Memangnya Apa yang Mau Ditonton dari Laga Perebutan Juara Ketiga?

Cerita

by Zakky BM

Zakky BM

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Memangnya Apa yang Mau Ditonton dari Laga Perebutan Juara Ketiga?

Ada dua pertandingan final di akhir pekan ini. Ya, partai antara Argentina melawan sang tuan rumah Chile di perhelatan Copa America 2015 serta partai final kejuaraan sepakbola perempuan terbesar di dunia antara Amerika Serikat melawan sang juara bertahan, Jepang. Keduanya layak kita saksikan. Keduanya juga sudah mesti menjadi perbincangan karena menawarkan oase di tengah gersangnya sepakbola di tanah air, karena liga-liga Eropa yang sedang libur dan liga negeri sendiri yang entah bagaimana nasibnya.

Namun, ada anak tiri di balik perhelatan puncak tersebut. Pertandingan Peru vs Paraguay di Copa America dan Jerman vs Inggris adalah partai perebutan juara ketiga dari dua kompetisi tersebut. Seperti biasa, perebutan juara ketiga lazimnya dilaksanakan sehari sebelum pertandingan final.

Tapi, apa ada yang peduli betul terhadap pertandingan itu? Mungkin jika berandai-andai, (mungkin) hanya sedikit saja yang peduli, mayoritas lainnya mereka hanya bersikap bodo amat.

Perdebatan, komentar-komentar serta perjalanan panjang tentang penyelenggaraan perebuatan juara ketiga telah menjadi fenomena tersendiri bagi pelaku sepakbola tersebut. Bahkan Louis Van Gaal (sebelum partai perebutan juara ketiga Piala Dunia 2014 antara Belanda vs Brazil) secara terang-terangan menyebut bahwa: “Partai perebutan juara ketiga ini tak perlu dimainkan karena sebetulnya yang diperebutkan hanyalah juara pertama.”

Laga yang mempertemukan dua pecundang di partai semifinal ini sejatinya biasa tersaji dalam pertandingan olimpiade yang secara tradisi memiliki penghargaan medali emas, perak dan perunggu di setiap cabang olahraga yang dilombakan. Singkatnya, penyelenggaraan pertandingan dalam olimpiade sudah mesti memerlukan satu tim untuk dapat meraih jatah medali perunggu. Belum lagi peralihan medali-medali tersebut akan mempengaruhi total perolehan poin dari kontingen negara tertentu.

Namun, bagaimana untuk kompetisi sepakbola seperti Piala Dunia, Piala Eropa, Liga Champions atau Piala FA sekalipun?

Pada awal penyelenggaraan Piala FA, turnamen sepakbola tertua di dunia, pada 1871-72 lampau, ternyata tidak menyajikan partai perebutan juara ketiga. Hanya partai final antara Wanderers FC versus Royal Engineers saja yang dihelat sebagai partai puncak Piala FA.

Namun hampir seabad kemudian, atau tepatnya pada tahun 1970, FA mengenalkan partai perebutan juara ketiga di kompetisi sepakbola tertua sejagat tersebut. Hasilnya? Partai ini dianggap kurang populer dan hanya bertahan lima musim saja terhitung dari musim 1969-70 sampai musim 1973-74.

Namun, lain cerita dengan kompetisi Piala Eropa. Pada awal diresmikannya pada 1960 lalu, kompetsisi ini malah mempunyai partai perebutan juara ketiga sampai akhirnya partai ini dihapuskan sejak edisi ketujuh Piala Eropa yang kala itu terjadi pada 1984 di Prancis. Sampai sekarang, kejuaraan paling akbar di Benua Biru tersebut tak pernah mengenal kembali partai perebutan juara ketiga.

Tapi hey, yang akan kita saksikan ini perebutan ketiga di kompetsisi Copa America dan Piala Dunia Perempuan, lho.

Kompetisi Piala Dunia Perempuan, sebagaimana kompetisi Piala Dunia Laki-laki, masih memegang teguh sistem pertandingan perebutan juara ketiga di penghujung turnamen sebelum partai final digelar. Perbedaannya hanya saat pertama kali Piala Dunia Laki-laki digelar, pertandingan perebutan juara ketiga tak digelar. Tapi setelah itu selalu digelar sampai sekarang.

Copa America yang awalnya bernama Campeonato Sudamericano de Futbol ini memang mengenal tempat ketiga sejak awal mula penyelenggaraannya. Seiring format kompetisi yang kerap kali berubah-ubah, Copa America pernah tidak menyelenggarakan partai perebutan juara ketiga ini pada edisi 1975, 1979 dan 1983. Format round-robin atau setengah kompetisi juga pernah mereka pakai pada 1989 dan 1991 untuk menentukan sang juara satu, dua dan tiga. Setelah itu, semenjak 1993 hingga kini, Copa America terus menyelenggarakan paratai perebutan juara ketiga.

turki vs korsel
Salah satu partai terbaik pada perebutan juara ketiga. (Sumber: ww2.hdnux.com)

Dua kompetisi yang akan kita saksikan akhir pekan ini memang tak banyak menyedot atensi pemirsa tanah air apalagi untuk memperdulikan partai perebutan juara ketiga-nya. Saya, kita, bahkan lebih cenderung mengingat kejadian-kejadian unik nan heroik di partai perebutan juara ketiga di turnamen sekelas Piala Dunia Laki-laki (saja).

Salah satu ingatan kita akan partai perebuatan juara ketiga akan tertuju pada 2002. Pada saat itulah seorang Hakan Sukur membuat rekor Piala Dunia. Ia dengan mudahnya mempecundangi skuat Korea Selatan lewat gol cepatnya ketika laga baru berlangsung 11 detik. Atau, cerita bagaimana Kroasia dengan spartan mempecundangi Belanda di Prancis 1998. Hal-hal tersebut adalah sedikit dari keajaiban partai perebutan juara ketiga.

Keajaiban pada pertandingan perebutan juara ketiga seringkali muncul ketika kedua kandidatnya bukan kesebelasan yang diperhitungkan untuk melaju sejauh hingga semifinal. Turki 2002, Korea Selatan 2002, Kroasia 1998, Bulgaria 1994 bahkan tim nasional perempuan Inggris 2015 ini merupakan sederet kesebelasan kejutan yang tidak diduga bisa melaju hingga babak semifinal.

Salah satu harapan lahirnya tontonan yang seru di pertandingan perebutan juara ketiga bisa ditumbuhkan oleh para pemain yang ingin menambah pundi-pundi golnya atau bahkan mencetak rekor di turnamen tersebut. Selain rekor Hakan Sukur yang sudah dituliskan di paragraf sebelumnya, ada Just Fontaine (Prancis) yang memanfaatkan pertandingan perebutan juara ketiga untuk mengukuhkan dirinya sebagai pencetak gol terbanyak dalam satu turnamen Piala Dunia sepanjang masa. Total 13 gol yang ia capai, empat gol-nya ia cetak dalam partai perebutan juara ketiga Piala Dunia 1958 yang berlangsung di Swedia.

Perihal pemasukan pundi-pundi uang juga jangan sampai dilupakan pada partai sekelas perebutan juara ketiga. Hal ini tentu akan memberi pemasukan tersendiri dari penjualan tiket dan hak siar televisi kendati jumlahnya tak banyak-banyak amat. Tapi lumayanlah!

Pada akhirnya, sesungguhnya partai perebutan juara ketiga akan menjadi keberkahan sendiri bagi para pemain yang belum pernah bermain di sepanjang turnamen tersebut atau untuk para pemain yang akan menciptakan rekornya sendiri. Pemain-pemain macam itulah, yang ingin memperlihatkan kebolehannya, yang bisa diharapkan dapat memberikan atraksi menarik -- setidaknya gol yang asyik.

Dan mari berdoa juga supaya partai akhir pekan ini memunculkan kisah-kisah ajaib dari lapangan hijau yang akan dikenang oleh para penontonnya kelak.

Lagipula, tak ada ruginya kan menonton partai perebutan juara ketiga, iya, kan?

Tulisan diolah dari berbagai sumber

Komentar