sebelum mendapatkan panggilan dari timnas Argentina, Kranevitter memiliki kehidupan yang cukup sulit sewaktu kecil. Pemain kelahiran kota San Miguel ini merupakan anak sulung yang kini memiliki enam saudara kandung, dan memiliki ayah yang bekerja hanya sebagai sopir taksi.

Kesulitan finansial yang dialami keluarganya ini membuatnya harus bekerja pada usia 12 tahun. Saat itu, atau 10 tahun yang lalu, Kranevitter masih berprofesi sebagai caddy golf atau orang yang membawakan tas berisikan stik para pegolf untuk mendapatkan tambahan pendapatan keluarganya.

Meskipun begitu, bagaimanapun, menjadi pesepakbola adalah impiannya sejak kecil, di mana ia tak kenal lelah terus berjuang untuk mewujudkannya. Beruntung, ketika ia mengikuti sebuah turnamen lokal bersama kesebelasan amatirnya pada usia 14 tahun, hadir seorang pemandu bakat River Plate yang memang gemar mencari bakat-bakat tersembunyi di Argentina.

Berkat usahanya, ia mendapatkan laga debutnya bersama skuat senior River pada usia 19 tahun oleh pelatih interim River, Gustavo Zapata. Namun persaingan di lini tengah saat itu sangat ketat di mana terdapat dua gelandang senior: Leonardo Ponzio dan Cristian ‘Lobo’ Ledesma, membuatnya lebih sering bermain untuk River Plate U20.

Namun namanya mulai sering menghuni skuat utama River, meski hanya di bangku cadangan, setelah River dilatih oleh Ramon Diaz. Kepercayaan itu hadir setelah Kranevitter berhasil mengantarkan River Plate U20 menjuarai  Copa Libertadores U20.

Kehadiran Marcello Gallardo yang menggantikan Ramon Diaz membuat Kranevitter lebih sering mendapatkan menit bermain yang banyak. Gallardo sendiri memang tipikal pelatih yang tak ragu untuk memainkan pemain muda. Dan bersama Gallardo-lah Kranevitter semakin meningkat kualitasnya.

Penerus Javier Mascherano

Jika berbicara kualitas, kemampuan Kranevitter memang sudah cukup layak untuk membela timnas Argentina. Salah satu bukti sahih kemampuannya adalah dengan meraih empat gelar juara bersama River Plate pada 2014-2015.

Kranevitter bukanlah gelandang dengan trick-trick yang luar biasa. Eks-penggawa timnas Argentina U20 ini pun bukan gelandang yang rajin mencetak gol. Jangankan gol, assist kedua dalam kariernya, yang saat ini sudah tampil sebanyak 76 kali untuk River, baru ditorehkannya beberapa hari yang lalu.

Tapi posisi gelandang memang tak bisa hanya dinilai dengan gol dan assistnya. Kelebihan permainan Kranevitter adalah kemampuannya dalam melakukan intersep, tekel, dan akurasi umpan-umpan yang ia berikan.

Kranevitter lebih sebagai penyeimbang di lini tengah ketimbang kreator serangan. Ia akan berusaha merebut bola dari kaki lawan, memotong alur serangan  lawan, lalu dengan ketenangannya, ia bisa mengalirkan bola ke sayap atau menyerahkan bola pada playmaker-nya (Leonardo Ponzio di River) untuk memulai serangan.

Permainan Kranevitter sebenarnya tak jauh berbeda dengan permainan yang ditunjukkan wakil kapten timnas Argentina, Javier Mascherano. Hanya saja, Kranevitter tak memiliki kekuatan layaknya gelandang (atau bek) milik Barcelona tersebut.

Lalu bagaimana ia bisa menjadi gelandang breaker meski tak memiliki kekuatan mumpuni? Kepintarannya membaca permainan dan kengototannya bermain menjadi nilai lebih Kranevitter. Untuk lebih jelas, simak sedikit cuplikan aksinya di bawah ini.

Sebenarnya tak terlalu mengherankan jika Kranevitter disebut-sebut sebagai gelandang bertahan terbaik di Liga Argentina saat ini. Fernando Redondo, Javier Mascherano, dan Rodrigo Brana (gelandang senior Argentina yang bersinar bersama Quilmes) adalah model yang terus ia pelajari.

“Saya selalu mengagumi Fernando Redondo. Saya pun belajar banyak dari Mascherano dan Brana. Saat ini saya mempelajari apa yang ditampilkan Bastian Schweinsteiger. Saya mempelajari mereka, mengetahui bagaimana mereka menyentuh bola, bagaimana caranya melakukan track back, dan juga bagaimana caranya menerima bola untuk kemudian mengalirkannya kembali,” ungkap Kranevitter seperti yang ditulis worldfootballindex.

Mascherano berfoto dengan penerusnya, Kranevitter. (via: just-football.com)
Mascherano berfoto dengan penerusnya, Kranevitter. (via: just-football.com)

Tentang mempelajari pemain, yang dikatakan Kranevitter itu diamini oleh rekan setimnya, Ponzio. Bahkan menurut Ponzio, Kranevitter adalah gelandang no. 5 terbaik Argentina saat ini. “Ia selalu mendengarkan apa yang dikatakan pelatih dan selalu ingin belajar banyak hal,” tutur Ponzio pada just-football.com.

Di River, Kranevitter pun menggunakan nomor punggung lima. Nomor ini pun merupakan nomor yang identik dengan Redondo dan Mascherano (di Barca menggunakan no. 14 karena no.5 digunakan Sergio Busquets). Jangan lupakan pula bahwa River pernah menelurkan pemain tipikal serupa Mascherano dan Redondo dalam diri Matias Almeyda.

Tahun 2015 pun tampaknya akan benar-benar menjadi tahun berkah baginya. Selain mendapatkan panggilan dari timnas Argentina, ia pun dikabarkan akan melanjutkan kariernya di Eropa. Berhasil membuat Manchester City dan Valencia gigit jari, Kranevitter memilih untuk bergabung Atletico Madrid.

Pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone, menjadi faktor lain mengapa Kranevitter memilih hijrah ke kota Madrid. Semasa bermain, Simeone terkenal sebagai salah satu gelandang bertahan terbaik di Argentina. Hal ini tentu saja bisa meningkatkan kualitas permainannya dengan saran-saran dari eks-gelandang timnas Argentina tersebut.

Untuk memudahkannya saat bermain di Eropa, Kranevitter tengah mengajukan kepemilikan paspor Italia. Jika masalah administrasi ini selesai, Kranevitter dipastikan akan bergabung dengan Atletico Madrid pada Desember mendatang.

">June 25, 2015


foto: wixstatic.com

Komentar