Lelucon-lelucon Neymar yang Kehilangan Kelucuannya

Cerita

by Marini Saragih

Marini Saragih

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Lelucon-lelucon Neymar yang Kehilangan Kelucuannya

Menulis Neymar sebagai pesepakbola adalah menulis lelucon. Lelucon yang diulang-ulang, yang lama-lama memudarkan kelucuannya sendiri.

Coba ingat-ingat lagi kekonyolan apa yang dibuat Neymar di atas lapangan hijau. Terhitung sejak akhir Mei tahun ini saja saya berhasil menemukan 4 kekonyolan. Yang pertama ketika berlangsungnya Final Copa del Rey. Konon, waktu itu ia hampir dikeroyok pemain Bilbao akibat memprovokasi lawan dengan menggunakan double heel, mengangkat bola memakai tumit melewati lawannya.

Yang kedua ketika sedang pawai merayakan keberhasilan Barca meraih treble. Bersama Andres Iniesta, Neymar bertindak usil kepada Xavi dengan  mencoba melepas sepatu dan menyingkirkannya dari posisi di atas bus – akibatnya tak tanggung-tanggung, wajah Neymar harus menerima tamparan dari sang senior.

Kemenangan 2-1 Brasil atas Peru pada laga Copa America 2015 pun ternoda oleh kekonyolannya. Padahal kontribusi untuk negaranya sangat besar melalui satu gol dan satu asist yang disumbangkan untuk kemenangan dramatis tersebut. Pada menit ke-44 ia menghapus busa vanishing spray yang sudah disemprotkan wasit ke rumput stadion – entah apa yang menjadi tujuannya.

Dan yang terakhir tentu saja kartu merah diterimanya di detik-detik terakhir laga melawan Kolombia dalam perhelatan Copa America 2015. Barangkali Neymar tersulut emosi karena merasa tak mendapat dukungan seperti yang ia dapatkan dari rekan-rekan klubnya. Apalagi, sebelumnya ia juga menerima kartu kuning akibat handball.

Puncaknya, Brasil harus menyerah atas Kolombia lewat gol semata wayang Jeison Murillo. Bukannya menerima kekalahan, Neymar justru (dianggap) memicu keributan dengan Murillo dan Carlos Bacca usai peluit panjang dibunyikan. Apa boleh buat, kartu merah yang menjadi ganjarannya.

Sepakbola itu memang hiburan bertensi tinggi. Memang agak janggal, karena sebagai hiburan, ia seharusnya bisa mengendurkan urat syaraf yang tegang. Namun apa daya, sepakbola itu begitu menjerat penikmatnya. Makanya, terkadang, kekonyolan aktor lapangan hijau itu begitu dinanti agar pertandingan tak tegang-tegang amat. Agar para penyaksi ini bisa sedikit tertawa senang dan tak melulu diserang geram karena si jagoan tak menang-menang, apalagi jika terlanjur memasang taruhan dengan uang sisa gaji.

Neymar bukanlah pesepakbola sembarangan. Usia karirnya memang belum seberapa panjang, masih 16 tahun – 10 tahun di level junior, jalan 6 tahun bersama level senior. Kredibilitas Neymar sebagai pesepakbola kelas dunia dibuktikan lewat catatan statistiknya. Untuk diketahui - dari 122 gol yang ditorehkan trio asal Amerika Latin dalam gelaran La Liga, Copa del Rey dan Liga Champion, Neymar menyumbang 39 gol dalam 51 penampilan. Bersama tim nasional Brasil pun, usai perhelatan Piala Dunia 2014 – di bawah kepelatihan Carlos Dunga – El Gallo berhasil mendapat kepercayaan untuk menjabat sebagai kapten.

Beberapa tindakan konyol Neymar juga pernah kami rangkum dalam Kekonyolan-kekonyolan Neymar

Di sepanjang perhelatan Copa America 2015 yang rasanya tak berlebihan jika disebut-sebut sebagai ajang pembuktian si kapten muda, Neymar juga tampil hebat. Ia menyambut kedatangan Dunga sebagai pelatih melalui gol kemenangan Brasil atas Kolombia dalam uji coba, 6 September 2014 lalu. Jika ditotal dalam pertandingan percobaan saja, ada 8 gol yang berhasil dicetak Neymar dalam 7, belum termasuk laga pertama melawan Peru.

Namun rentetan gol kemenangan yang diberikan Neymar juga beriringan dengan lelucon-leluconnya sebagai penggiat sepakbola.  Sebagai pesepakbola yang kerap menjadi lelucon di atas lapangan, Neymar itu ibarat martir. Lelucon, komedi, banyolan atau apapun namanya adalah seni yang mulia.

Merujuk pada esai Remy Sylado yang berjudul “Lantas Apa Salahnya Ketawa?”, lelucon yang sebenarnya harus bisa  menjungkirbalikkan sebuah doktrin yang terlanjur menancap dalam kepala setiap orang.

Apa yang sanggup dijungkirbalikkan Neymar adalah anggapan kalau pesepakbola tersohor itu hanya bisa mengundang decak kagum. Lewat kartu merah yang diterimanya di ujung pertandingan melawan Kolombia yang membuatnya tak bisa bertanding sekalipun Brasil lolos ke partai puncak, Neymar ingin menyadarkan kalau tak semua pesepakbola yang berlaga di level senior bisa bertanding sebagai pesepakbola matang. Pesepakbola kelas dunia sepertinya pun terkadang bisa terjungkal akibat masalah sepele, catatan-catatan statistiknya yang membikin banyak kesebelasan berebut membelinya di akhir musim bisa takluk kepada emosinya sendiri.

Dan jika ada banyak penyaksi yang tertawa atas lelucon yang dipertontonkan Neymar ini, mereka tak cuma sedang menertawakan Neymar, mereka sedang menertawakan apa-apa yang sebenarnya memang terjadi di ranah sepakbola.

Lelucon bukanlah masalah, ia bukan barang haram yang harus dimusnahkan. Yang menjadi masalah adalah lelucon sama yang diulang-ulang.

Meski beberapa tindakannya dianggap konyol namun semua orang pasti sepakat bahwa Neymar adalah pemain hebat.

Otak Neymar Bekerja Autopilot Saat Bermain Sepakbola



Tentang kasus Neymar sederhana saja. Anggaplah kita sedang menyaksikan lelucon kelas atas yang tujuannya bukan menertawakan si aktor namun kesalahan yang dipertontonkan si aktor yang sebenarnya tak jarang juga menjadi kesalahan kita. Namun bukankah lelucon sama yang diulang-ulang, lama-lama hanya akan membikin kita muak: entah itu cerita-cerita sedih, atau kisah-kisah bahagia, jika terus diulang bukankah itu hanya akan membuat kita mengantuk?

Neymar adalah pesepakbola papan atas, karirnya masih panjang. Namun alangkah bodohnya jika pada akhirnya, pernyataan “karirnya masih panjang” itu diawali dengan kata “seharusnya” akibat kekonyolan yang sama yang diulang-ulang.

Komentar