Beda Cara Menghasilkan Kekayaan Antara Mayweather dan Ronaldo

Cerita

by Abimanyu Bimantoro

Abimanyu Bimantoro

Football Analyst | Promising Sports Brand Strategist | Liverpool #YNWA

Beda Cara Menghasilkan Kekayaan Antara Mayweather dan Ronaldo

Esok (3/5) pagi waktu Indonesia, pertandingan tinju termahal sepanjang sejarah akan digelar. Pertandingan tersebut akan mempertemukan dua petinju bernama besar yang menguasai kelas welter: Floyd Mayweather Jr. dan Manny Pacquiao. Selain tangguh di atas ring, keduanya juga masuk dalam daftar 20 besar atlet dengan pemasukan termahal di dunia saat ini.

Mayweather bahkan tercatat sebagai atlet dengan pemasukan termahal di dunia sejak 2013. Ketika itu, dia berhasil menggeser atlet basket Amerika, LeBron James, sebagai atlet dengan pemasukan terbesar. Pada 2013, Mayweather mendapat bayaran $90 juta dalam satu tahun. Hingga kini, status Mayweather sebagai atlet termahal di dunia masih belum berubah. Menurut majalah bisnis, Forbes, pemasukan Mayweather kian meningkat menjadi $105 juta dalam satu tahun.

Bintang Real Madrid sekaligus kapten tim nasional Portugal, Cristiano Ronaldo, menjadi atlet yang berada paling dekat dengan Mayweather saat ini. Ronaldo tercatat memiliki pemasukan sebesar $80 juta per tahunnya. Sedangkan LeBron James yang sempat menjadi atlet dengan bayaran termahal kini berada di peringkat ketiga dengan $72,3 juta per tahun. Disusul kemudian oleh rival utama dari Ronaldo di sepakbola, Lionel Messi yang menerima bayaran $64,7 juta per tahunnya.

Sementara itu, Pacquiao, berada di urutan ke-11 atlet dengan bayaran termahal versi Forbes. Petinju  asal Filipina ini menerima bayaran sebesar $41,8 juta dalam satu tahun.

Namun, jika kita melihat lebih dalam dari angka-angka yang disajikan oleh Forbes ini, terdapat satu hal yang menarik untuk dicermati dari pemasukan atlet-atlet ini. Ternyata, terdapat perbedaan antara pemasukan yang diterima oleh Ronaldo dan Messi dengan pemasukan yang diterima oleh Mayweather dan Pacquiao.

Dari total pemasukan yang diterima Messi dan Ronaldo, merupakan hasil bayaran yang didapat dari gaji dan endorsement yang mereka lakukan. Bisa dikatakan persentasenya berbanding antara 30-40% dari endorsement dan sisanya dari gaji. Hal ini berbeda dengan apa yang diterima oleh Mayweather dan Pacqiao. Hampir 100% dari pemasukan yang mereka terima berasal dari gaji atau bayaran. Hanya Pacquiao yang memiliki pemasukan dari endorsement sebesar $0,8 juta yang artinya tidak sampai 1% dari total pemasukannya.

forbes top rich athlete

Hal ini menunjukkan adanya perbedaan antara pemasukan yang diterima oleh petinju dengan pemain sepakbola. Atlet-atlet besar sepakbola biasanya akan menjalin banyak kerjasama dengan berbagai perusahaan untuk mengiklankan produk dari perusahaan tersebut. Banyaknya jumlah fans dari pesepakbola, memberikan daya tarik tersendiri bagi perusahaan untuk jasa pemain sepakbola sebagai bintang iklan produknya.

Berbeda dengan petinju. Banyak perusahaan yang tidak merasa cocok dengan sosok seorang petinju untuk dijadikan bintang iklan produknya. Hal ini disampaikan oleh Stephen Greyser, seorang profesor dari Harvard Business School yang ahli di bidang bisnis olahraga. Greyser mengatakan, “Banyak perusahaan tidak merasa cocok dengan sosok yang tergambar di benak masyarakat tentang seorang petinju.”

Sebagai contoh, mantan petinju terkenal dunia, Mike Tyson, pada masa jayanya tidak memiliki cukup banyak kontrak kerja sama dengan perusahaan untuk menjadi bintang iklan. Hal ini disebabkan, terdapat beberapa catatan buruk di balik prestasi luar biasa yang ia capai selama karir; dari mulai kasus pemerkosaan hingga kelakuannya saat mengigit kuping Evander Holyfield di atas ring. Tentu saja sulit perusahaan untuk mengontrak bintang iklan dengan catatan buruk seperti itu. Memang ada beberapa perusahaan yang menggunakan jasa Tyson sebagai bintang iklan, tapi bisa dikatakan jumlahnya terlalu sedikit jika dibandingkan dengan prestasi yang dicapainya.

Hal ini berbeda dengan pemain sepakbola. Fans Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi bukan sekedar fans yang senang dengan permainan Ronaldo di lapangan hijau, melainkan juga dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mengidolakan bintang sepakbola sebagai sosok yang ingin ditiru dalam hal apapun.

Hal ini terbentuk dari citra positif yang dibangun oleh Ronaldo dan Messi dalam kehidupannya, sehingga banyak orang yang ingin mengikuti gaya hidup mereka dalam berbagai hal.

Meski, tentu saja, tetap ada pengecualian dalam kasus ini. Beberapa petinju ada juga yang berhasil menjaga nama baiknya hingga mampu melakukan kerja sama dengan banyak perusahaan. Mantan petinju asal Meksiko, Oscar De La Hoya, menjadi petinju yang cukup sukses membangun citra positif. Meski berprofesi sebagai petinju, De La Hoya dinilai memiliki gaya hidup yang terlihat baik. Hal ini kemudian membuat banyak perusahaan yang tertarik menggunakan jasanya sebagai bintang iklan.

Manny Pacqiao juga sebenarnya memiliki citra yang baik. Terlebih di negaranya sendiri, di Filipina, Pacqiao bahkan dianggap bak pahlawan di negara Filipina atas prestasi yang dicapainya. Bahkan dikabarkan, seluruh bioskop di Filipina tidak akan menayangkan film pada saat pertandingan Pacqiao melawan Mayweather besok.

Atau ada juga nama yang tidak jauh dari kita. Bintang tinju asal Indonesia, Chris John juga sukses membangun citra positif sebagai petinju. Maka tidak heran jika Chris John juga berhasil menjalin kerjasama dengan beberapa produk.

Membangun citra yang positif memang sangat penting bagi seorang atlet. Karena harus disadari bahwa masa karir seorang atlet tidaklah lama. Rata-rata mereka harus mengakhiri karirnya sebagai atlet di usia 35-40 tahun. Hal ini membuat mereka harus memiliki rencana saat mereka sudah tidak menjadi atlet.

Citra yang positif akan menjadi jalan pembuka tersendiri bagi kehidupan atlet setelah masa pensiun. Adanya perusahaan yang bersedia menggunakan nama besar sang atlet akan menjadi sumber pemasukan baru setelah ia tidak lagi bisa beraksi di lapangan. Lihatlah bagaimana David Beckham yang sangat sukses menbangun citranya hingga tetap bisa meningkatkan karirnya meski sudah tidak bermain. Hal inilah yang harus dipikirkan atlet jika tidak ingin kesulitan setelah masa pensiun tiba.

Komentar