Sepakbola Indonesia Sehat atau Sakit?

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Sepakbola Indonesia Sehat atau Sakit?

Beberapa pekan lalu, saya bertugas di Jakarta selama empat hari. Sekembalinya ke Bandung, saya merasakan tubuh saya tidak dalam kondisi yang baik. Pilek, bersin, batuk, sampai demam saya rasakan saat itu. Namun saya tak terlalu mempedulikannya dan tetap beraktifitas seperti biasa.

Beberapa hari setelahnya, saya bertemu dengan pacar saya. Pacar saya khawatir bukan kepalang melihat wajah saya yang menurutnya sangat menunjukkan bahwa saya sedang dalam kondisi tidak baik. Dengan segala perhatiannya, saya pun disarankan untuk segera memeriksakannya ke dokter.

Namun saya tak menuruti sarannya tersebut dengan dalih sakit yang saya rasakan ini bukan suatu masalah besar. Apalagi saya tak memiliki riwayat menderita sakit yang mengharuskan saya memeriksakan kondisi saya ke dokter. Ya, selama 24 tahun hidup, penyakit-penyakit yang saya alami hanyalah penyakit ringan seperti pilek, batuk, bersin, atau pegal-pegal, yang bisa sembuh dengan sendirinya selama tidak bekerja atau beraktifitas terlalu berat. Tak pernah saya mengalami DBD, tipus, atau penyakit-penyakit lain yang membuat saya harus beristirahat total untuk periode waktu tertentu.

Karena itulah saat saya sakit kemarin, saya menganggapnya bukan sakit yang harus ditanggapi secara serius. Lagipula saya pun sudah lama sekali, bahkan sudah lupa, kapan terakhir kali pergi ke dokter. Sebagai orang yang tak merokok dan rajin berolahraga, saya sangat percaya diri bahwa kekebalan dalam tubuh saya bisa menandingi rasa sakit yang saya alami saat itu. Maka perdebatan saya dan pacar saya pun berakhir dengan keputusan saya tidak memeriksakan diri ke dokter.

Beberapa hari berselang, sakit yang saya alami masih menghinggapi tubuh saya. Batuk dan pilek telah hilang, namun kini rasa mual dan pusing mulai menggerayangi. Demam tinggi pun saya rasakan saat malam hari. Lebih parah lagi, saat tidur saya seringkali merasakan lemas pada otot kaki saya.

Saya tentunya tak menganggap hal tersebut sebagai hal serius. Saya tetap menjalani aktifitas saya seperti biasanya, membuat artikel di kantor panditfootball. Situasi ini pun terus berlangsung untuk beberapa hari berikutnya.

Namun ternyata rasa sakit yang saya alami itu tak kunjung hilang. Bahkan lebih buruk, rasa sakit tersebut mulai mengganggu aktifitas saya. Kegiatan membuat artikel menjadi terhambat karena rasa sakit, khususnya pusing dan mual, membuat saya tak bisa berpikir dengan maksimal.

Selama sakit ini, saya terus mengabarkan kondisi saya kepada pacar saya. Pada pertemuan berikutnya dengan pacar saya pun saya masih dengan kondisi tak jauh berbeda. Meski saya masih menganggap sakit yang saya derita itu bukan masalah besar, pacar saya keukeuh memaksa saya untuk memeriksakan diri ke dokter. Menurutnya, tanda-tanda sakit sangat terlihat dalam diri saya. Akhirnya untuk menyenangkannya dan membuktikan bahwa saya tidak apa-apa, saya dan pacar saya pun mengunjungi dokter.

Keesokan harinya, saya bersamanya mendatangi sebuah klinik. Sebelum diperiksa, saya bercerita tentang apa yang saya rasakan terlebih dahulu pada sang dokter. Dan mengacu pada cerita saya, sang dokter menduga bahwa saya terkena tipus.

Setelah diperiksa dan diambil sampel darah, ternyata terdapat salmonella paratyphi A dalam tubuh saya. Bakteri ini adalah bakteri sumber dari penyakit tipus. Karena saya ternyata positif tipus, saya pun diharuskan istirahat total oleh sang dokter agar sakit yang saya derita ini tak bertambah parah.

Beruntung saya menuruti saran pacar saya untuk memeriksakan ke dokter. Karena jika penyakit saya ini dibiarkan, penyakit saya ini bisa lebih parah seperti misalnya mengalami pendarahan saluran cerna, saluran cerna robek, gangguan pada sejumlah organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati, kandung empedu, dan ginjal, pembesaran hati, hingga pembesaran limpa. Tipus memang disebabkan oleh saluran pencernaan yang terganggu.

***

Jika melihat dengan apa yang terjadi dengan sepakbola Indonesia saat ini, pengalaman saya di atas bisa diibaratkan dengan situasi terkini pada sepakbola Indonesia. Saya diibaratkan sebagai PSSI, pacar saya diperankan oleh pemerintah dalam hal ini Kemenpora, sementara sang dokter diperankan oleh FIFA.

PSSI merasa bahwa dirinya sehat, tak ada masalah yang terjadi dalam organisasinya. Namun pemerintah merasa adanya tunggakan gaji pemain, sepakbola gajah, dan minimnya prestasi adalah tanda-tanda bahwa PSSI sedang ‘sakit’yang mana jika dibiarkan bisa menjadi lebih parah.

Di sinilah kemudian FIFA muncul dengan sanksinya. Atas kisruh antara PSSI dan pemerintah Indonesia tersebut, FIFA lantas menghukum PSSI yang mengakibatkan sepakbola Indonesia harus istirahat total.

Tulisan ini terinspirasi dari komentar mantan manajer Persepam Madura, Achsanul Qosasi, di Goal yang berkata, "sepakbola Indonesia sedang sakit. Cara terbaik untuk sembuh, yaitu menyadari bahwa kita sedang sakit."

Lalu bagaimana caranya agar FIFA memperbolehkan sepakbola Indonesia kembali beraktifitas? Ada dua opsi yang bisa dipilih. Yang pertama, pemerintah Indonesia harus menganggap PSSI sehat dan mencabut vonis ‘sakit’ terhadap keorganisasian PSSI. Kedua, PSSI harus sadar diri bahwa organisasi mereka sedang sakit dan memanfaatkan waktu istirahat ini [sanksi FIFA] untuk menyembuhkan penyakit-penyakit yang ada di dalam sepakbola Indonesia, seperti yang dituduhkan Kemenpora. Opsi mana yang akan dipilih sepakbola Indonesia?

By the way, saat saya divonis tipus oleh sang dokter, saya kemudian beristirahat total, untuk sementara tidak beraktifitas seperti bekerja sebagaimana yang saya lakukan di hari biasanya. Yah walaupun harus melewati hari-hari yang berat, di mana harus memakan makanan tertentu, jangan banyak bergerak, harus banyak minum air putih dan persyaratan-persyaratan lainnya yang menyusahkan, alhamdulillah saya sudah bisa kembali beraktifitas seperti sedia kala sepekan kemudian, waktu yang tergolong singkat untuk penderita tipus.

Pesan moral dalam artikel ini:

1. Ada dua opsi yang bisa dilakukan sepakbola Indonesia agar sanksi FIFA dicabut

2. Anggapan pada diri sendiri bisa keliru

3. Punya pacar perhatian itu anugerah :p


foto: rps.org

Komentar