Karena Masalah yang Menahun, Liga Yunani Pun Dihentikan

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Karena Masalah yang Menahun, Liga Yunani Pun Dihentikan

Pemerintah Yunani menghentikan sementara kompetisi Liga Super Yunani pada Rabu (25/2) kemarin. Penyebabnya, pertandingan antara Panathinaikos dan Olympiakos akhir pekan lalu, berakhir ricuh. Keputusan ini diambil setelah pemerintahan baru Yunani mengadakan rapat langsung dengan Kementerian Olahraga.

Sepakbola agaknya bukan lagi hal yang esensial bagi Yunani. Secara sejarah, mereka bukanlah negara yang kuat soal sepakbola. Pengecualian jelas ditujukan untuk prestasi mereka saat menjuarai Piala Eropa 2004. Namun, selain prestasi tersebut, tidak ada yang bisa dibanggakan dari sepakbola Yunani.

Sepakbola Yunani lekat dengan kekerasan. Ini merupakan pola yang mirip dengan negara-negara di Eropa Selatan lainnya seperti Italia dan Turki. Hampir semua kesebelasan memiliki kelompok suporter garis keras. Kehadiran mereka jarang diusik, karena mereka jadi  lumbung uang dari mulai penjualan pernak pernik, hingga tiket pertandingan.

Pertandingan derby ataupun pertandingan musuh bebuyutan, biasanya diiringi dengan kekhawatiran terjadinya kerusuhan. Salah satu contohnya adalah pertandingan Panathinaikos dan Olympiacos tersebut.

Gara-Gara Panathinaikos dan Olympiakos


Panathinaikos dan Olympiakos merupakan dua kesebelasan terbaik di Yunani. Setiap musimnya, mereka bergantian menjadi juara Liga Yunani. Rivalitas yang begitu sengit pun menyebar kepada suporter kedua tim.

Dalam laga panas yang dihelat Minggu (22/2) lalu, suporter Panathinaikos mulai melancarkan aksinya. Mereka melemparkan batu, petasan, dan suar ke arah pejabat kesebelasan Olympiakos, termasuk sang presiden kesebelasan, Vangelis Marinaikis.

Meskipun demikian, pertandingan masih tetap dilanjutkan. Pada babak kedua, suar mengenai bahu pemain Olympiakos, Pajtim Kasami. Kebrutalan suporter Panathinaikos tidak berhenti sampai di situ. Mereka pun melemparkan kursi ke arah pelatih Olympiakos, Vitor Pereira. Tak puas, puluhan penggemar lantas  memasuki lapangan. Polisi pun menembakkan gas air mata yang membuat suasana kian mencekam.

Pembekuan ini merupakan yang kedua kalinya pada musim ini. Pelarangan ini berlaku bagi tiga divisi teratas kompetisi Liga Yunani.

Pihak Olympiakos tidak senang dengan pembekuan ini. Menurut mereka, seharusnya cukup Panathinaikos yang diberi sanksi, dan bukan malah membekukan semua kompetisi.

Nyatanya perkelahian juga merembet dan menjadi masalah bagi presiden kedua kesebelasan. Presiden Panathinaikos, Giannis Alafouzos, geram karena asistennya, Vasilis Konstantinou dipukul oleh pengawal Marinakis, yang membuat bibirnya robek.

Mencontoh Inggris dan Turki


Pemerintah Yunani ingin kompetisi sepakbola mereka jauh lebih tertib. Salah satu caranya adalah dengan memasang CCTV di dalam dan luar stadion, serta menerapkan penggunaan tiket elektronik.

Lewat CCTV, aparat berwenang bisa mengidentifikasi pelaku kerusuhan dan menangkapnya jika ditemukan bukti-bukti yang cukup. Sementara tiket elektronik mencontoh apa yang dilakukan Turki lewat passolig. Penggemar nantinya dimintai data pribadi sama seperti ketika membuka rekening di bank.

Lewat tiket elektronik, aparat juga bisa mengidentifikasi sekaligus melarang penggemar yang sering berbuat kerusuhan masuk ke stadion.

Kompetisi Liga Yunani sebenarnya tidak sebesar yang dibayangkan. Stadion-stadion megah, biasanya hanya terisi kurang dari setengahnya, itupun oleh pendukung garis keras. Kerusuhan menjadi hal yang biasa, baik itu antar suporter maupun suporter yang menantang polisi.

Saling lempar suar, kursi, menjadi pemandangan yang sepertinya biasa. Anda bisa mengeceknya di saluran Youtube betapa perilaku mereka jauh dari apa yang selama ini dibayangkan dari negeri para filsuf tersebut.

Krisis Keuangan


Yunani merupakan negara yang terkena dampak paling besar dari krisis keuangan pada 2008. Ini merupakan akumulasi dari krisis yang menimpa Yunani sejak awal 2000-an.

Krisis Yunani berkaitan dengan budaya pemerintahan yang korup. Perkara suap menyuap telah menjadi budaya. Indeks persepsi korupsi Yunani pun jauh di bawah kebanyakan negara Eropa. Yunani gagal mereformasi birokrasi di  segala lini pemerintahan.

Utang Yunani pun tidak bisa dibilang kecil. Sejak 1975, mereka membutuhkan banyak uang untuk membangun gedung dan infrastruktur. Utang ini makin menumpuk saat mereka membangun fasilitas megah untuk Olimpiade 2004.

Krisis ini mulai membuat semua kesebelasan peserta Liga Super Yunani memangkas pengeluaran. Mereka terpaksa memotong nilai kontrak sejumlah pemain, termasuk pemain bintang. Ini yang membuat terjadinya migrasi besar-besaran sejumlah pemain bintang ke liga di luar Yunani pada medio 2008-2014.

Panathinaikos dan Olympiakos menjadi yang terbanyak menjual pemain. Pada musim lalu saja, Panathinaikos bahkan melepas 21 pemain!

Bagi pemain sendiri, untuk urusan prestasi, bermain di Panathinaikos ataupun Olympiakos adalah jawaban dari rasa haus akan prestasi. Namun, karena kondisi finansial yang tidak mendukung, serta atmosfer pertandingan yang tidak jarang mengancam diri mereka sendiri, hijrah ke luar Yunani adalah jawaban yang rasional.

Jika membandingkan prestasi, barangkali Kyriakos Papadopoulos tidak akan pernah mengecap babak 16 besar Liga Champions, andai ia tak pindah dari Olympiakos pada 2010 ke Schalke. Pun dengan trio Jose Holebas, Vasilis Torosidis, dan Kostas Manolas, yang tidak akan pernah bermain dalam level yang lebih tinggi dengan bermain di Roma.

**

Selain Piala Eropa 2004, tidak ada yang bisa dibanggakan dari sepakbola Yunani. Wajar rasanya pemerintah mengambil sikap tegas untuk—bahasa halusnya—menunda kompetisi. Kompetisi hanya memunculkan potensi kerusuhan yang jauh lebih besar jika masih dilanjutkan.

Perdana Menteri Yunani, Alexis Tsipras lewat deputi Menteri Olahraga, Stavros Kontonis menyatakan bahwa tidak mungkin melanjutkan kompetisi dalam kondisi dan situasi seperti ini. “Keputusan pemerintah terkait perlawanan terhadap kekerasan adalah definitif dan tidak dapat dibatalkan,” kata Kontonis.

Sementara itu, Presiden Liga Super Yunani, Giorgos Borovilos, menjelaskan kalau pemerintahan baru Yunani ingin mendiskusikan serta mengimplementasikan hukum yang berlaku.

“Pemerintah ingin pertandingan kembali dimulai sesegera mungkin, tapi untuk itu, mereka ingin melihat reaksi kita semua,” kata Borovilos.

Ya, semudah itu bagi Pemerintah Yunani untuk menunda kompetisi. Saat ada aturan yang dilanggar, mereka dengan tegas menjatuhkan hukuman. Hal ini juga berkat dukungan pengelola liga yang tidak membawa-bawa “ancaman FIFA” yang bisa menjatuhkan sanksi kepada Yunani.






Baca juga: Pertempuran Terbaru dalam “Derby the Eternal Enemies”

Ketika Budaya Korupsi Menghancurkan Sepakbola

Komentar