Hikayat Hooligans dari Cambridge

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Hikayat Hooligans dari Cambridge

Ketika Cambridge United  Football Club (CUFC) dijadwalkan akan menghadapi Manchester United pada Piala FA, nama Cambridge tentunya agak mencuri perhatian. Bagaimana tidak, nama Cambridge identik dengan sebuah universitas terkenal di mana hanya orang-orang dengan kepandaian tingkat tinggi-lah yang bisa menjadi mahasiswa di sana.

Tapi di Inggris, Cambridge United mendapat pandangan sebaliknya dari Universitas Cambridge. Kesebelasan yang berlaga di League Two ini sempat memiliki pendukung yang identik dengan pendukung Inggris yang sering melakukan kekerasan atau hooliganisme.

Pada tahun 1975, sejumlah pemuda pendukung Cambridge United membentuk Abbey Riots Squad (ARS). ARS ini selalu menghadiri pertandingan-pertandingan CUFC di mana pertandingan digelar. Mereka adalah pecinta CUFC fanatik sehingga tak pernah melewatkan away day.

Meski terselip arti ‘kerusuhan’ dalam namanya, nyatanya ARS tak melakukan tindakan-tindakan negatif saat mendukung CUFC. Mereka lebih sering menyanyikan chant-chant untuk menyemangati CUFC. Mungkin karena dukungan mereka-lah CUFC tampil baik sehingga promosi berturut-turut dari divisi empat ke divisi dua liga Inggris.

Namun di divisi dua tak seramah divisi tiga ataupun empat. Saat CUFC dikalahkan Stoke City di kandang, Abbey Stadium, para pendukung Stoke mengolok-olok pendukung CUFC. Dan itu bukan kejadian pertama, beberapa pertandingan berikutnya pun CUFC sering diejek suporter lawan karena kerap menerima kekalahan.

Dari sanalah rasa ingin membalas dendam muncul. Sebuah serangan terencana dilakukan ARS pada tahun 1978. 23 orang anggota ARS pun ditangkap oleh pihak kepolisian Inggris. Beberapa pentolannya ditangkap, ARS pun sempat bubar setelah insiden ini.

Pada pertengahan 1980an, seorang bernama Les Muryani kembali menghidupkan fans untuk kembali melakukan hal buruk. Les yang dijuluki ‘Sang Jenderal’ ini membuat keributan saat CUFC menghadapi Chelsea. Les memimpin beberapa mantan anggota ARS dalam serangan ini.

Menurut Jordan, salah satu pendiri ARS, pada situs matso.tv, setelah dua insiden ini para pendukung CUFC yang pernah dipenjara karena melakukan kekerasan atas pendukung kesebelasan lain, mayoritas dari mereka telah ‘kembali ke jalan yang benar’. Bahkan sebagian dari mereka tak lagi berkecimpung dalam dunia sepakbola.

Jordan sendiri mengatakan bahwa sejak 80an, CUFC telah bersih dari hooliganisme, “Tidak, hooliganisme sudah tak ada lagi di Cambridge hari ini. Kalian bisa tidur nyenyak.”

Namun dua kejadian di atas telah membuat pendukung CUFC mendapat pandangan negatif dari masyarakat Inggris. Bahkan hingga sekarang, jika ada satu-dua orang pendukung CUFC melakukan kejahatan, misal melakukan keributan di pub, media Inggris akan menuliskan bahwa hal tersebut merupakan tindakan hooliganisme CUFC.

foto: gopixpic.com

Komentar