Jordan Henderson: Pemain Pinggiran yang Jadi Tumpuan

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Jordan Henderson: Pemain Pinggiran yang Jadi Tumpuan

Dari dicap sebagai pemain gagal, gelandang Liverpool, Jordan Henderson, bisa bertransformasi sampai kemudian menjadi salah satu andalan The Reds. Sebagai gelandang yang memiliki tanggung jawab untuk bertahan dan menyerang, diperlukan campuran spesifikasi khusus dari bakat, kemampuan, kerja keras, dan juga... keinginan.

Beberapa musim lalu, setelah mengalami musim pertama yang tidak begitu fantastis di Liverpool, Henderson berjuang kembali sampai akhirnya sekarang bisa terus tampil reguler di tim utama. Gelandang box-to-box yang didatangkan dari Sunderland ini, sekarang malah terlihat sebagai pewaris tahta Steven Gerrard.

Seperti yang kita tahu, Gerrard menyatakan bahwa ia akan hengkang pada akhir musim ini dari Liverpool. Banyak pertanyaan muncul tentang siapa kapten dan pemimpin lini tengah Liverpool berikutnya. Tanpa menunggu lama, Brendan Rodgers langsung menjawabnya.

Pada awal musim ini, Henderson memang sempat diberi jabatan wakil kapten oleh Rodgers. “Dia seseorang yang mewakili kita semua. Dia dan Stevie (Gerrard) adalah kompas moral kelompok ini, bagaimana mereka berperilaku di dalam dan di luar lapangan, bagaimana mereka berlatih, bagaimana mereka bekerja. Jordan (Henderson) adalah wakil kapten Liverpool,” seperti yang dijelaskan oleh pelatih asal Irlandia Utara ini.

Awal yang sulit

Setelah menanggung beban kritik dari fans dan pundit di awal karirnya, Henderson harus berurusan dengan sejumlah masalah. Ia datang dari Sunderland dengan biaya 16 juta poundsterling, harga yang cukup mahal untuk pemuda berusia 21 tahun.

Henderson adalah buah bibir di Inggris sebelum ia pindah. Ia diberikan nomor punggung 10 oleh Sunderland. Hal tersebut menunjukkan jelas kualitasnya. Ia juga sempat diincar oleh Sir Alex Ferguson, meskipun Fergie tidak jadi mengontraknya lantaran menurutnya gaya berlarinya akan membuat banyak masalah cedera bagi Hendo di masa depan.

Tapi Hendo bergeming. Ia berkata, “Itu bukan masalah besar bagi saya. Saya tidak merasa terganggu ia mengatakan gaya berlari saya tidak benar. Banyak atlet akan bekerja pada beberapa hal seperti gaya berlari mereka untuk memastikan itu benar. Tapi gaya berlari saya sangat alami, tidak ada masalah untuk saya.”

Meskipun kemudian awal karirnya di Liverpool tidak berjalan mulus, ia pun sempat dibukakan pintu keluar dari Liverpool saat Rodgers baru datang. Namun, Hendo mencoba untuk membuktikan dirinya dan menolak pindah. Ia memutuskan untuk memperjuangkan tempatnya di Liverpool.

Tekanan yang besar

Untuk menerobos menjadi anggota tim utama saja pastinya sudah banyak menguras fisik dan mental. Hal ini tidak diketahui banyak orang, bahwa Hendo harus berurusan dengan tekanan keluarga yang besar juga.

Pada November 2013, ketika Liverpool sedang di atas angin untuk mengejar gelar Liga Primer, ayahnya didiagnosa menderita kanker. Namun, agar tidak menambah beban tekanan anaknya, Brian Henderson menjaga kerahasiaan penyakitnya sampai awal tahun 2014 ketika ia harus menjalani operasi untuk mengangkat kanker dari tenggorokannya.

Berbicara kepada Sunderland Echo tentang anaknya, Brian mengatakan bahwa semua orang di Liverpool sangat perhatian dengan Jordan. Satu-satunya hal yang Brian minta kepada anaknya adalah untuk terus menjaga performa terbaik dan itu akan menjadi lebih dari apa pun yang bisa ia lakukan untuk ayahnya.

Pada Piala Dunia 2014 lalu, pemuda 24 tahun asal Wearside ini sudah menjadi salah satu andalan di lini tengah tim nasional Inggris. Dengan staminanya yang tak pernah habis, Henderson telah berkembang menjadi seorang atlet yang fantastis.

Di awal musim ini Rodgers meminta khusus kepada Hendo untuk setidaknya membuat 10 gol, sangat jelas apa yang bos Liverpool ini harapkan dari gelandangnya tersebut.

Selama musim terakhir, visi dan kemampuan bertahannya sudah sangat berkembang. Untuk seseorang yang diejek oleh seluruh bangsa beberapa tahun yang lalu, Henderson telah membuat dirinya menjadi pemain yang lengkap untuk klub dan juga negaranya.

Jordan Henderson_

Kapten masa depan

Setelah kemenangan 1-0 Liverpool atas Sunderland, Rodgers sempat berkata: “Lihatlah kualitas, kepemimpinan, dan penguasaan bolanya. Dia adalah seorang pemuda yang fantastis. Ketika Steven (Gerrard) tidak di lapangan, ia adalah pemimpin yang nyata bagi kami. Tidak ada keraguan bahwa dia bisa menjadi kapten klub.”

Jika dibandingkan musim ke musim, kemampuan Henderson sudah banyak berkembang. Ia lebih sering bermain (jelas), ia memang baru mencetak 2 gol, tapi 6 buah assist serta 41 peluang yang ia ciptakan sangat menunjukkan segalanya.

Jika dibandingkan dengan Gerrard saja, yang sama-sama sudah menciptakan 41 peluang, ia sudah bisa disetarakan bahkan dilebihkan pada beberapa aspek.

Kemampuan bertahannya juga luar biasa, ia menciptakan 1,1 potongan bola setiap pertandingannya, hampir dua kali lipat dari yang Gerrard bisa ciptakan.

Pemuda asal Wearside ini sekarang sudah memiliki prospek karir yang cerah di Anfield. Pertanyaan tentang siapa suksesor Steven Gerrard di Liverpool pun sudah hampir dapat terjawab dengan singkat dan tepat, tanpa harus Rodgers mencarinya jauh-jauh.

Yang ia perlu lakukan hanyalah mempertahankan performanya, mencetak setidaknya 10 gol (seperti yang Rodgers minta), tidak cedera, dan musim depan ban kapten itu akan menjadi miliknya.

Grafis oleh: Dendy

Sumber gambar: Getty Images

Komentar