Hasselbaink, Memilih Burton Ketimbang Jadi Komentator

Cerita

by Frasetya Vady Aditya 178599

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Hasselbaink, Memilih Burton Ketimbang Jadi Komentator

Dengan masa karir yang tidak begitu panjang, setiap pesepakbola harus menyiapkan apa yang akan mereka lakukan setelah pensiun nanti. Sebagian sudah ancang-ancang mengikuti kursus kepelatihan, sebagian lagi mulai les vokal agar nada bicaranya merdu mengomentari kejadian di lapangan.

Bagi Jimmy Floyd Hasselbaink, terlibat langsung di atas lapangan hijau bukan hanya pilihan, melainkan sudah jalan hidup. Ia tak ragu untuk menjejak karir sebagai pelatih, meski levelnya hanya di divisi empat liga Inggris. Hasselbaink sudah menangani Burton Albion sejak setahun lalu.

Di Burton, sejumlah pengalaman dan tantangan yang tidak ia dapat dalam kursus lisensi kepelatihan terjadi sejak hari pertama. Latihan perdananya bersama kesebelasan berakhir dengan patahnya tulang kiper utama mereka. Lalu, beberapa hari setelah pertandingan pertamanya, Burton diselimuti rasa emosional yang luar biasa. Pemain kesebelasan perempuan Burton, Lydia Bennet, meninggal dunia.

“Itu sangat sulit. Satu hal yang bisa aku lakukan adalah pergi ke pemakaman mewakili kesebelasan. Aku masih memiliki armband hitam Lydia yang tergantung di kantor. Kami melihatnya setiap hari. Itu menyadarkan Anda hal-hal yang nyata dalam hidup, saat kita lupa,” kata Hasselbaink dalam wawancara dengan Dailymail.

Soal mengapa ia memilih Burton, Hasselbaink menjawab dengan tegas. Jika melihat hitung-hitungan upah yang ia dapat, jelas gajinya di Burton tak seberapa ketimbang jika ia memilih menjadi komentator yang muncul tiap pekannya di televisi.

“Sangat mudah duduk dan menilai seseorang,” katanya lagi sembari menyinggung penolakannya menjadi pundit, “Anda tidak berada dalam tekanan. Aku lebih memilih bersama pemain, melihat mereka tersenyum, berkeringat, dan suatu saat, menguap. Aku mencintainya. Ini adalah hal terbaik kedua di sepakbola, setelah menjadi pesepakbola.”

Selain itu, dukungan dari pemilik serta keadaan kesebelasan itu sendiri menjadi faktor utama. Hasselbaink menganggap Burton sebagai kesebelasan yang stabil dan memiliki ambisi. Mereka juga memiliki skuat yang baik, dengan fasilitas kesebelasan yang lengkap.

Ia pun tidak mempersoalkan Burton yang bermain di tingkat keempat. Menurutnya, ia hanya mencari pekerjaan yang sesuai dengan dirinya. Ia pun menunjuk Swansea sebagai kesebelasan yang tidak kehilangan identitasnya.

“Kami masih jauh, sangat jauh dengan Swansea. Namun, mereka memberi harapan bagi kesebelasan kecil bagaimana mereka begitu terstruktur dan stabil.”

Meskipun lahir di Suriname, Hasselbaink adalah anggota kesebelasan negara Belanda. Meski hanya dilatih selama November 2000 hingga Januari 2002 di kesebelasan negara Belanda, Hasselbaink sudah fasih menyebut siapa pelatih favoritnya: Louis van Gaal.

Sebagai manajer, ia pun meneladani Van Gaal sebagai sosok panutannya. Menurutnya, Van Gaal adalah pelatih yang langsung pada tujuan. Ia mengatakan secara langsung dan jelas apa yang ia mau. “Dia adalah orang yang sangat dicintai dan pelatih top, salah satu yang terbaik di dunia.”

Salah Pilih Kesebelasan?

Karir puncak Hasselbaink barangkali saat ia membela Atletico Madrid pada 1999/2000. Meskipun hanya satu musim, ia terbilang produktif dengan mencetak 24 gol dari 34 penampilan. Hal tersebut membuat Chelsea tertarik.

Penggemar Chelsea tentu tak ada yang tak kenal dengan Hasselbaink. Ia hadir saat Chelsea tengah berlari mengejar dominasi Arsenal dan Manchester United pada awal 2000-an. Hasselbaink pun menjadi incaran sejumlah kesebelasan besar, tapi ia lebih memilih berlabuh di Stamford Bridge.

Kala itu, Chelsea tengah giat-giatnya membeli pemain berkualitas. Nama-nama seperti Carlo Cudicini, dan Eidur Gudjohnsen sama-sama direkrut dalam waktu yang sama dengan Hasselbaink. Dengan transfer 15 juta pounds, ia menjadi pemain dengan transfer termahal Chelsea dan menyamai rekor transfer Alan Shearer  di Liga Primer Inggris kala itu (BBC).

Setelah dibeli oleh Roman Abramovich pada Juli 2003, sejumlah penyerang berkualitas  didatangkan. Damien Duff, Hernan Crespo, Juan Sebastian Veron, hingga Adrian Mutu bergabung dengan total banderol 76 juta pounds (Transfermarkt).

Menit bermain Hasselbaink sudah menurun sejak 2002 kala pelatih Chelsea saat itu, Claudio Ranieri, memutuskan untuk melakukan kebijakan rotasi. Gianfranco Zola menjadi fokus utama, dan Hasselbaink lebih sering sebagai pengganti.

Pada Januari 2003, Pelatih Barcelona, Louis van Gaal sudah mencapai kata sepakat untuk mendatangkan Hasselbaink ke Camp Nou dengan banderol delapan juta pounds. Namun, kesepakatan tersebut tak pernah terjadi karena Van Gaal lebih dahulu dipecat dari kursi kepelatihan Barcelona.

Pada Juli 2004, Hasselbaink menolak tawaran AC Milan karena lebih memilih untuk tetap bermain di Inggris. Ia akhirnya memilih Middlesbrough dengan alasan kesebelasan tersebut akan potensial melihat sejumlah pemain yang mereka datangkan seperti Ray Parlour, Boudewin Zenden, dan Mark Viduka.

Keputusan Hasselbaink bermain di Inggris agaknya tidak benar-benar tepat. Sejak saat itu, di Middlesbrough, Charlton Athletic, dan Cardiff City, catatan golnya menurun, pun dengan jumlah penampilannya.

Semoga saja keputusannya memilih menjadi pelatih ketimbang menjadi pundit tidak juga salah. Dari Hasselbaink kita bisa meneladani bagaimana ia lebih memilih mendedikasikan hidupnya di atas lapangan, menjadi pelatih, dan bukan duduk di sofa empuk dalam ruangan berpendingin. Hasselbaink juga seperti ingin membela pelatih lain yang kerap menjadi sasaran kritik pundit karena mereka tidak benar-benar mengerti kondisi sebenarnya di atas lapangan.

Komentar