Kedigdayaan NEC Nijmegen di Jupiler League

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Kedigdayaan NEC Nijmegen di Jupiler League

Tidak hanya menghasilkan juara, beberapa kompetisi Eropa juga telah menghasilkan beberapa kesebelasan yang promosi ke level yang lebih tinggi.

Selalu ada cerita menarik dari kesebelasan promosi. Di Italia, ada Carpi yang berjuang bangkit dari kebangkrutan dan gempa, hingga untuk pertama kalinya berlaga di Serie A. Di Inggris, AFC Bournemouth pun akan menjalani musim pertamanya bermain di Liga Primer pada musim depan. Dan kali ini, ada cerita menarik pula dari kesebelasan promosi asal Belanda: Nijmegen Eendracht Combinatie.

Kesebelasan yang akrab disapa NEC Nijmegen ini sudah dipastikan menjadi juara Jupiler League atau divisi dua pada piramida kompetisi liga Belanda. Bahkan kepastian juara mereka sudah mereka peroleh ketika liga yang diikuti oleh 20 kesebelasan ini masih menyisakan enam pertandingan.

Kesebelasan yang bermarkas di Goffertstadion ini memang terlalu tangguh bagi kesebelasan divisi dua Belanda lainnya seperti Roda JC, De Graafschaft, VVV Venlo, Sparta Rotterdam, apalagi RKC Waalwijk. Ketangguhan NEC dibuktikan dengan raihan poin lebih dari 100 untuk menjadi juara Jupiler League.

Poin NEC yang masih menyisakan satu laga saat ini, 101 poin, merupakan yang tertinggi di antara divisi dua negara lainnya. Saat artikel ini dibuat, Carpi yang masih menyisakan tiga pertandingan, hanya mampu mengumpulkan 78 poin di mana Serie B diikuti oleh 22 kesebelasan.  Bournemouth, menjadi juara setelah mengumpulkan 90 poin dari 46 pertandingan.

Pun begitu dengan poin maksimal yang akan diraih Real Betis (Segunda Division), FC Ingolstadt (Bundesliga 2), dan ES Troyes (Ligue 2) yang masing-masing tengah memimpin klasemen. Di antara mereka, tak ada kesebelasan yang akan mampu meraih poin hingga 100 seperti yang ditorehkan NEC dengan pertandingan sisa yang mereka miliki.

Skuat besutan Ruud Brood ini memimpin klasemen sejak pekan ke-6. Sempat memiliki poin sama dengan Roda JC, baru pada pekan ke-9 NEC memimpin klasemen sendirian. Total dalam 37 pertandingan yang telah dijalani, NEC mengemas 33 kemenangan dan dua hasil seri, serta dua kali menderita kekalahan.

Kekuatan NEC musim ini menggila karena para pemain anyar yang baru mereka datangkan pada awal musim. Sebanyak enam pemain anyar langsung menjadi pilihan utama sang pelatih, Brood, dan langsung tampil mengesankan bagi NEC.

Pengaruh paling besar ditunjukkan oleh trio penyerang mereka, Sjoerd Ars, Christian Santos, dan Anthony Limbombe. Total 64 gol lahir dari kaki ketiganya dari total 99 gol yang diciptakan NEC. Ars memimpin pencetak gol terbanyak Jupiler League dengan 27 gol. Diikuti oleh Santos dengan 23 gol.

Perayaan Sjoerd Ars, pencetak gol terbanyak Jupiler League (via: voetbal.com)
Perayaan gol Sjoerd Ars saat membobol gawang Jong Twente (via: voetbal.com)

NEC Kesebelasan yang Dihormati

Sebenarnya wajar jika NEC begitu digdaya di Jupiler League. Selain karena telah bertahan di Eredivisie, divisi teratas liga Belanda, selama hampir 30 musim. NEC pun merupakan salah satu kesebelasan tertua dan cukup dihormati di Belanda.

Ya, jika Carpi dan Bournemouth baru pertama kalinya promosi ke divisi teratas, NEC sudah malang melintang di Eredivisie. NEC berkompetisi di Eredivisie sejak musim 1967/1968. Sempat semusim kembali bermain di Jupiler League pada 1974-1975, NEC kembali bermain di Eredivisie pada 1975-1976 hingga kembali terdegradasi pada 2013-2014.

Dalam sejarahnya, butuh perjalanan panjang bagi NEC untuk bermain di kompetisi teratas liga Belanda. Apalagi Nijmegen kota asal NEC, merupakan termasuk kota miskin. Tak seperti kesebelasan Belanda lainnya yang digagas oleh perusahaan atau adanya sponsor, NEC dibentuk oleh sekumpulan orang yang hanya hobi bermain sepakbola.

Pada 15 November 1900, sejumlah pemuda yang senang bermain sepakbola tersebut memutuskan untuk membuat kesebelasan. Lantas mereka meminta sumbangan pada seluruh kota sebagai modal untuk membentuk klub mereka yang bernama ‘Eendracht’.

eendracht

Sumbangan sebesar dua sen setiap minggunya selalu mereka dapatkan. Uang tersebut mereka kumpulkan dan biasanya digunakan untuk membeli bola baru dari waktu ke waktu.

Pada 1903, terbentuk Asosiasi Sepakbola Nijmegen yang kemudian mengadakan kompetisi antar kesebelasan yang berlaga di kota Nijmegen. Dan Eendracht keluar sebagai juara pada kompetisi pertamanya. Inilah yang membuat Eendracht kemudian menjadi lebih serius perihal keorganisasian. Apalagi setelah dua tahun kemudian mereka promosi ke divisi dua Liga Belanda.

Semakin dikenalnya kekuatan Eendracht membuat kesebelasan kota bernama Nijmegen mengajak untuk bergabung pada April 1910. Nijmegen sendiri sebenarnya merupakan kesebelasan yang saat itu masih berusia dua tahun. Namun karena kesamaan visi, yaitu ingin mengangkat sepakbola kota Nijmegen, kesepakatan tercipta. Nama Nijmegen Eendracht Combinatie pun menjadi nama baru kesebelasan asal kota Nijmegen ini.

Namun saat Koninklijke Nederlandse Voetbalbond (KNVB), federasi sepakbola Belanda menggagas sepakbola profesional dan mengorganisir kembali struktur liga Belanda pada 1954, NEC tengah dirundung masalah. NEC saat itu tak memiliki finansial yang kuat dan terancam tetap menjadi klub amatir, namun kemudian dapat diselamatkan 11 jam kemudian setelah kembali mencari dana lewat sumbangan masyarakat kota.

Masyarakat Nijmegen memang begitu menggilai sepakbola. Goffertstadion yang sempat berkapasitas 18 ribu penonton, memiliki rata-rata jumlah penonton sebesar 14.000. Pada awal tahun 1970-an, tiket pertandingan stadion ini pernah sold out.

Militansi pendukung NEC terlihat saat NEC menjalani laga tandang. Ribuan pendukung NEC kerap mendampingi kesebelasan kesayangannya tersebut saat melakoni partai tandang. Saat pertama kali lolos ke UEFA Cup pada 2003, ribuan pendukung NEC menyemuti kandang RKC Waalwijk. Sementara lima ribu lainnya merayakan kemenangan di luar stadion tersebut. Belum lagi 25 ribu masyarkat Nijmegen yang berpesta saat NEC dipastikan berlaga di UEFA Cup.

Meski belum pernah menjadi juara Eredivisie, NEC dihormati karena sepakbolanya yang begitu populer di Nijmegen. Bahkan pada musim 2008-2009, Franz Beckenbauer terkagum-kagum pada suporter NEC ketika yang mendapati kandang Hamburg SV dihadiri oleh 4.500 pendukung NEC. Menurutnya, ia belum pernah melihat pendukung kesebelasan tamu sebanyak itu yang hadir mendukung kesebelasan pujaannya saat menjalani partai tandang.

Pendukung NEC Nijmegen
Pendukung NEC Nijmegen

Dengan kegilaan masyarakat kota Nijmegen-nya terhadap sepakbola inilah yang menjadikan kesebelasan yang pernah diarsiteki Wiel Coerver ini begitu dihormati di Belanda. Ini pula yang menjadikan sejumlah pemain berkualitas tetap mau bermain untuk NEC meski berkompetisi di divisi dua pada musim ini.

Musim depan, NEC akan kembali ke Eredivisie. Mungkin masih jauh untuk menjadi penantang raja Belanda seperti Ajax Amsterdam atau PSV Eindhoven yang baru saja menjadi juara Eredivise. Tapi setidaknya, NEC telah membuktikan diri bahwa Jupiler League bukan lagi tempatnya. Mereka siap terus bertahan di Eredivisie.

Komentar