Pique dan Bagaimana Seorang Bek Melindungi Kekasihnya

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Pique dan Bagaimana Seorang Bek Melindungi Kekasihnya

Izinkan saya mengucap selamat ulang tahun untuk Gerard Piqué dan istrinya yang berusia sepuluh tahun lebih tua namun masih terlihat muda: Shakira Isabel Mebarak Ripoll. Kalian luar biasa.

Menurut Arsène Wenger, cara terbaik untuk melihat kepribadian seseorang adalah dengan cara membiarkan sosok yang bersangkutan bermain dengan caranya sendiri di dalam sebuah pertandingan sepakbola. Dengan kata lain, cara bermain di lapangan adalah cermin terbaik untuk insan manapun. Sampai titik tertentu, saya merasa bahwa hal ini sukar diterima.

Cukup sering saya mendengar atau membaca testimoni bahwa Pemain A yang dilihat banyak mata di atas lapangan adalah sosok yang sama sekali berbeda di luar lapangan. Bahwa pemain A yang dikenal garang di lapangan, yang tidak ragu untuk melukai pemain lawan manapun yang mengancam keselamatan timnya, adalah sosok penyayang yang sangat lembut.

Namun dalam kasus Piqué, saya rasa Wenger benar adanya. Adalah Shakira sendiri yang mengungkap seperti apa Piqué sebenarnya. Seperti kepribadiannya di atas lapangan, kepada Shakira Piqué adalah sosok yang protektif. Sebagaimana ia membatasi pergerakan penyerang lawan, seperti itulah Piqué membuat Shakira tidak dapat bergerak bebas. Dan Shakira ternyata menyukainya.

“Bagus ketika kekasih Anda bersikap protektif kepada Anda. Ia adalah seorang pemain belakang. Ia mempertahankan gawang. Itulah tugasnya, dan karenanya ia tahu cara yang baik untuk melakukannya,” ujar Shakira.

Pemain belakang, seorang defender, bertugas memproteksi gawangnya dari kebobolan. Jangankan kebobolan, kalau bisa lawan tak bisa mendekati kotak penalti.

Ada banyak idiom yang lahir dari sikap protektif seorang bek terhadap gawangnya. Dari yang ideal ("pemain lawan boleh lewat, tapi bola jangan") sampai yang Machiavellian ("bola boleh lewat, asal jangan pemainnya yang lewat"). Seorang bek mestilah jadi kekasih yang protektif, bahkan posesif, kepada tiga pacarnya yang tinggi langsing (dua tiang dan satu mistar).

Saya bukan penggemar konsep saling memiliki. Dalam pandangan saya, tidak ada orang yang memiliki orang lain. No one belongs to anyone. Heran adalah reaksi pertama saya ketika Shakira mengungkap rasa sukanya terhadap batasan-batasan yang ditetapkan Piqué. Heran pula merupakan reaksi pertama saya ketika saya tahu bahwa pasangan ini memang saling membatasi.

Piqué tidak mengizinkan Shakira bekerja sama dengan pria manapun dalam video klipnya. Shakira, sebagai gantinya, tidak memperbolehkan Piqué bekerja sama dengan para model seksi. Keduanya nampak bahagia terhadap batasan-batasan yang ditetapkan oleh pasangannya, dan saya makin terheran-heran. At this point, I’m too afraid to ask.

Namun rasa terima kasih rasanya harus dihaturkan kepada Piqué. Jika Piqué tidak membatasi Shakira, mungkin tidak akan lahir sebuah video klip sensual yang melibatkan Rihanna di dalamnya.

“Saya suka bagaimana ia melindungi wilayahnya dan menghargai saya, bagaimana ia membiarkan Rihanna menjadi satu-satunya orang yang boleh menjamah paha saya,” aku Shakira.

Saya bukan pendukung FC Barcelona dan tim nasional Spanyol, dan karenanya saya tidak benar-benar peduli terhadap sifat protektif Piqué terhadap gawang-gawang yang ia lindungi. Saya tidak benar-benar peduli seberapa besar pengaruh Piqué terhadap keselamatan gawang Barcelona dan tim nasional Spanyol.

Saya tidak ingin terdengar naif. Namun kenyataan yang ada memang berkata bahwa pada akhirnya saya memiliki rasa kagum terhadap batasan-batasan yang diterapkan Piqué karena ia mampu membuktikan bahwa dari batasan, sebuah keindahan lahir. Bagi beberapa orang, itu mungkin berarti gelar juara yang banyak jumlahnya.

Bagi saya, itu berarti kolaborasi antara Shakira dan Rihanna dalam video klip “Can’t Remember to Forget You”. Coba kalau Shakira masih bisa beraksi dengan model pria....



Komentar