Perbedaan antara Pallister vs Keane dan Ibra vs Van der Vaart

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Perbedaan antara Pallister vs Keane dan Ibra vs Van der Vaart

“Kami bertengkar saat tur pramusim. Kami akhirnya tidak saling bicara. Rasanya aneh. Bukannya kami membenci satu sama lain. Kami hanya cukup keras kepala untuk tidak berkata, ‘begini, ya...’ Seharusnya kami sama-sama mengalah setelah kejadian itu dan melupakannya. Kami selalu menertawakan hal ini, namun kami bukan tipe orang yang berkata: ‘mari lupakan masalah ini.’ Seperti itulah keras kepalanya kami.”

Kisah pertengkaran dengan Roy Keane tersebut dikisahkan oleh eks bek tengah andalan Manchester United, Gary Pallister. Pertengkaran di Marbella, Spanyol, pada 1996 itu ternyata berbuntut panjang. Pallister dan Keane tidak saling menyapa satu sama lain dalam jangka waktu yang lama karenanya. Tepatnya hingga Pallister meninggalkan United pada 1998.

Pallister sudah berada di United sejak 1989. Keane sendiri baru bergabung dari Nottingham Forest pada 1993. Sejak bermain bersama dan sebelum bertengkar di Marbella, Pallister dan Keane berhasil meraih dua gelar juara Premier League dan FA Cup dalam tiga musim. Hubungan yang tidak harmonis antara dua pemain utama tentunya mempengaruhi peluang juara United untuk musim 1996/97 dan seterusnya.

Namun Pallister dan Keane, walau sama-sama tidak mau mengalah dan mengucap maaf, tetap mampu bermain profesional dan berhasil mengantar United menjuarai Premier League musim 1996/97. Rahasianya sederhana: mereka memperlakukan pertengkaran tersebut sebagai masalah pribadi yang tidak perlu dibawa ke dalam kesebelasan walau masalah yang memicunya terjadi ketika mereka menjalani agenda kesebelasan. Bahkan keduanya sama-sama merahasiakan pertengkaran ini – walau tanpa kesepakatan, karena keduanya tidak saling bicara – dari Sir Alex Ferguson.

Hasilnya terbukti baik. Tidak ada perpecahan di United dan mereka tetap berprestasi. Pallister dan Keane tidak saling berbicara hingga Pallister meninggalkan United untuk kembali membela Middlesbrough. Saat itulah suasana kembali cair. “Namun ketika saya pindah ke Middlesbrough, saya pergi mengambil barang-barang saya di ruang ganti di The Cliff (markas latihan lama United) dan Roy berjalan menaiki tangga ketika saya turun. Ia tertawa, saya tertawa. Kami berjabat tangan dan ia berkata: ‘aku doakan yang terbaik, pria besar’ dan kami mulai berbicara lagi setelahnya. Segila itu, dua orang keras kepala,” kisah Pallister lagi.

Walau tampak kekanak-kanakan, Pallister dan Keane ternyata cukup dewasa menghadapi masalah pribadi mereka. Keduanya bertemu dan minum kopi bersama belum lama ini, dan mereka masih menertawakan pertengkaran lamanya. Seperti Pallister dan Keane, Zlatan Ibrahimovi? dan Mido juga pasti akan sama-sama tertawa mengenang pertengkaran lama mereka yang melibatkan lempar-melempar gunting di ruang ganti. Namun Ibra dan Rafael van der Vaart – lawan bertengkarnya yang lain – jelas tidak akan menikmati perdamaian yang sama.

Pertengkaran Ibra dan Mido dimulai ketika pelatih kepala Ajax, Co Adriaanse, lebih memilih Mido ketimbang Ibra walau sang penyerang Swedia didatangkan dengan harga mahal. Saat itu Mido memang sedang bagus-bagusnya. Pergantian pelatih kepala dari Adriaanse ke Ronald Koeman tidak mengubah peruntungan Ibra.

Suatu hari Mido dan Ibra bertengkar di ruang ganti. Penyerang asal Mesir tersebut mengambil gunting (lebih dari satu) dan melemparnya ke kepala Ibra. Tak terima, Ibra melawan. “Aku mendatanginya dan menghajarnya, namun sepuluh menit kemudian kami merangkul satu sama lain,” tulis Ibra mengenai kejadian itu dalam otobiografinya, I Am Zlatan.

Pertengkaran Ibra dengan Mido selesai saat itu juga. Namun hukuman tetap harus diberikan. Mido yang dianggap bersalah dihukum berlatih dan bermain dengan kesebelasan cadangan selama beberapa lama. Ibra mengisi tempatnya di kesebelasan utama dan tidak tergantikan sejak saat itu. Berbeda dengan pertengkaran dengan Mido yang langsung selesai hari itu juga, perselisihan dengan Rafael van der Vaart tidak pernah selesai hingga saat ini.

Banyak rumor mengenai alasan pertengkaran Ibra dan Van der Vaart; dari sama-sama ingin menjadi pusat perhatian media hingga cinta segitiga yang melibatkan kekasih Van der Vaart, Sylvie Meis. Apa pun masalahnya, puncak pertengkaran terjadi pada 18 Agustus 2004 ketika Swedia berhadapan dengan Belanda.



Injakan Ibra membuat Van der Vaart menderita cedera. Sang kapten Ajax menuduh Ibra melakukannya dengan dengaja. Keduanya bertemu beberapa hari kemudian di markas latihan, dengan Koeman sebagai penengah. Van der Vaart meminta penjelasan dan permintaan maaf. Ia tidak mendapatkannya.

“Jika kau menuduhku lagi,” semprot Ibra. “Aku akan patahkan kedua kakimu dan kali ini aku akan melakukannya dengan sengaja. Kedua pemain sama-sama dipertahankan di kesebelasan utama, tidak diturunkan ke kesebelasan cadangan. Namun pemecahan masalah tetap dicari. Dan ketika tawaran dari Juventus datang pada hari penutupan bursa transfer, Ajax menerimanya.

Apa pun pemicunya, pertengkaran dengan rekan satu kesebelasan tetaplah pertengkaran. Cara penyelesaiannya bisa bermacam-macam, dan hasil akhirnya yang hanya dua – berdamai atau tidak – tetap tergantung kepada mereka yang terlibat.

Komentar