Bernostalgia dengan Salah Satu Musim Terbaik La Liga

Cerita

by Zakky BM

Zakky BM

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Bernostalgia dengan Salah Satu Musim Terbaik La Liga

Derby Madrileno di final Liga Champions 2013-14, Sevilla yang merengkuh gelar back-to-back Liga Europa, dan kedigdayaan raihan treble Barcelona untuk kedua kalinya, merupakan salah satu catatan emas persepakbolaan Spanyol saat ini.

Belum lagi ditambah dengan fakta bahwa kesebelasan nasional Spanyol yang menguasai Eropa dan dunia dalam kurun waktu 2008 hingga 2012, yang membuat sebagian dari kita berpendapat kalau persepakbolaan Spanyol memulai kejayaannya sejak 2008. Hal ini bisa benar, bisa juga tidak. Faktanya ada satu musim di mana persepakbolaan Spanyol di level klub sedang ketat-ketatnya.

Musim itu adalah musim 1999/2000 di mana Liga Spanyol tengah bergairah. Sejumlah pengamat sepakbola pada masa tersebut hampir semua keliru dalam menebak peta persaingan juara liga dan kesebelasan yang terdegradasi.

Anda barangkali sepakat dengan saya yang berpendapat bahwa Atletico Madrid dan Sevilla adalah bagian dari kesebelasan elit di Liga Spanyol bersama Barcelona, Real Madrid, Villareal, Athletic Bilbao  dan Valencia. Pada musim 1999/2000 Atletico dan Sevilla menyentuh titik terendah dalam sejarah sepakbola mereka. Kedua kesebelasan tersebut mesti menyicipi divisi kedua Liga Spanyol yaitu Segunda Divison.

Tidak seperti Barcelona, Real Madrid dan Athletic Bilbao yang belum pernah terdegradasi, Sevilla sebelumnya pernah terdegradasi tiga kali dan Atletico dua kali.

Pada musim tersebut, uniknya, Atletico berhasil maju ke partai final Copa del Rey menghadapi Espanyol. Ini terjadi karena Barcelona mengundurkan diri pada babak semifinal. Barcelona enggan bermain karena berbenturan dengan jeda pertandingan internasional. Akibatnya cuma tujuh pemain saja yang tersedia di tim utama. Pada saat itu, aturan Copa del Rey cuma mengijinkan tiga pemain dari tim muda yang bisa disematkan ke tim utama. Barcelona pun mengundurkan diri.

Espanyol juara Copa del Rey 1999/2000 (sumber: outside of The Boot)
Espanyol juara Copa del Rey 1999/2000 (Sumber: Outside of The Boot)

Di final, Atletico kalah dari Espanyol 1-2. Gol semata wayang Hasselbaink tak mampu mengobati luka mereka yang terdegradasi.

Meski terdegradasi, Atetico dan Sevilla nyata-nyatanya mampu mengambil hikmah dan bisa mengorbitkan pemain muda serta merombak susunan manajemen mereka. Fernando Torres yang merupakan produk asli Atletico mulai diorbitkan, sementara Sevilla, mereka menunjuk Ramon “Monchi” Rodriguez menjadi direktur olehraga mereka. Ia ditugaskan menegmbangkan pemain muda serta membuat jaringan pencari bakat ke seluruh dunia.

Hasilnya, meski tak instan seperti Atletico yang berhasil mengorbitkan Torres dalam dua musim, kini Sevilla menikmati jerih payah dengan mampu berbicara banyak di kancah Eropa dan mendapatkan pundi-pundi berlimpah dari hasil penjualan pemain bebakat yang ditemukan Monchi baik dari akademi sendiri ataupun dari kesebelasan lain.

Deportivo sang Jawara Liga dan Derby La Liga di Final Liga Champions

Dominasi Barcelona di La Liga pada musim 1997/1998 dan 1998/1999 membuat mereka kembali diunggulkan untuk meraih titel ketiga secara berturut-turut. Apalagi Barcelona masih diperkuat Rivaldo, Pep Guardiola, Luis Enrique, Patrick Kluivert, hingga Luis Figo. Wajar rasanya jika Blaugrana begitu diunggulkan.

Jawara liga: Super Depor (sumber: Marca)
Jawara liga: Super Depor (sumber: Marca)

Namun, Deportivo La Coruna mematahkan semua prediksi para pengamat sepakbola. Sejak partai pertama, mereka sudah memuncaki tabel klasemen dengan menggulingkan Alaves 4-1.

Deportivo yang dinakhodai oleh Javier Irureta dan diperkuat oleh pemain seperti Roy Makaay, Djalminha, Flavio Conceciao sampai sang penyerang Portugal, Pauleta, membuat skuat mereka mampu bersaing dengan kontestan lainnya di La Liga.

Bahkan dengan skuat tersebut mereka menumbangkan Barcelona di Riazor, markas mereka dengan skor tipis 2-1 berkat kegemilangan  Makaay. Penampilan konsisten mereka pun mengantarkan kesebelasan asal Galicia tersebut menjuarai Liga Spanyol musim 1999/2000.

Dari ibukota, sang raksasa Real Madrid yang kelimpungan di awal musim ternyata berdampak pada pemecatan John Toshack dari kursi kepelatihan yang digantikan oleh Vicente Del Bosque. Namun, posisi persaingan di La Liga yang sudah sangat menjauh ternyata membuat Los Merengues mengalihkan fokus mereka ke Liga Champions.

Hasilnya tak sia-sia, Real Madrid yang sebetulnya hanya finish di peringkat kelima nyata-nyatanya mampu menghadirkan trofi "si kuping besar" kedelapannya menuju Santiago Bernabeu. Lebih spesial lagi karena final Liga Champions 1999/2000 ini menyertakan dua kesebelasan Liga Spanyol di final yaitu Real Madrid dan Valencia.

Secara posisi klasmen di liga, Valencia memang finish setingkat lebih baik daripada Real Madrid saat itu. Namun pengalaman segudang Los Merengues di kancah Eropa membantu mereka untuk mengandaskan mimpi-mimpi Los Che di final lewat aksi brilian dari Raul Gonzales, Morientes dan McManaman.

Real Madrid vs Valencia di final Liga Champions 1999/2000 (sumber: Daily Mail)
Real Madrid vs Valencia di final Liga Champions 1999/2000 (sumber: Daily Mail)

Tulisan diolah dari berbagai sumber

Komentar